Gugur Gunung, Cara Warga Tanjung Melawan Mitos Pulung Gantung

 

Tanjung9-300x225
Warga Dusun Tanjung, Desa Bleberan, menggiatkan kembali gugur gunung yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (19/1) – Tingginya angka gantung diri di Kabupaten Gunungkidul hingga kini belum ditemukan solusi yang paling tepat dari pemerintah setempat. Masyarakat tradisional Dusun Tanjung, Desa Bleberan, Playen merupakan salah satu dusun mitra Penabulu, merasa ‘risih’ menyikapi kesan sebagai dusun penyumbang angka kasus gantung diri Gunungkidul. Tokoh masyarakat, pemuda dan kelompok perempuan berusaha keras melawan mitos pulung gantung dengan gugur gunung atau kegiatan kerja bakti.

“Kami bersama-sama seluruh warga Tanjung berusaha keras melawan mitos pulung gantung. Salah satu cara yang kami lakukan dengan menggiatkan gugur gunung (kerja bakti). Semua masyarakat wajib terlibat kegiatan ini. Dari usia anak sampai lansia,” kata aktivis taruna tani Dusun Tanjung, Desa Bleberan Edi Supatmo memimpin gerakan gugur gunung bersih-bersih kali pada Minggu (17/1) lalu.

Gagasan menggerakkan seluruh masyarakat wajib mengikuti gugur gunung setiap minggu pagi hingga siang awalnya muncul dari sejumlah tokoh masyarakat. Harapannya cukup sederhana. Adanya kegiatan gugur gunung otomatis menciptakan dusun ‘lebih hidup’ dan semakin ramai. Padatnya kegiatan gugur gunung yang melibatkan seluruh warga, diharapkan warga tidak akan memiliki waktu luang untuk berpikir tentang kematian dan gantung diri.

Edi menilai gantung diri selama ini dilatarbelakangi karena ada permasalahan pribadi tetapi tidak ada kesibukan yang harus dilakukan. Kondisi tersebut mendorong orang menyerah menghadapi persoalan yang membelenggu hidupnya.

“Menjadikan kampung padat kegiatan dan melibatkan semua unsur masyarakat inilah yang sedang Tanjung lakukan. Tentu dibutuhkan upaya-upaya pendekatan bagi mereka yang punya masalah dan tidak aktif terlibat kegiatan gugur gunung,” tambahnya.

Kaur Perencanaan Desa Bleberan Taufik Ari Wibowo yang juga salah satu tokoh penggerak masyarakat Tanjung membenarkan masalah sosial di dusunnya. Ari sependapat cara menjauhkan gagasan gantung diri dengan memberikan kesibukan dan tanggungjawab untuk semua masyarakat dalam peran serta program dan kegiatan dusun. Kegiatan gugur gunung tahap pertama kemarin berjalan ketat.

Warga yang tidak terlibat langsung dalam bersih-bersih kali diwajibkan terlibat dalam urusan lain seperti bertugas di dapur umum yang dipusatkan di sekretariat Taruna Tani Ubet Manunggal. Ari berharap kehadiran Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation (SGF) dari Korea Selatan ke Desa Bleberan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas masyarakat sipil mampu menjadi bagian dalam menyikapi kasus gantung diri di Tanjung. Baik melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan pertanian, kaum perempuan, khususnya usia renta (lansia) yang rentan sebagai pelaku gantung diri.

Secara terpisah, Kepala Dusun Tanjung Wakidi mengakui dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk mengubah cara pandang masyarakat tradisional. Kegiatan gugur gunung massal merupakan bagian dari upaya tokoh dusun yang perlu mendapat dukungan dan ragam kegiatan kesibukan lain bagi warganya bisa terlibat langsung. Dirinya tidak menampik, angka gantung diri di dua dusun Tanjung I dan Tanjung II tergolong tinggi.

Pada akhir 2014 sampai 2015 tercatat ada tiga warganya nekat gantung diri. Malah, dalam kurun waktu tertentu lebih dari 15 tahun terakhir total ada sembilan kejadian bunuh diri baik dengan cara gantung diri maupun minum racun. “Keterlibatan relawan dari Penabulu dan SGF dalam kegiatan gugur gunung tahap pertama kemarin cukup memotivasi warga kami semakin kompak,” pungkas Wakidi. (ETG)