Menumbuhkan Semangat Kewirausahaan bagi Guru PAUD dan Kader PKK Desa Bleberan

 

Kader PKK dan Guru PAUD Desa Bleberan antusias menyimak penjelasan dan panduan dari Agus Hartono, pendamping kelompok masyarakat pemanfaat sampah.
Kader PKK dan Guru PAUD Desa Bleberan antusias menyimak penjelasan dan panduan dari Agus Hartono, pendamping kelompok masyarakat pemanfaat sampah. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (8/4) – Aktivis perempuan yang bergerak di bidang pembangunan masyarakat desa PKK dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul, tumbuh atas kesadaran dan semangat kewirausahaan melalui pelatihan keterampilan pemanfaatan sampah dan barang bekas menjadi barang bermanfaat yang bernilai ekonomi. Pelatihan dan peningkatan keterampilan kewirausahaan PKK dan guru PAUD juga menjadi bagian dari respon perempuan Desa Bleberan terhadap gerakan pengurangan volume sampah rumah tangga, khususnya sampah plastik yang tengah mengancam kelestarian bumi.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Bleberan, Saemaul Globalization Foundation (SGF) Korea Selatan bekerja sama dengan Yayasan Penabulu mengadakan Peningkatan keterampilan dan kapasitas Kader PKK dan Guru PAUD. Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat sipil desa melalui pelatihan-pelatihan ini kelima kalinya dilaksanakan di tahun 2016 oleh SGF Korea Selatan dan Yayasan Penabulu setelah sebelumnya menyasar kalangan pelaku pertanian seperti kelompok tani, wanita tani dan taruna tani, serta kampanye desa ramah anak dan perempuan.

Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu Sri Purwani menyatakan salah satu upaya meningkatkan peran perempuan dalam penyelenggaraan pembangunan desa salah satunya membangun pemahaman kelompok perempuan desa. Program Saemaul Undong yang diperkenalkan di Indonesia menekankan pada dua sektor, yakni pertanian dan pemberdayaan perempuan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Menurut Ani, mau tidak mau menuntut tumbuhnya jiwa enterprenuership kelompok perempuan sebagai bagian dari kelompok rentan di tengah masyarakat tradisional. Aktivis pemberdayaan desa dari Yayasan Penabulu ini juga berharap, pelatihan awal dalam pemanfaatan barang bekas menjadi karya kreatif ini menjadi perhatian serius bagi kader penggerak PKK Bleberan untuk mendorong perempuan lain di sebelas dusun Bleberan agar mampu menangkap peluang pasar yang masih cukup terbuka untuk produk kreatif perempuan dalam memperkuat destinasi pariwisata Bleberan dengan nilai ekonomi di dalamnya.

Salah satu pegiat PKK Desa Bleberan, Sultonah, mengatakan kelompok perempuan menjadi elemen masyarakat yang paling strategis merespon gerakan melawan sampah plastik. Sampah plastik pun dimanfaatkan sebagai bahan membuat beberapa jenis suvenir cantik seperti gantungan kunci, kipas, bros pakaian perempuan.

“Semua kita coba dari sampah-sampah plastik mie instan, minyak goreng, kemasan makanan, dan sejenisnya menjadi produk kerajinan kreatif. Ternyata cukup menarik dan mengundang antusias peserta yang terlibat,” kata Sultonah di Balai Desa Bleberan.

Untuk memperkaya kreativitas perempuan mendaur ulang barang bekas sampah rumah tangga, mereka mengundang Agus Hartono dari Kotagede, praktisi yang berkiprah melakukan pendampingan kelompok masyarakat dan pemanfaatan sampah menjadi produk hasta karya kreatif. “Dari pemahaman dan identifikasi sampah lingkungan sampai praktik menjadi tema belajar kami,” imbuh Sultonah.

 

Hasil karya peserta pelatihan produk olahan pemanfaatan barang bekas berupa kipas, gantungan kunci, bros, dan dompet.
Hasil karya peserta pelatihan produk olahan pemanfaatan barang bekas berupa kipas, gantungan kunci, bros, dan dompet. (sumber: dokumentasi lembaga)

Kepala Desa Bleberan Supraptono menambahkan kegiatan kreatif kader PKK dan guru PAUD-TK di Desa Bleberan pantas mendapat apresiasi. Sampah plastik yang telah dipilah menjadi beberapa kategori dan dimanfaatkan menjadi produk kreatif tidak saja membantu meningkatkan kemampuan guru PAUD dan TK untuk memperkaya edukasi bagi peserta didik, melainkan juga berpeluang memperkuat sektor parwisata desa.

Supraptono melihat potensi wisata Desa Bleberan Air Terjun Sri Getuk selama ini masih diperkuat suvenir dan handy craft pasokan dari luar daerah. Ia berharap pelatihan perdana bisa berlanjut agar karya dihasilkan siap bersaing di pasar dan layak jual.

“Pada saatnya nanti hasta karya ini sudah mendekati sempurna dan layak jual maka pihak desa siap merespon agar bisa mengambil peluang wisata desa. Pelatihan ini juga bertujuan kesana,” ujar Supraptono. (ETG)