Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

BUMDes Olak-Olak Kalimantan Barat Andalkan Padi

Paul Mario Ginting, Fasilitator dari Yayasan Penabulu, secara intensif mendampingi proses pelatihan pada sesi penatausahaan keuangan BUM Desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Banjarbaru (5/10) – Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut diselenggarakan Badan Restorasi Gambut (BRG). Yayasan Penabulu ditunjuk sebagai fasilitator utama pelatihan. Pelatihan tersebut berlangsung di Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2-7 Oktober 2017. Desa-desa di kawasan gambut dari tiga provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat perlu mendapat perhatian serius khususnya pada pemanfaatan lahan yang dikhawatirkan dapat merusak gambut. Untuk itulah, pelatihan juga menekankan pentingnya ada perlakuan khusus kawasan gambut untuk menunjang kehidupan lebih baik.

Memiliki luas wilayah 5.600 hektar dengan mayoritas penduduknya petani padi menjadi berkah serta kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Olak-Olak, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penemuan jenis bibit kondisi lokal menggunakan teknologi pertanian cukup mendukung produktivitas padi Olak-Olak yang kini dapat melangsungkan dua kali masa tanam dalam satu tahun. Tak heran produk padi Olak-Olak menjadi salah satu andalan mencukupi kebutuhan pangan dalam satu wilayah kecamatan.

“Kami hendak mengelola produk pertanian padi ini sebaik mungkin melalui BUMDes. Ini bentuk nyata melindungi produk hasil petani,” kata pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Olak-Olak Makhmudin saat memaparkan potensi sektor pertanian dalam diskusi Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan. 

Makhmudin memandang perlu ada prioritas kebijakan desa untuk ikut menjaga keberlangsungan produk pertanian padi di desa tertua yang masih terisolir secara geografis. Desa Olak-Olak dikelilingi sungai sebagai akses transportasi utama menjadi berkah bagi aktivitas pertanian padi yang tak sekadar mengandalkan air dari tadah hujan. Yang perlu diperkuat adalah penyuluhan yang memperkenalkan teknologi baru kepada petani, penyediaan dukungan sarana produksi tani, jaminan ketersediaan pupuk dan peptisida hama, sampai dengan tata kelola pemasaran produk beras yang mengedepankan hasil panen petani Olak-Olak terlindungi dari permainan harga pasar.

Sekretaris Desa Olak-Olak Nurul Qodriyah menangkap potensi pertanian desanya. Menurut Nurul, Pemerintah Desa Olak-Olak sengaja aktif melibatkan Gapoktan dan pengurus BUMDes dalam kegiatan pelatihan sebagai bentuk membuka partisipasi masyarakat turut terlibat merancang dan menggali jenis usaha perekonomian desa.

Nurul menambahkan Desa Olak-Olak optimis produk pertanian padi yang mengalami peningkatan cukup potensial dibidik sebagai bentuk usaha. Hasil produk pertanian padi memang menjadi jantung pertahanan pangan andalan kecamatan setempat dan tidak semua desa di Kecamatan Kubu penghasil padi seperti hasilnya Olak-Olak.

“Ada 1.031 kepala keluarga di Olak-Olak yang memang mayoritas mata pencaharian petani,” ujarnya.

Melalui pelatihan tersebut, Ketua BUMDes Olak-Olak Hendrik menyambut dukungan pemerintah desa yang menjadikan BUMDes sebagai prioritas kebijakan desa yang akan lebih diseriusi lagi, tetapi juga kesiapan menyertakan modal awal usaha untuk BUMDes. Tidak mudah bagi Hendrik turut menggagas berdirinya BUMDes Olak-Olak karena harus melakukan pendekatan personal dengan berbagai tokoh masyarakat di desanya hingga akhirnya terbentuk kepengurusan.

Selama mempelajari potensi sektor pertanian padi Olak-Olak, Hendrik menilai jenis usaha perdagangan beras yang dapat diambil sebagai usaha ke depan BUMDes yang dipimpinnya. Ia mengaku telah melakukan analisa usaha seperti permodalan, tata pemasaran, kelanjutan produk padi, hingga pola paket jual yang bisa terjangkau semua elemen masyarakat desa dan desa tetangga Olak-Olak.

“Untuk analisis modal usaha ini kira-kira diperlukan penyertaan modal desa Rp151 juta untuk pembelian beras dari petani, produksi gabah menjadi beras, operasional BUMDes, pengemasan, hingga transportasi perdagangan produk beras,” ujar Hendrik.

Hendrik mengaku memang tidak sekadar petanian padi unggulan di desanya. Hasil pertanian dari kopra, gula merah, kedelai juga menjadi pendukung sektor pertanian padi Olak-Olak. Rencananya potensi nonpadi tersebut juga menjadi target pengembangan BUMDes yang hasilnya bisa menambah pendapatan bagi desa.

Pelatihan sepekan berlangsung tidak hanya memfasilitasi desa dalam menggali potensi dan merancang jenis usaha yang akan diambil. Pelatihan juga mengenalkan tata kelola keuangan agar pengurus BUMDes dan perangkat desa semakin terampil dalam urusan tata administrasi sejalan aspek transparan dan dapat pertanggungjawabkan pengelolaan uang rakyat. Materi dasar tata administrasi keuangan dari arus kas, neraca, dan laporan rugi laba disampaikan Paul Mario Ginting sembari mengajak praktik peserta kelas mengerjakan soal sampai benar. (ETG)