Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Desa Perlu Punya Produk Khas dan Berkualitas

Banyaknya kebun bambu di Desa Ponjong dapat dikembangkan sebagai salah satu potensi desa yang menghasilkan produk khas desa.
Banyaknya kebun bambu di Desa Ponjong dapat dikembangkan sebagai salah satu potensi desa yang menghasilkan produk khas desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (6/1) – Memiliki produk unggulan masih menjadi tantangan terkini bagi desa. Desa harus menciptakan produk yang menjadi ciri khasnya. Ciri khas itulah yang menjadi kekuatan ditengah bajirnya produk industri skala lebih besar di pasaran. Tentu saja kualitas produk menjadi syarat utama, disamping kuantitas dan rutinitas dalam penyediaanya.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Yang Seung Yoon, Guru Besar di Hankook University Korea Selatan, saat menjadi pembicara pada seminar “Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong” pada Jumat (5/01) sore. Seminar tersebut merupakan salah satu upaya Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia untuk memotivasi pengurus BUMDes Hanyukupi di Desa Ponjong, Gunungkidul. Pasar masih terbuka lebar untuk menampung produk usaha desa, dengan syarat desa mampu membaca dan memanfaatkan celah-celah pasar tersebut.

Kepala Desa Ponjong Arif Al Fauzi dalam sambutanya mengatakan keinginanya agar Profesor Yang dapat membagi ilmunya kepada warga masyarakat desa. Sektor pertanian masih menjadi tumpuan mata pencaharian sebagian besar warga desa. Tak heran jika Arif berharap agar kemajuan pertanian di Korea dapat ditularkan kepada masyarakat. Arif mengaku saat ini pola pertanian yang dijalankan warga desa masih tradisional dan belum memiliki produk unggulan hasil pertanian. “Kami berharap warga yang hadir dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari seminar ini, untuk memajukan desa,” kata Arif.

Profesor Yang memulai paparannya dengan menceritakan kondisi masyarakat Korea era 1960-an ketika 80 persen penduduk bekerja sebagai petani. Saat itu, banyak orang yang mati kelaparan karena kekurangan pangan yang diperparah kondisi iklim ekstrim. Tanah pertanian di Korea tidak subur seperti Indonesia, sehingga sektor pertanian menjadi perhatian yang sangat serius dari pemerintah.

“Gerakan desa baru yang digagas Presiden Park pada awal 1970-an mampu menyalakan obor api untuk menghidupkan semangat kerja dan berdiri sendiri. Pemerintah memberikan bantuan khusus bagi petani. Petani pun tergerak untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berbeda-beda di setiap desa. Kita mengkhususkan dan membedakan hasil padi kita lebih bagus lagi dari tempat lainnya,” terangnya.

Mengantongi pengalaman sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Padjajaran sejak 30 tahun lalu, Profesor Yang sangat fasih berbahasa Indonesia, sehingga materi yang disampaikannya mudah dipahami para peserta seminar. Profesor Yang juga mengeluhkan kondisi petani di kampungnya yang hanya menyisakan petani berusia lanjut. Bahkan diusianya yang kini menginjak 72 tahun, dirinya menjadi orang yang paling muda dikampungnya. Melihat keadaan di Desa Ponjong, Profesor Yang memberi apresiasi kepada pemuda desa yang mau tinggal dan membangun desa.

Profesor Yang juga berharap agar BUMDes ‘Hanyukupi’ maju berkembang, mengingat sekarang adalah masa persaingan. Ia menyarankan agar BUMDes fokus pada usahanya dan menghasilkan produk yang menjadi ciri khas desa. “Para pemuda desa harus diberdayakan untuk menemukan pasar-pasar diluar desa. Kalau menunggu disini saja tidak berhasil, tidak berkembang,” pungkasnya. (ES)