Kelestarian Hutan Konservasi di Lampung Butuh Komitmen Multipihak

Bupati Lampung Timur Dawam Raharjo didampingi Kepala Dinas LHK Provinsi Lampung, Kepala BTNBBS dan Kepala BTNWK membubuhkan tanda tangan pada dokumen hasil rumusan Ngobrol Pintar (9/4) (sumber: dokumentasi lembaga)

Lampung (9/4) – Provinsi Lampung memiliki dua taman nasional, yakni Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Keduanya menyimpan kekayaan flora dan merupakan habitat tiga spesies kunci yang dilindungi: Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. Kelestarian hutan di kedua wilayah tersebut perlu dijaga oleh berbagai pihak karena keberadaannya yang memberikan manfaat jangka panjang mulai terancam.

Pada acara Ngobrol Pintar Hutan Konservasi di Pendopo Desa Labuhan Ratu V, Lampung Timur pada Jumat (9/4), Bupati Lampung Timur Dawam Raharjo mengemukakan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan aset yang sangat berharga, baik untuk kelestarian lingkungan hidup maupun pemanfaatannya sebagai objek wisata. Hutan TNWK menyimpan kekayaan flora dan fauna yang tak ternilai harganya, dan dapat dijadikan daya tarik wisata berdaya saing baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. Maka, lanjut Dawam, sudah tentu diperlukan dukungan dari berbagai pihak.

“Dalam pengembangannya merupakan tugas lintas sektoral, mengingat pembangunan memerlukan keterpaduan program antar dinas, instansi maupun pihak swasta,“ kata Dawam.

Dawam mengaku masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan pada masing-masing kawasan konservasi. Aktivitas ilegal di dalam kawasan konservasi seperti kebakaran, pembalakan, penambangan, dan perburuan liar yang dipicu oleh tekanan ekonomi serta kesadaran masyarakat sekitar yang masih rendah.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dibutuhkan dukungan dari para pihak, termasuk pemerintah provinsi maupun pusat. “Kami selaku pemerintah daerah akan terus berupaya mendukung, upaya pemerintah pusat maupun provinsi untuk menjamin kelestarian dan kemanfaatan hutan konservasi,” tegas Dawam yang baru menjabat tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BTNBBS) Siti Muchsidah juga menyatakan TNBBS memiliki kekaayaan keanekaragaman hayati dan beberapa ancaman yang dihadapi. TNBBS mempunyai tiga spesies kunci yakni Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Badak Sumatera. Adanya penutupan lahan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat yang berada di dalam kawasan sekitar taman nasional. “Keberadaan invasi tumbuhan larangan dan adanya aktivitas ilegal mengancam keberadaan ketiga spesies kunci,” ujarnya.

Siti menjelaskan BTNBBS tidak bisa bekerja sendiri tetapi butuh dukungan beberapa pihak untuk menjaga kelestariannya. BTNBBS perlu bekerja sama dengan masyarakat yang berada di sekitar wilayah hutan yang merupakan desa-desa penyangga Taman Nasional. Para pihak diminta memberikan kontribusi, mengembangkan potensi-potensi pengembangan yang dimiliki masyarakat, serta membantu memecahkan beberapa persoalan yang dihadapi.

Masyarakat berkewajiban ikut mengamankan kawasan secara partisipatif. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Balai TNBBS, diantaranya peningkatan ekonomi produktif melalui kerja sama pemanfaatan hasil hutan kayu sudah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat bersama TNBBS. BTNBBS juga telah memberikan bantuan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang memang diperlukan oleh kelompok masyarakat seperti pembangunan mikrohidro, ternak kambing dan sapi dan pelatihan-pelatihan.

”Masyarakat merasa mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga tanpa diminta, secara tidak langsung akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat lain untuk ikut menjaga kelestarian taman nasional,” kata Siti.

Acara Ngobrol Pintar Hutan Konservasi yang dihadiri multipihak menghasilkan tiga rumusan penting. Pertama, adanya dukungan dari pemerintah Provinsi Lampung melalui Peraturan Daerah Provinsi Lampung dan Peraturan Gubernur Lampung yang akan ditindaklanjuti dengan peraturan daerah di tingkat kabupaten untuk memperkuat fungsi kawasan hutan konservasi di Lampung dalam menjaga secara utuh eksistensi kawasan TNBBS dan TNWK, yang mengemban fungsi sosial dan ekonomi jangka panjang dan menjamin kelestarian ekosistem kawasan, sebagai habitat satwa prioritas.

Kedua, adanya tindak lanjut pada pertemuan-pertemuan kecil bersama organisasi perangkat daerah di masing-masing kabupaten bersama para pihak,bagi pemberdayaan masyarakat dan pelestarian kawasan hutan konservasi di wilayah Provinsi Lampung

Terakhir, aksi konservasi Badak Sumatera dan satwa prioritas lainnya, beserta habitatnya yang dilakukan oleh BTNBBS dan BTNWK bersama para mitra melalui upaya penyelamatan Badak Sumatera dalam Rencana Aksi Darurat (RAD). (ES)