Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

BUMDes Kian Diminati di Gunungkidul

Budi Susilo memaparkan tahapan pembentukan dan pendirian BUM Desa kepada perangkat desa dan masyarakat Desa Ngawis, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (28/2) – Cerita sukses tentang kiprah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengundang minat di beberapa desa Kabupaten Gunungkidul, DIY. BUMDes diharapkan bukan hanya menggenapi instruksi pemerintah, melainkan menjadi salah satu pintu dalam mewujudkan percepatan kesejahteraan masyarakat desa.

Desa Ngawis, Kecamatan Karangmojo dan Desa Giripanggung, Tepus, berada di Kabupaten Gunungkidul merupakan dua desa yang pada tahun 2017 ini tengah berjuang merintis BUMDes agar kedepan semakin menggeliat. Upaya serius dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah DIY dan kecamatan setempat. Kedua desa belajar dasar filosofis pendirian BUMDes, tata aturan, dan menggali potensi masyarakat dengan mendatangkan tim Desa Lestari Yayasan Penabulu sebagai mitra belajar.

Belajar BUMDes di Desa Ngawis diadakan pada Selasa (21/02) dengan fasilitator dari Desa Lestari Eko Sujatmo dan Henricus Hari Wantoro sebagai narasumber. Kepala Desa Kurniawan mengundang seluruh kepala dusun, lembaga desa, dan tokoh aktivis desa supaya pengetahuan dan wawasan tentang BUMDes bertambah.

Para peserta diajak memetakan masing-masing dusun untuk menemukan potensi sumber daya desa seperti kelompok seni budaya, kepemudaan, produk olahan pangan, pertanian, hingga perdagangan. Selanjutnya potensi yang muncul hendak ditangkap desa sebagai salah satu peluang pasar. Satu catatan disampaikan Henri dan Eko kepada peserta, jenis usaha desa hendaknya memang yang bukan telah dilakukan masyarakat desa. “Prinsip utamanya usaha yang akan dipilih desa nanti jangan sampai mematikan usaha warga yang sudah lebih dulu ada,” kata Eko dalam sesi tanya jawab.

Menurut Eko desa hendaknya cermat akan prinsip tersebut. Terlebih, Desa Ngawis berada di sebelah  Desa Bejiharjo yang sudah terkenal pariwisata Gua Pindul. Kondisi itu hendaknya membuat semakin percaya diri dalam menangkap potensi usaha seperti produk industri kerajinan dan hingga kesenian dan kebudayaan.

Anjar mengatakan potensi paling besar yang ada di desanya adalah sektor pertanian. Ada 1.400 kepala keluarga, 70 persen dari 1,400 kepala keluarga bergantung pada komoditas pertanian seperti padi, sayuran, peternakan. Selain itu ada beberapa warganya hidup dari industri kerajinan bambu. “Pemuda malah sudah jalan dibidang pertanian sayuran jenis cabai,” ujarnya.

Kendati demikian, Anjar melihat selama ini petani Desa Ngawis masih sangat kesulitan mendapat daya dukung ketersediaan fasilitas tanam. Obat-obatan pertanian seperti umumnya disediakan toko tani petani Ngawis harus beli ke desa lain. “Mungkin itu yang bisa ditangkap sebagai peluang BUMDes nanti,” tambah Anjar kepada tim Desa Lestari.

Kehadiran desa sendiri pada tahun lalu sudah mulai terasa. Beberapa kegiatan kepelatihan desa yang didanai dari Dana Desa menyasar kelompok tersebut. Namun inventarisasi potensi desa untuk rintisan BUMDes Ngawis ini masih perlu didalami agar pendirian BUMDes tidak sekadar menjadi kegiatan jangka pendek, tetapi juga memenuhi pelayanan kebutuhan masyarakat yang mendatangkan keuntungan bersama.

Kegiatan belajar BUMDes di Desa Giripanggung, Kecamatan Tepus dilaksanakan pada Rabu (22/02) lalu tidak jauh berbeda. Pihaknya mengundang tokoh masyarakat, kelompok perempuan dan perwakilan lembaga desa.

Diskusi regulasi dan berbagi cerita implementasi BUMDes di wilayah lain, banyak potensi terungkap dari belasan dusun. Dari mulai tiga telaga, produk perajin gula jawa, hingga dusun yang dianggap strategis untuk kemungkinan pendirian rest area untuk menangkap ramainya pariwisata Gunungkidul setiap akhir pekan.

Meski begitu, rencana rest area yang sudah dicita-citakan dua tahun tersebut perlu dipertimbangkan ulang. Selain memerlukan modal besar, perlu dikaji secara serius tingginya akses jalur pantai di Gunungkidul melalui desa Giripanggung.

Kepada Desa Giripanggung Heri Purwanto mengapresiasi potensi semua dusun yang muncul pada kegiatan tersebut. Telaga, gula jawa, UKM produksi tas, makanan olahan seperti ceriping, harus direspon sebagai peluang baru. Desa Giripanggung, menurut Heri, merupakan wilayah pegunungan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan wahana permainan dan olah raga alam. Beberapa produk alat pertanian juga menjadi pelengkap, termasuk produk tempe, abon, stik pepaya, dan stik labu yang perlu lebih dicarikan formula baru untuk produk yang lebih menarik lagi.

Sekretaris Camat Karangmojo Rahmadian menyambut baik peran LSM seperti Penabulu yang membantu desa-desa di Gunungkidul dalam implementasi UU Desa. Ia berharap, peran Penabulu lebih sentral di Gunungkidul hingga desa mampu menemukan usaha desa dan tata kelola manajemen yang baik. (ETG)