Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Kecamatan Nglipar Punya Relawan Muda Penggerak Desa

 

Presentasi Ide Inovasi Kewirausahaan Kaum Muda Desa (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (23/1) – Denyut pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih dirasa berat sebelah. Zona utara Gunungkidul perlu mendapat perhatian lebih pemerintah setempat untuk meratakan pembangunan perekonomian. Dibutuhkan peran pemuda memberi berbagai pemikiran dan gagasan serta partisipasi agar semakin mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih maksimal.

Menyadari akan hal itu, sebanyak 25 pemuda Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, berkumpul dan mulai menata rencana nyata untuk berperan dan terlibat dalam gerak pembangunan pedesaan sebagai relawan. Pertemuan pemuda perwakilan dari enam desa, yakni Desa Pilangrejo, Natah, Kedungpoh, Katongan, Nglipar, dan Pengkol, menjadi titik awal menemukan relawan-relawan muda yang hendak menjalin kerja sama pemerintah desa masing-masing memajukan potensi yang dimiliki desanya.

Pertemuan perdana melalui kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bagi Kaum Muda Desa berlangsung di Balai Desa Nglipar selama lima hari pada 18-22 Januari 2018. Beberapa materi diberikan pemuda Nglipar sebagai bekal kemampuan diri, membentuk perspektif positif pembangunan, mengolah ketrampilan diri oleh fasilitator yang diterjunkan tiga lembaga nirlaba yakni Perkumpulan Desa Lestari, The Head Foundation, dan JUMP! Foundation. Desa Lestari dan JUMP! Foundation membagi banyak ilmu dan berbagi pengalaman dalam membentuk kepemimpinan kaum muda dengan mendatangkan pegiat pembangunan mentalitas kaum muda dari Amerika, India, dan Beijing dan berbagi ketrampilan teknik fasilitasi.      

Aktivis kepemudaan Desa Nglipar Ida Ayu mewakili Desa Pilangrejo mengatakan metode pelatihan kepemimpinan cukup relevan menjawab kelesuan pemuda di Kecamatan Nglipar.

“Ironis, rendahnya kiprah pemuda saat ini terjadi ditengah desa-desa sedang gencar melaksanakan pembangunan dari implementasi UU Desa. Hendaknya ini era pemuda bahu membahu tampil dalam gerak pembangunan desa,” kata Ida yang juga anggota Karang Taruna Kecamatan Nglipar.

Ida optimis melalui kegiatan kepelatihan pemuda ini akan efektif mengubah cara pandang pemuda agar tidak sekadar menjadi penonton pembangunan desanya. Dirinya juga mengaku memang bukan persoalan mudah bisa mengubah cara pandang pemuda desa yang masih perspektif kerja adalah meninggalkan desa dan beradu nasib di kota-kota besar.

“Pelatihan ini mampu meyakinkan kami desa sebagai pusat perekonomian yang masih cukup terbuka bagi pemuda menemukan sumber pendapatan,” ujarnya.

Tidak adanya lapangan pekerjaan di desa, lanjut Ida, menjadi persoalan besar di Kecamatan Nglipar. Hanya saja, pelatihan ini mendorong pemuda untuk lebih kreatif untuk menemukan peluang-peluang usaha yang lebih produktif, tanpa meninggalkan peran serta tanggungjawab di desanya.  

Senada diungkapkan Suyadi, salah satu peserta dari wirausaha muda desa, mengaku jatuh bangun merintis usaha mandiri pembuatan tusuk sate. Menurut Suyadi, sebenarnya banyak potensi desa yang dapat dikelola pemuda sebagai kegiatan yang “menghasilkan”, baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok.

“Pertemuan pelatihan ini menjadi ajang untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kreativitas pemuda itu sendiri. Saya cukup puas,” ungkap perajin tusuk sate dari bambu yang menemukan pasar internasional dan terpilih penerima supporting usaha kelompok.

Fasilitator pelatihan dari Desa Lestari Eko Sujatmo mengatakan pelatihan ini memberi ragam materi pemuda agar lebih siap untuk berkiprah sebagai relawan-relawan pembangunan desa. Dari kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bagi Kaum Muda Desa ini, terurai beberapa permasalahan desa dan pemuda berikut solusinya yang hendak dikerjakan peserta setelah kembali ke desa.

Berikut potensi desa ditemukan sebagai peluang usaha pemuda Nglipar.

  1. Produk Gula Jawa Pilangrejo, hasil assesment kelompok pemuda Pilangrejo menemukan adanya perajin gula jawa di Desa Pilangrejo. Produksi gula jawa masih eksis dan cukup potensial dikembangkan sebagai salah satu icon Nglipar, baik sebagai daya dukung pengembangan pariwisata desa maupun gerakan konsumsi makanan dan minuman seduhan sehat seperti muniman seduhan tradional gula jawa jahe serta optimalisasi produk lokal Gunungkidul di seluruh pasar.
  2. Produk pertanian Hidroponik Nglipar, hasil assesment kelompok menemukan tingginya pasokan kebutuhan pangan sayuran setiap hari yang harus bergantung dari produk luar daerah untuk memenuhui kebutuhan pangan lokal Gunungkidul. Teknik pertanian hidropinik dipandang sebagai salah satu langkah yang bisa dirintis sebagai gerakan pemuda bertani untuk peran partisipasi mewujudkan kadaulatan pangan.
  3. Produk usaha tusuk sate Natah, kelompok ini menggali potensi besar tanaman bambu yang masih banyak di desa untuk dioleh sebagai produk tusuk sate. Adanya jalur pemasaran yang sudah menembus pasar internasional dengan permintaan pasar yang cukup tinggi memberikan peluang terbuka bagi pemuda untuk menggerakkan masyarakat sebagai sentra industri tusuk sate bambu Natah dengan tetap menjaga kelestarian alam.
  4. Konservasi tanaman cendana, kelompok assesment Pemuda Desa Pilangrejo menemukan potensi luasnya ketersediaan lahan pertanian dan hutan rakyat, salah satunya untuk konservasi tanaman lindung jenis cendana. Konservasi cendana dipandang cukup memberi harapan pemuda untuk pelestarian bersama dengan kelompok tani sebagai daya dukung pewarna produk perajin batik tulis lokal. Seiring dengan langkah konservasi cendana, produk batik tulis yang kian merebut pasar industri kreatif baik skala nasional maupun internasional.
  5. Pengelolaan sungai sebagai daya dukung kuliner, Kedungpoh, berada di kawasan kali, kelompok asessment pemuda mendapatkan belum optimalisasi Sungai Oya. Sungai masih sebatas digunakan sebagai jalur aliran air sehingga perlu terobosan baru untuk lebih dikelola secara produktif bagi pemuda. Ikan Wader, yang banyak ditemukan di Kali Oya dinilai sebagai potensi olahan kuliner yang dipandang mampu meraih pasar. Tentu menuntut kreativitas pemuda untuk siap mengolahnya lebih kaya sebagai produk makanan olahan seperti wader goreng, rempeyek, balado wader, dan jenis lainnya. (ETG)