Perkumpulan Desa Lestari Adakan Pelatihan Fasilitator

Bantul (2-4/2) – Perkumpulan Desa Lestari mengadakan in-house training fasilitator kepada 12 orang yang tergabung menjadi tim kerja. Kegiatan selama 3 hari ini dilaksanakan di Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul pada Rabu-Jumat (2-4/2).

In-house training kali ini bertujuan meningkatkan kapasitas fasilitasi pada tim kerja Perkumpulan Desa Lestari, mengingat hampir sebagian besar aktivitas kerja lembaga tersebut memberikan fasilitas bagi desa-desa yang melakukan berbagai aktivitas seperti menyusun RPJMDes dan mendirikan BUMDes dalam rangka menuju desa mandiri. Keterampilan mengembangkan alat fasiliasi juga menjadi fokus pada in-house training agar kegiatan fasilitasi tidak hanya efektif tetapi juga menarik.

Nurul Purnamasari selaku Penanggungjawab Perkumpulan Desa Lestari mengaku telah merencanakan in-house training sejak dua tahun lalu. Namun situasi pandemi Covid-19 yang merebak sejak awal 2020 membuat kegiatan tersebut baru bisa dilaksanakan di awal tahun 2022.

Tino Yosepyn, salah satu trainer, menyampaikan materi tentang dasar fasilitasi. “Fasilitasi adalah proses sadar dan sepenuh hati membantu (untuk) mempermudah seseorang atau kelompok agar mudah mencapai tujuannya dengan taat pada nilai-nilai partisipatif.” Jelasnya.

Pada dasarnya, lanjut Tino, fasilitator berperan memandu proses berjalannya diskusi pada satu forum yang hendak mencapai tujuan bersama secara musyawarah mufakat. Tino menekankan juga untuk menghindari pemungutan suara atau voting dalam mencapai tujuan. Voting menyebabkan adanya suara yang tidak didengar, dan hal itu sebisa mungkin tidak menjadi opsi dalam pengambilan keputusan bersama.

Budi Susilo sebagai trainer kedua menjelaskan tentang kuadran fasilitator dan desain proses fasilitasi sebagai design thinking yang perlu diterapkan oleh fasilitator. Tujuannya agar nantinya fasilitator bisa memfasilitasi forum diskusi di desa-desa dengan teknik yang tepat, efektif, dan tetap menarik.

Selain materi, trainer memberikan berbagai tugas kecil kepada peserta sebagai metode pelatihan, seperti menuliskan kompetensi fasilitator dan membuat slogan tentang fasilitator. Di hari terakhir, peserta pelatihan juga melakukan simulasi fasilitasi sebagai praktik akhir sebelum pelatihan selesai.

Nurul berharap adanya in-house training bisa meningkatkan kapasitas tim kerja dalam hal menjadi fasilitator serta “me-refresh” kemampuan bagi anggota yang sebelumnya telah melakukan fasilitasi di berbagai desa di Indonesia.

“Harapannya setelah pelatihan ini selesai, teman-teman bisa menjadi diri yang baru, dalam artian kemampuan fasilitasi meningkat dan kembali segar di ingatan bagi teman-teman yang sudah berpengalaman sebelumnya.” Ucap Nurul. (LA)