Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Meningkatkan Peran Pengurus Rukun Tetangga (RT) di Desa

Diskusi kelompok peserta pelatihan dalam memilah skala prioritas di tingkat Rukun Tetangga (RT).
Diskusi kelompok peserta pelatihan dalam memilah skala prioritas di tingkat Rukun Tetangga (RT). (sumber: dokumentasi lembaga)

Kendari (30/11) – Pengurus Rukun Tetangga (RT) seringkali tidak banyak yang diperhitungkan, apalagi mendapat pembekalan awal pada saat penunjukannya. Padahal menjadi pengurus RT, terutama ketua, merupakan sebuah amanah sosial yang terdekat dengan kehidupan masyarakat kita.

Kegelisahan itulah yang mendorong Yayasan IDRAP menyelenggarakan Penguatan Kapasitas Kelembagaan Rukun Tetangga (RT) dalam Perencanaan Pembangunan Desa. Bekerjasama dengan Yayasan Penabulu, pelatihan yang melibatkan 34 pengurus RT dari 18 desa mitra IDRAP diselenggarakan pada 26-30 November di Graha Carita, Kendari.

Para peserta pelatihan mengaku belum pernah mendapat pembekalan atau pelatihan tentang tugas serta perencanaan pembangunan.

Selama lima hari, peserta pelatihan yang berlatar belakang pengurus RT dan perangkat desa menerima materi pelatihan antara lain tentang peran dan fungsi RT berdasar regulasi nasional & daerah; potret kondisi kelembagaan RT; pemetaan potensi konflik dalam masyarakat, mengenal UU Desa; tahap perencanaan partisipatif dan penyusunan skala prioritas; serta studi lapangan dan analisis kondisi di Desa Lambangi. Materi-materi tersebut disampaikan secara partisipatif, dimana peserta didorong aktif merefleksikan keadaan di daerah masing-masing dan saling memberi solusi atas masalah yang terjadi.

“Saya sudah dua tahun menjabat sebagai kepala desa, baru sekarang mengerti apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang RT, hal ini belum pernah saya dapatkan sebelumnya baik dari kecamatan maupun pemda. Maka, pemahaman ini akan saya sampaikan kepada para RT dalam pertemuan desa yang akan segera saya lakukan sepulang dari pelatihan ini, ” tutur Kepala Desa Wamorapa La Ade.

Pernyataan ini juga kembali ditekankan oleh hampir semua peserta, “Jangankan peran, fungsi dan tugasnya, diberi arahan saja belum pernah, baru setelah mengikuti pelatihan ini saya tahu persis apa yang sebenarnya menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai RT,” tandas Ketua RT dari Desa Lambangi Ambo.

Beberapa pernyataan yang disampaikan oleh para peserta ini perlu menjadi cermin bahwa seringkali peran dan ketugasan di tingkat yang paling dekat dengan komunitas warga, banyak yang terlupakan, terlewati dan bahkan tidak disentuh sama sekali.

“Pemerintah maupun Pemerintah Daerah sibuk menerbitkan regulasi yang baru tentang desa. Tetapi hanya berhenti di ranah administrasi tata kelolanya saja, sehingga lupa jika banyak kelembagaan masyarakat desa yang membutuhkan penguatan, penyegaran, bahkan butuh sapaan,” kata fasilitator Yayasan Penabulu Sri Purwani ketika melakukan refleksi dari proses pelatihan yang diselenggarakan IDRAP.

Pengurus RT merupakan kelompok strategis yang selama ini banyak menyumbang proses pendataan, administrasi, dan sumber daya sosial masyarakat. Maka dibutuhkan komitmen tata kelola sumber daya secara integratif untuk menghidupkan tradisi berdesa yang berkelanjutan. (FSP)