Pendidik PAUD Perlu Kreatif dan Paham Hak Anak

pendidik-paud-perlu-kreativitas-dan-paham-hak-anak2
Karya seni oleh anak di PAUD. (sumber: dokumentasi lembaga)

Bantul (3/8) – Sejak digulirkannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), banyak pendidik baru lahir, mulai dari tingkat desa sampai perkotaan, mulai dari model PAUD sederhana hingga yang lengkap dengan sarana-prasarana termasuk Alat Permainan Edukasi (APE).

Namun, menjamurnya PAUD kurang diimbangi dengan pendampingan, terutama bagi para pendidik khususnya yang berada di tingkat pedesaan. Banyak PAUD yang tidak mempunyai sarana-prasarana APE memadai. pendidiknya pun ala kadar dan kurang paham terhadap pengambangan pola.

Menyikapi hal tersebut, Yayasan penabulu bekerjasama dengan Saemaul Globalization Foundation Korea Selatan, mengadakan pelatihan Peningkatan Kapasitas bagi Para Pendidik PAUD se-Desa Sumbermulya Kecamatan Bambanglipura Bantul. Kegiatan diikuti sekitar 22 para pendidik PAUD dan mengambil lokasi di Balai Desa Sumbermulya.

Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan berbagai barang bekas yang bisa didaur ulang dan ramah lingkungan. Sehingga dapat meningkatkan pengetahuan maupun ketrampilan pendidik PAUD terhadap permainan yang sarat dengan nilai-nilai universal yang berguna bagi pembentukan karakter anak.

Menghadirkan narasumber Prastiwi Wulandari dari HIMPAUDI Kecamatan Bambanglipuro dengan 2 materi utama, yaitu pola pendidikan anak usia dini dan bentuk-bentuk permainan edukatif.  Selanjutnya materi yang disampaikan oleh Sri Purwani dari Yayasan Penabulu mengangkat tema mendidik dengan hati.

Prastiwi menegaskan pendidik perlu memahami tiga pola permainan utama, yakni permainan yang terkait dengan sensorimotor, simbolik, dan pembangunan sehingga jangan asal bermain.

Kemudian Sri menjelaskan pendidik harus paham tentang hak anak yang ada empat: hak perlindungan, hak partisipasi, hak tumbuh kembang dan hak hidup. Selain itu juga kecerdasan anak bukan hanya pada cerdas angka, tetapi ada sembilan kecerdasan, mulai dari angka, bahasa, kata, musik, dan lain sebagainya. Melihat kecerdasan tiap anak berbeda, maka pendidik PAUD wajib berasumsi bahwa semua anak cerdas.

Pelatihan selama dua hari diakhiri dengan praktek membuat alat-alat permainan edukasi yang sangat membantu keterampilan pendidik PAUD dalam mengembangkan pola pendidikan sarat nilai dan permainan dan dari pelatihan ini diharapkan ada proses pelatihan lanjutan yang memperkuat proses pembangunan karakter anak. (AK)