Menggali Potensi Kopi dan Bambu Tabah di Tabanan

Petani kopi mengikuti pelatihan pengembangan produk olahan kopi (sumber: dokumentasi lembaga)

Tabanan (9/9) – Kabupaten Tabanan terletak di sebelah barat daya Pulau Bali. Memiliki wilayah seluas 839,33 kilometer persegi, kabupaten ini terdiri dari 10 kecamatan yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian.

Daerah utara Kabupaten Tabanan merupakan pegunungan dengan ketinggian maksimal 2.276 mdpl di puncak Gunung Batukaru. Sementara itu, daerah selatan adalah pesisir pantai atau dataran rendah.

Keragaman topografi inilah yang membuat Kabupaten Tabanan ditumbuhi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan seperti padi, kakao, kopi, dan bambu. Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat adalah dua dari 10 kecamatan dengan komoditas kopi dan bambu.

Kecamatan Pupuan menjadi penyumbang produksi kopi robusta di Kabupaten Tabanan, yaitu sebesar 23.732,87 ton atau 81,9 persen. Kopi robusta dari daerah ini pun juga telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografi dari Direktorat Merek dan Indikasi Geografi Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Nomor BRM 3/I/IG/I/A/2017.

Tidak hanya itu, bambu tabah sudah terdaftar sebagai varietas tanaman lokal yang dilindungi di Indonesia. Bambu jenis ini juga mengandung nutrisi dan renyah.

Meski begitu, para petani belum menyadari nilai ekonomis bambu tabah. Pemilik kebun pun juga belum memahami cara budidaya bamboo tabah dengan baik. Hal itu disebabkan karena mereka belum melihat bambu tabah sebagai komoditas penting.

Melihat kondisi tersebut, PT Astra Internasional Tbk dan Perkumpulan Desa Lestari mengadakan Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS) di Kecamatan Pupuhan dan Selemadeg Barat, Tabanan, Bali.

Program KBA-DS yang diselenggarakan sejak 2018 hingga 2020 ini diikuti oleh 811 petani dari 25 desa dari kedua kecamatan tersebut. Selama dua tahun, petani kopi dan bambu tabah mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan yang bertujuan memberdayakan kampung, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan benefit bagi pendapatan masyarakat dengan memberi nilai tambah.

Astra bersama Perkumpulan Desa Lestari mengembangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang dikelola oleh Koperasi Tunas Bambu Lestari, BUMDesma Pupuan, Kelompok Tani (Subak Abian), dan KUB. Bersama organisasi-organisasi tersebut, Astra dan Perkumpulan Desa Lestari sebagai fasilitator mengadakan berbagai kegiatan pelatihan sebagai usaha memberdayakan masyarakat dalam mengolah kopi dan bambu tabah.

Beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan antara lain Peningkatan Kualitas Produksi dan Pengemasan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Kopi, dan Sekolah Lapang untuk Petani Kopi.

Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera di Tabanan, Bali berhasil memberdayakan masyarakat desa di sektor perkebunan kopi dan bambu. Prami, salah satu petani kopi, mulanya menjual kopi hasil panennya langsung ke pengepul dengan kualitas buah asalan. Sejak mengikuti program KBA-DS, Prami bisa membat produk olahan berbahan dasar kopi seperti kerupuk, stik, biskuit, dan es krim.

“Saya sudah puluhan tahun mengenal dan hidup dari kopi. Tapi baru tahu sekarang kopi bisa dijadikan kerupuk,” katanya.

Griswara, petani bambu tabah, mengaku merasakan manfaat dari program KBA-DS. Griswara menjual rebungnya tiap dua hari sekali. “Bisa menambah pendapatan di saat komoditas tidak begitu ada hasilnya,” ujar Griswara.

Hasil panen rebungnya pun juga meningkat apabila Griswara menjualnya ke koperasi. Apabila harga jual di pasar tradisional paling tinggi Rp2.500 per batang, maka rebung Griswara berkualitas grade A dihargai Rp3.000 per batang. (LA)