Skip to content

Liputan

Dapat Respon Positif, Penerapan Agroforestri Berkelanjutan Perlu Diperluas Lagi
30 August 2024
Membangun Desa, Perangkat Desa dan Masyarakat Perlu Bersinergi
03 June 2024
Mengurangi Deforestasi, Pemerintah Desa dan Kabupaten Bisa Berkolaborasi
03 May 2024

Cerita Perubahan

Desa Sejahtera Astra Mahakam Ulu: Naiknya Pamor Kakao dan Wawasan Masyarakat
09 September 2025
Perjalanan Desa Jati Kulon dalam Mengelola 6 Ton Sampah Setiap Hari
06 August 2025
Inisiasi Desa dalam Adaptasi Perubahan Iklim Melalui Perlindungan Kearifan Lokal
22 May 2025

Desa Pedawang Menuju Desa Eduwisata Penghasil Nanas

Tim BUMDes SIMASE dan mahasiswa KKN mengunjungi Rizwan, salah satu petani nanas (sumber: dokumentasi lembaga)

Daun-daun nanas berbaris rapi di seberang Taman Oasis. Berlatar puncak-puncak pegunungan Muria di sisi utara, berbagai varietas nanas tumbuh di tanah Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Kebun Nanas Nusantara Pedawang namanya.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Singo Barong di Pedawang sudah menekuni budidaya nanas sejak 2021. Bermula dari produk sirup Salinas atau Sari Kulit Nanas yang dikelola Rubiyanti cukup diminati, Yanti—panggilan akrabnya—dan komunitas ini melirik budidaya nanas sebagai peluang. Sebelumnya, Yanti dikenal dengan produk UMKM Labu Jipang yang telah terjual ke banyak kota di Indonesia.

Yanti bersama Puji, Rukani, dan kawan lainnya di Pokdarwis berinisiatif mendirikan usaha wisata bermodalkan dari bantuan Gubernur Jawa Tengah yang hendak diterima. Mereka memanfaatkan lahan bengkok desa agar lebih produktif. Lahan yang tadinya ditanami tebu akan mereka ubah secara bertahap menjadi kebun nanas terpadu. Yanti bersama rekan lainnya di Pokdarwis ingin menjadikan lahan tersebut menjadi lokasi eduwisata sekaligus dapur produksi aneka olahan nanas.

Berdirinya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sido Makmur Sejahtera (SIMASE) menjadi penerus kegiatan Pokdarwis yang telah berjalan. Kegiatan Pokdarwis merupakan embrio BUMDes di desa rintisan wisata ini menjadi faktor dominan penentuan usaha BUMDes. SIMASE pun merancang program kerja usaha olahan budidaya nanas. Hal itu dilakukan untuk menyelaraskan keduanya sebagai unit kegiatan produktif masyarakat Desa Pedawang.

Pada tahun 2021 mereka menanam bibit nanas dari beberapa daerah di Indonesia seperti Suak Riau; Subang, Jawa Barat; Prabumulih, Lampung; lokal Kudus hingga bibit dari Thailand di lahan seluas 30 x 100 meter persegi. Bibit nanas itu mereka kembangkan dengan budidaya sistem organik memakai pupuk fotosintesa racikan sendiri. Bibit nanas tumbuh menjadi daun-daun nanas yang menjulang tinggi. Beberapa bibit tumbuh menjadi nanas yang tumbuh cantik. Aneka varietas nanas yang ditanam membuat kebun sedikit beragam. Mereka pun memasang plang nama di setiap varietas bibit ini supaya mudah dikenali.

BUMDes SIMASE memulai produksi olahan nanas seperti Nata de Pina, keripik nanas nonminyak, dan olahan lainnya. Semua kegiatan produksi tersebut untuk menunjang pembangunan eduwisata Kebun Nanas Nusantara Pedawang. Bahkan Pokdarwis mengunjungi kebun nanas di Desa Cimanglid, Kasomalang, Subang untuk studi banding serta membeli bibit nanas yang unggul.

Pokdarwis juga melibatkan mahasiswa IAIN Kudus yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membantu persiapan lahan yang hendak ditanam bibit nanas, termasuk ikut belajar usaha budidaya nanas di Subang.

Pokdarwis dan kelompok mahasiswa KKN mengunjungi Rizwan, petani nanas yang terbilang sukses di Desa Cimanglid. Mereka mengikuti penyuluhan bersama petani tentang sistem penanaman bibit nanas yang baik dan produktif sesuai SOP dan permintaan pasar. Selain itu, mereka diperkenalkan dengan beberapa obat tanaman berupa cairan dan serbuk untuk menstimulasi perkembangan tanaman nanas.

Bibit nanas dari Subang yang ditanam di kebun Desa Pedawang mulai tumbuh (sumber: dokumentasi lembaga)

Saat ini bibit nanas dari Subang telah tumbuh subur. Dapur produksi olahan nanas dan galeri oleh-oleh sedang dibangun. Nantinya pengunjung bisa berkeliling melihat aneka tanaman nanas dengan cerita proses serta pengetahuan seputarnya, petik buah, menyaksikan proses produksi olahan nanas, dan membeli oleh-oleh.

Bibit nanas dari Subang yang ditanam di Pedawang menghasilkan daun berukuran panjang yang tingginya bisa mencapai lebih dari 1.2 meter. Daun-daun nanas ini memiliki potensi untuk diolah menjadi serat kain dan bahan baku aneka industri, seperti bahan baku sepatu bernilai tinggi hingga pelapis badan pesawat terbang

Nanas di kebun Desa Pedawang akan terus tumbuh meski buah dan daunnya dipetik. Banyak keuntungan yang bisa dihasilkan. Hal tersebut sejalan dengan harapan BUMDes dan Pokdarwis Desa Pedawang bisa memberikan berkontribusi untuk kemajuan desa lewat Pendapatan Asli Desa (PADes).

Bupati Kudus Hartopo mengatakan sinergi antara BUMDes dan Pokdarwis memang penting. “Kita sendiri sebetulnya sudah membuat program menuju desa mandiri. Itu artinya bagaimana desa secara mandiri mengelola potensi-potensi yang ada. Desa mengelola potensi yang ada di desanya, baik itu di sektor pariwisata, sektor UMKM atau di sektor apa saja lewat BUMDes,” katanya saat ditemui pada acara sosialisasi Museum Pati Ayam Kudus pada Kamis (15/9).

Hartopo berharap agar peran BUMDes bisa dimaksimalkan di desa-desa wisata. Menurutnya hal itu harus dimulai dari kebijakan kepala desa dan elemen lainnya yang ada di desa dalam memajukan desanya. Harapan lainnya, setiap desa ada BUMDes sehingga dapat menambah Pendapatan Asli Desa (PADes). “Makanya ini kita sendiri bagaimana di setiap desa ada BUMDes karena BUMDes adalah salah satu wadah untuk men-support bagaimana desa ini selalu ada PADes-nya.” Tutup Hartopo. (LYS)