Analisis Kelayakan Jadi Penentu Usaha BUMDes

Mohamad Tamzil membuka materi analisa kelayakan usaha pada Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes secara virtual pada Rabu (28/4)

Sleman (29/4) – Usaha yang dijalankan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertujuan mendorong perekonomian dan kemandirian desa. Perekonomian desa yang meningkat akan turut mendorong peningkatan ekonomi nasional.

“Secara filosofi, pemerintah atau negara menaruh harapan yang sangat besar bagi BUMDes untuk mendorong peningkatan ekonomi nasional,” kata Eko Sujatmo dari Perkumpulan Desa Lestari saat membuka Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus pada Rabu (28/4).

BUMDes perlu melakukan serangkaian persiapan sebelum akhirnya menjalankan usaha. BUMDes juga perlu mengetahui apakah jenis usaha yang telah dipersiapkan layak atau tidak. Untuk mengetahui hal itu, BUMDes harus melakukan analisa kelayakan usaha.

Kelayakan usaha menjadi sangat penting, terlebih BUMDes yang baru akan merintis usaha. Mohamad Tamzil, narasumber pada kegiatan pelatihan, menyebut ada lima aspek studi kelayakan usaha: aspek hukum dan legalitas, aspek ekonomi dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek manajemen, dan aspek keuangan.

Pada kesempatan pelatihan ini, Tamzil membahas analisa kelayakan usaha di aspek keuangan karena dinilai sangat penting dan juga keterbatasan waktu. Menurut Tamzil, analisa keuangan dapat menjadi dasar penentu keputusan dan permodalan. Bagian yang paling penting adalah analisa keuangan menentukan apakah BUMDes bisa berjalan atau tidak.

Analisa keuangan juga menjadi dasar penentu strategi usaha yang efektif dan efisien. “Ini untuk mengetahui BUMDes bisa membawa keuntungan bagi desa atau tidak,” ujar Tamzil.

Ada delapan aspek yang harus diisi pada analisa keuangan, yaitu biaya investasi, biaya tetap, biaya produksi, estimasi produksi, proyeksi pendapatan, proyeksi laba-rugi, arus kas, dan kebutuhan modal tahun pertama.

Usai pemberian materi, peserta pelatihan dari lima desa di Kabupaten Kudus mengisi form analisis kelayakan usaha yang dipandu oleh Tamzil. Hasil awal pengisian menunjukkan sebagian besar usaha yang akan dirintis desa peserta mengalami kerugian karena biaya tetap dan biaya produksi terlalu tinggi sehingga perlu melakukan revisi. Namun yang terpenting para peserta memahami cara pengisian form analisis kelayakan usaha. Dengan begitu nantinya mereka bisa mengerjakan analisis kelayakan usaha secara mandiri.

Tedi, peserta dari Desa Janggalan menilai materi kelayakan usaha sangat bagus tetapi dirinya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami karena keterbatasan waktu. “Tapi ini menjadi kesempatan untuk kami belajar. Untuk kedepannya mengenai materi bisa lebih didetailkan lagi jadi kami bisa lebih paham,” ucapnya.

Eko menekankan bahwa keberhasilan pelatihan yang telah dilakukan sejak awal bulan April hingga akhir tidak lepas dari niat peserta, tindak lanjut oleh peserta, dan aspek pendampingan. Harapannya, rangkaian Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes Kabupaten Kudus mampu membantu desa peserta merintis dan menjalankan usaha dengan baik dan maksimal. (LA)