Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Desa Perlu Punya Produk Khas dan Berkualitas

Banyaknya kebun bambu di Desa Ponjong dapat dikembangkan sebagai salah satu potensi desa yang menghasilkan produk khas desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (6/1) – Memiliki produk unggulan masih menjadi tantangan terkini bagi desa. Desa harus menciptakan produk yang menjadi ciri khasnya. Ciri khas itulah yang menjadi kekuatan ditengah bajirnya produk industri skala lebih besar di pasaran. Tentu saja kualitas produk menjadi syarat utama, disamping kuantitas dan rutinitas dalam penyediaanya.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Yang Seung Yoon, Guru Besar di Hankook University Korea Selatan, saat menjadi pembicara pada seminar “Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong” pada Jumat (5/01) sore. Seminar tersebut merupakan salah satu upaya Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia untuk memotivasi pengurus BUMDes Hanyukupi di Desa Ponjong, Gunungkidul. Pasar masih terbuka lebar untuk menampung produk usaha desa, dengan syarat desa mampu membaca dan memanfaatkan celah-celah pasar tersebut.

Kepala Desa Ponjong Arif Al Fauzi dalam sambutanya mengatakan keinginanya agar Profesor Yang dapat membagi ilmunya kepada warga masyarakat desa. Sektor pertanian masih menjadi tumpuan mata pencaharian sebagian besar warga desa. Tak heran jika Arif berharap agar kemajuan pertanian di Korea dapat ditularkan kepada masyarakat. Arif mengaku saat ini pola pertanian yang dijalankan warga desa masih tradisional dan belum memiliki produk unggulan hasil pertanian. “Kami berharap warga yang hadir dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari seminar ini, untuk memajukan desa,” kata Arif.

Profesor Yang memulai paparannya dengan menceritakan kondisi masyarakat Korea era 1960-an ketika 80 persen penduduk bekerja sebagai petani. Saat itu, banyak orang yang mati kelaparan karena kekurangan pangan yang diperparah kondisi iklim ekstrim. Tanah pertanian di Korea tidak subur seperti Indonesia, sehingga sektor pertanian menjadi perhatian yang sangat serius dari pemerintah.

“Gerakan desa baru yang digagas Presiden Park pada awal 1970-an mampu menyalakan obor api untuk menghidupkan semangat kerja dan berdiri sendiri. Pemerintah memberikan bantuan khusus bagi petani. Petani pun tergerak untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berbeda-beda di setiap desa. Kita mengkhususkan dan membedakan hasil padi kita lebih bagus lagi dari tempat lainnya,” terangnya.

Mengantongi pengalaman sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Padjajaran sejak 30 tahun lalu, Profesor Yang sangat fasih berbahasa Indonesia, sehingga materi yang disampaikannya mudah dipahami para peserta seminar. Profesor Yang juga mengeluhkan kondisi petani di kampungnya yang hanya menyisakan petani berusia lanjut. Bahkan diusianya yang kini menginjak 72 tahun, dirinya menjadi orang yang paling muda dikampungnya. Melihat keadaan di Desa Ponjong, Profesor Yang memberi apresiasi kepada pemuda desa yang mau tinggal dan membangun desa.

Profesor Yang juga berharap agar BUMDes ‘Hanyukupi’ maju berkembang, mengingat sekarang adalah masa persaingan. Ia menyarankan agar BUMDes fokus pada usahanya dan menghasilkan produk yang menjadi ciri khas desa. “Para pemuda desa harus diberdayakan untuk menemukan pasar-pasar diluar desa. Kalau menunggu disini saja tidak berhasil, tidak berkembang,” pungkasnya. (ES)