Menyiapkan Rencana Usaha BUMDes dengan BMC

Mohamad Tamzil menyampaikan materi tentang rencana bisnis pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus pada Selasa (20/4). (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (21/4) – Pada dasarnya desa telah memenuhi prasyarat untuk menuju kemandirian, yaitu kewenangan dan potensi atau aset. Membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan desa yang mandiri.

Menjalankan BUMDes tidak sama dengan berdagang. Memang, kegiatan BUMDes merupakan transaksi jual-beli namun yang menjadi berbeda adalah adanya perencanaan. Hal itu disampaikan oleh Mohamad Tamzil, narasumber pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus.

“Ketika desa akan membangun BUMDes, mind set yang harus ditanamkan adalah berbisnis, bukan berdagang. Indikator yang membedakan adalah selalu menyiapkan dokumen rencana usaha atau business plan. Tapi kalau berdagang tidak memerlukan dokumen rencana usaha. Berbisnis tidak bisa seperti itu, harus ada perencanaan secara detail,” jelas Tamzil kepada peserta di ruang Zoom Meeting pada Selasa (20/4).

Business plan menjadi penting bagi BUMDes sebagai panduan operasional usaha. Dengan begitu, BUMDes tahu langkah dan cara apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan operasionalnya. Apabila business plan tidak ada, gerak BUMDes menjadi tidak terarah sehingga resiko kegagalan lebih besar.

Adanya business plan juga untuk menarik investor atau pemodal. Dalam hal BUMDes, pemerintah desalah yang menjadi investor. Ketika pemerintah desa menginvestasikan sebagian dananya kepada BUMDes, maka BUMDes harus membagikan sebagian keuntungan ke desa sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes).

Selanjutnya, Tamzil menjelaskan Business Model Canvas (BMC), sebuah alat untuk membantu memahami dan menemukan model bisnis dengan cara yang lebih praktis.

“Ada sembilan blok dalam BMC yang mewakili aspek penting dalam rencana bisnis menjadi langkah awal sebelum merancang business plan yang lebih detail,” ujarnya.

Sembilan blok BMC antara lain customers segment, value proposition, channels, customer relationship, revenue stream, key resource, key activities, key partnership, dan cost structure. Semua blok tersebut harus diisi sedetail mungkin agar mempermudah BUMDes menjalankan usaha.

Tamzil memberikan contoh pada setiap blok BMC. Dia juga memberikan waktu bagi peserta mengisi form BMC tiap selesai memaparkan tiap blok. Metode tersebut membuat para peserta pelatihan dari lima desa di Kabupaten Kudus aktif bertanya hingga menciptakan diskusi yang interaktif.

“Pelatihan hari ini cukup mudah dipahami. Penjelasan langkah demi langkahnya cukup enak, alurnya cukup sederhana,” ucap Nanang, perwakilan dari Desa Rejosari.

Usai mengisi sembilan blok BMC, peserta mempresentasikan hasil pengisian form yang menghasilkan BMC untuk rencana usaha wisata edukasi dan religi dan pengelolaan air permukaan. Adanya BMC serta pelatihan oleh Djarum bersama Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari diharapkan mampu mendorong beberapa desa di Kabupaten Kudus menjadi berdaya dan mandiri. (LA)