Beras hasil produksi Kelompok Tani Dusun Kubangpari menjadi produk unggulan BUMDes “Seneng Usaha” Desa Bangunsari Ciamis (sumber: dokumentasi lembaga)

Ciamis (20/10) – Uji coba usaha BUMDes Seneng Usaha Desa Bangunsari mulai membuahkan hasil. BUMDes yang awalnya hanya bergerak di unit usaha LKM kini telah menghasilkan produk unggulan berupa nasi liwet “Si Raos”.

Berkembangnya BUMDes Seneng Usaha tak lepas pendampingan dan pelatihan yang dilakukan oleh PALUMA Nusantara melalui program Membangun Ketangguhan di Indonesia: Memadukan Iklusi, Manajemen Resiko dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan. Program tersebut diawali dari pembentukan Kelompok Tani Organik di Dusun Kubangpari hingga pendampingan pengemasan produk yang dihasilkan kelompok.

Ketua BUMDes Seneng Usaha Sohidin mengatakan sejak program dimulai awal tahun lalu sampai saat ini, Kelompok Tani Organik sudah berhasil panen padi perlakuan organik sebanyak dua kali.  Hasil  panen yang dijual oleh Kelompok Tani Organik dibeli oleh BUMDes untuk diolah menjadi nasi liwet. Nasi liwet olahan BUMDes dikemas dengan bermacam varian rasa dan diberi merek Si Raos, kemudian dipasarkan melalui forum-forum pameran di tingkat kecamatan, kabupaten hingga tingkat provinsi.

“Nasi liwet Si Raos ini unggulan BUMDes Bangunsari. Namun kami juga sedang mengemas produk lain seperti sale pisang dan telur asin hasil olahan kelompok usaha masyarakat desa,” kata Sohidin.

Sohidin mengungkapkan jika BUMDes menjamin harga beras perlakuan organik dari Kelompok Tani tidak akan terpengaruh dengan naik turunnya harga pasar, sebab Si Raos memiliki segmen pasar tersendiri. Melalui cara tersebut pendapatan petani di Desa Bangunsari akan semakin bertambah. Namun, petani harus tetap menerapkan pertanian organik sesuai dengan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) yang telah disepakati dalam kelompok. Selain nasinya pulen, Si Raos praktis karena dikemas dengan bumbu dan variasi rasa.

“Inilah keunggulan Si Raos, selain berasnya organik juga belum ada di tempat lain,” tandas Sohidin.

Salah satu anggota Kelompok Tani Zaenurrohman menceritakan bahwa 11 orang anggota kelompok memulai budidaya padi dengan perlakuan organik di lahan sawah milik anggota. Guna menjaga kualitas padi, kelompok tersebut menetapkan SOP bersama untuk diterapkan oleh semua anggota. Zaenurrohman maupun anggota kelompok taninya mengaku senang karena hasil padinya dibeli dengan harga tinggi, sehingga pendapatannya meningkat.

“Dulu kalau gabah yang bukan organik paling tinggi harganya 5 ribu rupiah per kilo. Sekarang dengan beralih ke organik dibeli BUMDes dengan harga Rp7 ribu ,” kata Zaenurrohman.

Sekretaris Desa Bangunsari Nurcholis menyatakan Pemerintah Desa Bangunsari siap menambah modal bagi BUMDes melalui APBDes. Setiap tahun anggaran untuk penguatan modal semakin meningkat. Apalagi setelah melihat keberhasilan awal BUMDes Seneng Usaha mampu menciptakan produk unggulan. Hal ini juga sejalan dengan program unggulan Kementerian Desa yaitu satu desa satu produk unggulan.

“Untuk anggaran pemberdayaan, khususnya penguatan ekonomi kami akan aggarkan lebih besar lagi,” kata Nurcholis. 

 Pemerintah Desa berharap agar muncul produk-produk unggulan lainnya agar semakin meningkatkan pendapatan warga dengan mengoptimalkan potensi yang ada. (ES)