Skip to content

Liputan

Dapat Respon Positif, Penerapan Agroforestri Berkelanjutan Perlu Diperluas Lagi
30 August 2024
Membangun Desa, Perangkat Desa dan Masyarakat Perlu Bersinergi
03 June 2024
Mengurangi Deforestasi, Pemerintah Desa dan Kabupaten Bisa Berkolaborasi
03 May 2024

Cerita Perubahan

Desa Sejahtera Astra Mahakam Ulu: Naiknya Pamor Kakao dan Wawasan Masyarakat
09 September 2025
Perjalanan Desa Jati Kulon dalam Mengelola 6 Ton Sampah Setiap Hari
06 August 2025
Inisiasi Desa dalam Adaptasi Perubahan Iklim Melalui Perlindungan Kearifan Lokal
22 May 2025

Petik Merah dan Okulasi, Solusi Budidaya Kopi Berkelanjutan

Kopi robusta petik merah yang sudah di-roasting (sumber: dokumentasi lembaga)

Kopi robusta menjadi komoditas andalan di Kerinci. Cita rasanya yang khas dengan sisa rasa manis adalah salah satu alasan kopi ini digemari sehingga permintaan meningkat.  Tak hanya itu, tren harga kopi robusta saat ini cukup tinggi. Harga green bean kopi robusta asalan saja mencapai Rp65 ribu per kilogram.

Permintaan dan harga yang tinggi pun membuat petani kopi semakin antusias menanam kopi. Petani yang sebelumnya sudah menanam kopi berlomba-lomba memanen buah-buah kopi di lahan mereka, salah satunya Muhtarom, petani kopi dari Desa Pematang Lingkung, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci.

“Cara memanennya dicampur antara hijau, kuning, dan merah karena lebih menghemat tenaga,” kata Muhtarom. Meskipun begitu, dia mengakui kalau ada perbedaan harga dan kopi dibandingkan kopi petik merah tapi dia tidak menganggap hal itu sebagai masalah.

Buah kopi yang dipanen campur akan berdampak pada kualitasnya. Semakin rendah kualitas, harga kopi semakin turun. Usia tanaman kopi pun menjadi lebih pendek. Secara tidak langsung, pendeknya usia tanaman mempengaruhi tutupan lahan di Kabupaten Kerinci.

Memulai Petik Merah

Menjemur kopi robusta di rumah jemur (sumber: dokumentasi lembaga)

Petani kopi lainnya, Khairul Hadi, sempat melakukan panen campur pada 700 batang kopi di lahannya. Dia memetik semua buah kopi tanpa melakukan proses seleksi. Seiring berjalannya waktu dan mendapat pendampingan, Khairul menyadari ada cara panen kopi yang lebih baik serta berkelanjutan. Dirinya hanya memanen buah kopi berwarna merah dan kuning sementara buah yang masih hijau dibiarkan sampai berubah warna.

Meskipun belum menerapkan praktik panen petik merah sepenuhnya, Khairul berusaha menjaga agar usia tanaman kopi lebih panjang. Selain itu Khairul mengaku terdapat perbedaan kualitas kopi yang dihasilkan. Kopi robusta petik merah mempunyai aroma yang lebih manis dan lembut dibandingkan kopi robusta petik campur.

“Dulu kopi asalan rasanya kuat. Kalau kopi dari hasil petik merah rasanya lebih lembut dan nyaman di perut, nggak buat kembung,” ungkap Khairul.

Harga kopi robusta petik merah tentu berbeda. Saat ini green bean-nya saja menembus Rp80 ribu per kilogram. Perbedaan yang cukup banyak dibanding green bean kopi robusta asalan. Tingginya harga turut meningkatkan keuntungan Khairul sebagai petani kopi.

Okulasi, Solusi Atasi Keterbatasan Stok Kopi

Petani kopi sedang uji coba teknik okulasi pada tanaman kopi. (sumber: dokumentasi lembaga)

Permintaan kopi yang tinggi melampaui stok kopi yang ada. Petani pun mulai mencari cara untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi, salah satunya melalui metode okulasi. Okulasi merupakan teknik sussy tanaman secara vegetatif, yaitu dengan cara menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lainnya. Menggabungkan sifat baik dari masing-masing tanaman bertujuan meningkatkan produksi buah kopi.

Budidaya kopi robusta menggunakan teknik okulasi mampu meningkatkan jumlah produksi hingga dua kali lipatnya dibanding kengan tanaman kopi yang dibudidayakan tidak menggunakan teknik ini. Waktu panen kopi robusta pun menjadi lebih panjang—yang menjadi keunggulan dalam kontribusi menjaga tutupan lahan di Kerinci.

“Sebagian tanaman sudah diokulasikan. Sekarang baru mulai berkembang dan berbunga. Perkiraan tahun depan berbuah.”

Teknik petik merah dan okulasi merupakan dua upaya berbeda untuk menjaga tanaman kopi. Apabila keduanya diterapkan sepenuhnya secara bersamaan, pertanian kopi berkelanjutan terwujud. Dengan begitu tutupan lahan terjaga dan deforestasi teratasi. (LA)