Pelaporan Keuangan Jadi Wewenang BUMDes

Peserta pelatihan bersama tim dari Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari (sumber: dokumentasi lembaga)

Sleman (6/5) – Rangkaian Pelatihan dan Penguatan Kapasitas BUMDes di Kabupaten Kudus telah memasuki hari terakhir pada Rabu (5/5) kemarin. Kegiatan yang diadakan oleh Djarum bersama Lokadata dan Perkumpulan Desa Lestari ini dihadiri oleh lima desa dan satu panti asuhan binaan bakti sosial Djarum.

Pada pelatihan kemarin, Irena Nuraeni dari Perkumpulan Desa Lestari menyampaikan materi tentang pelaporan keuangan. Materi itu merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya, yaitu penatausahaan keuangan. Pelaporan keuangan menjadi salah satu dari tiga kegiatan pengelolaan keuangan selain penatausahaan dan pembukuan.

Pelaporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Irena menyebut periode akuntansi bisa dihitung per bulan dan per tahun.

“Membuat laporan keuangan seluruh unit usaha BUMDes setiap bulan merupakan wewenang pengurus BUMDes,” kata Irena. Menurutnya, dengan pengurus BUMDes membuat laporan keuangan seluruh unit setiap bulan bisa mengetahui posisi keuangan BUMDes.

Laporan keuangan bisa menjadi sumber informasi untuk pengambilan keputusan, dan merupakan bentuk transparansi serta pertanggungjawaban para pengurus BUMDes dalam mengelola keuangan. Melalui laporan keuangan juga bisa mengetahui kinerja pengurus BUMDes yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan.

Irena menyebut adanya laporan keuangan dapat menimbulkan kepercayaan publik atas kinerja pengurus BUMDes. “BUMDes yang memang mau membuat dan terbuka dengan laporan keuangannya bisa menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja BUMDes. Laporan keuangan juga bisa digunakan untuk menarik investor baru,” jelasnya.

Pelaporan keuangan menjadi salah satu materi yang baru bagi peserta pelatihan. “Banyak ilmu baru yang didapatkan dan aplikasi-aplikasi baru yang membantu kami sehingga mempermudah kami dalam menganalisa usaha, membuat pertimbangan-pertimbangan usaha, membuat kas masuk dan kas keluar,” kata Firman Noor dari Desa Karangampel.

Yanto, peserta dari Desa Rejosari, mengaku adanya pelatihan ini sangat tepat sekali tetapi banyak terkendala karena masih dalam situasi pandemi Covid-19. “Mudah-mudahan ada kegiatan seperti ini lagi dan bisa bertatap muka,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Senior Manager Public Affair PT Djarum Purwono Nugroho berencana akan mengadakan pelatihan secara offline dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Kemarin kami bersama tim Lokadata berdiskusi untuk melakukan pelatihan secara tatap muka bila tidak ada kenaikan kasus,” kata Purwono.

Rencana itu dibenarkan oleh Achmad Budiharto, Vice President Bakti Djarum Foundation. “Dengan membaiknya kondisi Covid-19, harapannya bisa mengadakan pelatihan tatap muka,” ujarnya. (LA)