Skip to content

Liputan

Dapat Respon Positif, Penerapan Agroforestri Berkelanjutan Perlu Diperluas Lagi
30 August 2024
Membangun Desa, Perangkat Desa dan Masyarakat Perlu Bersinergi
03 June 2024
Mengurangi Deforestasi, Pemerintah Desa dan Kabupaten Bisa Berkolaborasi
03 May 2024

Cerita Perubahan

Panen Perdana, Selada Keriting Jadi PMT Posyandu Desa Cikole
27 July 2026
Rawat Tanah dan Jaga Pangan Lewat Pertanian Cerdas Iklim
23 July 2026
Desa Sejahtera Astra Mahakam Ulu: Naiknya Pamor Kakao dan Wawasan Masyarakat
09 September 2025

Rawat Tanah dan Jaga Pangan Lewat Pertanian Cerdas Iklim

Kelompok Wanita Tani Reksa Bumi Cikole panen pertama selada keriting di kebun (sumber: dokumentasi lembaga)

Daun sereh, sirih, mimba, hingga lengkuas kerap ditemukan di dapur sebagai bahan pelengkap mengolah pangan. Namun bagi petani wanita dan muda di Desa Cikahuripan dan Desa Cikole, bahan-bahan tersebut juga diracik sedemikian rupa hingga menjadi pestisida nabati. Bukan tanpa alasan, pembuatan pestisida dari bahan organic ini merupakan salah satu langkah konkret para petani dalam menerapkan Climate-Smart Agriculture (CSA) sebagai cara merawat tanaman sekaligus tanah.

CSA atau Pertanian Cerdas Iklim adalah pendekatan modern untuk, salah satunya, mengelola lahan pertanian supaya lebih tahan terhadap perubahan iklim. Salah satu praktik Pertanian Cerdas Iklim mendorong petani memanfaatkan bahan-bahan organik untuk diolah dan digunakan sebagai komponen perawatan tanaman, seperti pestisida nabati, tricoderma sebagai pengendali penyakit, dan bakteri fotosintesis untuk menutrisi tanaman sekaligus pestisida alami.

“Banyak sumber daya yang sebenarnya sudah tersedia di sekitar kita, seperti sisa tanaman, kompos, pupuk kandang, atau mikroorganisme alami yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah. Alam telah menyediakan banyak hal yang kita butuhkan jika kita mau belajar mengenal dan memanfaatkannya dengan bijak.” Kata Linda Dayanti, pendamping Kelompok Wanita Tani dan Karang Taruna Desa Cikole dan Cikahuripan.

Lebih lanjut, Linda juga menjelaskan bahwa Pertanian Cerdas Iklim bukan berarti menolak teknologi dan inovasi modern. Pertanian Cerdas Iklim justru mengajak petani menyelaraskan antara ilmu pengetahuan dan teknologi secara bijaksana sehingga produktivitas dapat meningkat tanpa merusak lingkungan. Dengan begitu petani tetap mampu menghasilkan pangan yang cukup di tengah menghadapi dampak perubahan iklim.

Praktik Pertanian Cerdas Iklim sudah dilakukan oleh beberapa Kelompok Wanita Tani dan Karang Taruna di Kabupaten Bandung Barat. Para petani wanita dan muda menanam beragam tanaman sayuran, salah satunya selada keriting. Dalam proses budidaya, mereka mencampurkan pupuk organik dan pestisida nabati buatan sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemui.

Setelah 45 hari setelah tanam (HST), hasil panen selada keriting tampak lebih lebat. “Kami baru pertama kali tanam selada keriting. Hasilnya memuaskan, di luar perkiraan. Jadi makin semangat menanam lagi.” Ungkap Sri Hartati, local champion Kelompok Wanita Tani Reksa Bumi Desa Cikole.

Hasil panen yang sama juga dirasakan oleh Karang Taruna Seja Bakti Desa Cikole. Meski baru tiga bedeng yang dipanen, hasilnya juga memuaskan. Sebelumnya mereka sudah pernah menanam selada tetapi pada panen kali ini, ada dampak lain yang dirasakan setelah menerapkan Pertanian Cerdas Iklim.

“Tanah di lahan ini tidak jenuh dan keras. Tanah justru gembur, jadi tanaman selada keriting di sini bisa tumbuh bagus. Tidak mudah diserang hama dan penyakit.” Kata Yudha Setiawan, Ketua Karang Taruna.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Aples, anggota pemuda Kelompok Tani Cikahuripan. Tanaman selada yang mereka tanam tumbuh subur di lahan seluas 280 meter persegi. Pada panen terakhir, Kelompok Tani berhasil memanen sekitar 200 kilogram selada.

Praktik ini terbukti dapat menjaga pangan lokal sekaligus merawat alam di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. Pertanian Cerdas Iklim bukan sekadar bentuk respon oleh petani terhadap dampak perubahan iklim, melainkan juga untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan alam. Semakin alam terjaga, semakin lama alam memberikan tempat terbaik bagi generasi yang akan datang. (LA)