Antusiasme Peserta di Pelatihan BUMDes Kabupaten Kudus

Eko Sujatmo menjelaskan penentuan posisi BUMDes (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (7/4) – Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus oleh PT Djarum bersama Perkumpulan Desa Lestari dan Lokadata hari ketiga masih diadakan secara daring. Pada sesi hari ini, peserta dari beberapa desa dan panti asuhan binaan bakti sosial Djarum mendapat materi tentang pemilihan jenis usaha.

Eko Sujatmo dari Perkumpulan Desa Lestari sebagai pemateri memaparkan tentang pemilihan jenis usaha. Sebagai pengantar, Eko menegaskan pentingnya memilih jenis usaha bagi BUMDes, terutama desa yang baru mulai merintis.

“Mengapa pemilihan usaha menjadi penting? Memilih kegiatan usaha bagi BUMDes itu sangat menentukan keberlajutan usahanya. Sekali salah memilih, maka kedepannya akan salah pula. Sehingga potensi kegagalan semakin besar,” kata Eko.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan seputar pemilihan jenis usaha, bagaimana menemukan ide usaha, kriteria ide usaha yang baik, serta pemilihan kegiatan usaha. Selain memberikan materi, beberapa kali Eko membuka kesempatan bagi peserta untuk bertanya atau memberikan tanggapan tentang pemilihan jenis usaha sebelum masuk ke ruang diskusi.

Pada sesi diskusi, peserta bersama beberapa fasilitator dari Perkumpulan Desa Lestari memetakan jenis usaha yang hendak dibangun di desa masing-masing. Diskusi berjalan cukup komunikatif antara fasilitator dan peserta.

Sebagian besar desa peserta berhasil memetakan beberapa jenis usaha yang sesuai dengan potensi desa masing-masing. Beberapa ide usaha tersebut antara lain budidaya bibit tanaman buah, usaha penyediaan air bersih, pengelolaan sampah dan jelantah, pengelolaan wisata, hingga pengelolaan dan pengembangan food court.  

Melihat proses pelatihan dan presentasi ide usaha oleh peserta, Vice President Bakti Djarum Foundation Achmad Budiharjo mengapresiasi semangat dan antusias mereka. “Antusiasme cukup bagus. Inisiatif dan keseriusan peserta patut diapresiasi. Apa yang dijelaskan Pak Eko juga cukup gamblang dan peserta didorong untuk aktif,” katanya.

Meski sempat terkendala teknis dan sinyal, peserta memberikan respon positif terhadap pelatihan ini. “Pelatihan hari ini menarik karena sebelumnya belum pernah belajar soal BUMDes tapi saya ingin tetap belajar karena ingin menjalankan BUMDes. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini bisa belajar soal BUMDes,” kata Purnawirawan dari Desa Janggalan.

Lain halnya dengan Arif, peserta pelatihan dari Desa Jekulo. Dirinya mengaku justru lebih suka saat berdiskusi. “Tadi saya melihat lebih asyik ketika diskusi, dalam arti saat diskusi ada komunikasi dua arah. Sehingga kemungkinan mencari solusi lebih nyata. Tapi kalau kita lebih banyak mendengarkan, malah jadi blank,” ucapnya.

Meski begitu, beberapa peserta berharap kegiatan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus bisa dilakukan secara offline agar proses penyaluran informasi berjalan efektif dan efisien.

“Saya mengharapkan tahun berikutnya ada pelatihan offline. Sehingga bisa tatap muka dan ilmunya bisa langsung kena,” pungkas Muhammad Husnul dari Desa Karangampel. (LA)