Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Perempuan-perempuan Mekar di Kebun Sayuran

Kegiatan kelompok wanita tani Mekar Dusun Gading V, Playen, Gunungkidul dalam pengelolaan tanaman sayuran. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (9/8) – Gubuk kecil di tengah Dusun Gading V Gunungkidul tampak lebih ramai dari biasanya. Belasan perempuan berpakaian santai tampak akrab berkumpul. Ada perempuan yang datang membawa ketel air menyiapkan minuman teh panas dan camilan. Ada yang sibuk menyiangi rumput. Ada yang memperbaiki pagar pekarangan. Ada yang wira-wiri menarik selang saluran air. Ada yang mengecek deretan pot tanaman. Itulah pemandangan sore beberapa hari yang lalu, saat Tim Desa Lestari Yayasan Penabulu bertandang ke Dusun Gading V Playen Gunungkidul. Tim bertemu dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Dusun Gading V.

“Ini kegiatan pertanian kecil-kecilan yang kami kerjakan bersama-sama. Sekedar untuk kegiatan ibu-ibu sore hari,” sambut Ketua KWT Mekar Natalia Suminem kepada Tim Desa Lestari.

Natalia memperkenalkan anggota KWT lainnya sebelum mengantar tim ke lokasi tanam untuk melihat beberapa jenis sayuran seperti berbagai cabai, bunga kol, sawi, kacang panjang, gambas, kangkung, buncis, terong, hingga beragam kubis. Tak hanya itu, dirinya juga menjelaskan teknik penanaman masing-masing tanaman, kandungan gizi, hingga manfaatnya.

“Semua yang ditanam di sini bisa dikonsumsi sebagai pangan sayuran keluarga,” kata Natalia.

Saat musim kemarau tiba seperti sekarang, tanaman sayuran mendapat perhatian lebih. Asupan air harus memadai, dan pemantauan berkala untuk memastikan tanaman bebas dari serangan hama. Maka, para anggota KWT Mekar bergiliran melakukan pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan meliputi penyiangan rumput liar, penyiraman tanaman, pengecekan gangguan tanaman, penambahan pupuk organik, hingga pemeliharaan keamanan lokasi sekitar. Dengan begitu, perempuan-perempuan dusun ini terlihat lebih tenang, lebih siap dan lebih berdaya yang sewaktu-waktu harga pangan meroket.

Lokasi hijau yang menjadi lahan demplot pertanian sayuran ini semula termasuk lahan tidur. Pekarangan pribadi yang tidak produktif yang ternyata dapat diolah menjadi lahan hijau dan mendatangkan manfaat keuntungan bersama.

KWT Mekar ini bermula dari dua bersaudara pegiat pertanian setempat, Heru Prasetyo dan Marsudi, merintis Gerakan Perempuan Dusun Menanam Sayuran sekitar dua tahun silam. Keduanya jatuh bangun memulai gerakan menciptakan kawasan hijau ini, kemudian satu demi satu ibu-ibu dusun mulai terpikat. Terlebih, kegiatan bertanam sayuran mulai dirasakan manfaatnya mendukung ekonomi keluarga saat harga pangan di pasar sedang tidak bersahabat. Ketertarikan ibu-ibu akhirnya terwujud melalui fasilitasi dilakukan Heru, yang juga tenaga penyuluh pertanian Pemkab Gunungkidul, dan Kepala Dusun Ngadirejo, Yusuf, untuk membentuk KWT di Dusun Gading V.

Meski saat itu terbilang kelompok baru, KWT Mekar yang beranggotakan 45 perempuan mulai menunjukkan prestasi panennya. Warga dan penjual sayur keliling merasakan manfaat hasil panen. Bahkan pada 2016 lalu, KWT ini menyabet dua kejuaraan yakni juara ketiga masak sayur lombok ijo diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan juara ketiga tingkat DIY untuk cipta menu bahan pangan lokal. Dari tiga kali panen, kualitas produk sayuran mengalami peningkatan. Bahkan sampai hari ini keberadaan dan aktivitas KWT Mekar kerap menjadi tempat belajar pendidikan pertanian bagi komunitas perempuan dan PKK di Gunungkidul.

Pendamping KWT Mekar Marsudi mengatakan kesadaran masyarakat mulai muncul dengan adanya gerakan ini. Mulai dari kelompok ibu-ibu hingga pemuda turut berkontribusi untuk KWT Mekar.

Lebih lanjut, Marsudi menambahkan peluang pasar sayuran di Gunungkidul memang cukup luas. asih banyak produk pertanian sayuran harus dibergantung pasokan dari luar DIY karena ketersediaan produk lokal belum bisa menjangkau. “Yang menggembirakan masyarakat dusun kami sekarang sudah mulai tergerak  memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk tanam sayuran seperti cabai terong dan kacang,” ujar Marsudi.

Marsudi optimis usaha pertanian sayuran masih menjadi peluang terbuka luas untuk dirintis di daerah lain Gunungkidul sejalan dengan meningkatnya kecerdasan masyarakat akan konsumsi pangan yang aman dan sehat seperti sayuran. (ETG)