Tekad Besar untuk Libatkan Anak dalam Musrenbangdes

Peserta pelatihan melakukan simulasi pengkategorian permasalahan anak di desa.
Peserta pelatihan melakukan simulasi pengkategorian permasalahan anak di desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Palu (11/11) – Sebanyak 18 tokoh masyarakat dari sembilan desa mitra Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP Kabupaten Sigi mengikuti Training of Trainer (ToT) Pelibatan Anak dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Palu. Kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada 8-11 November 2016 merupakan bentuk kerja sama WVI ADP Sigi dengan Yayasan Penabulu.

Fasilitator Penabulu Sri Purwani memaparkan tiga kategori materi tentang regulasi desa, memotret desa, dan proses perencanaan partisipatif. Ketiga kategori tema dikemas sesuai kondisi fisik dan psikologi anak supaya perencanaan pembangunan desa tidak hanya melibatkan anak-anak saja melainkan juga memiliki kesadaran dan keberpihakan pada pemenuhan kebutuhan anak-anak di desa.

Selama empat hari mengikuti pelatihan, peserta diajak mencermati dan mengambil poin-poin penting dalam regulasi tentang desa, mulai dari undang-undang hingga peraturan daerah. Tidak hanya menyampaikan materi, fasilitator juga mengajak peserta untuk diskusi, melakukan permainan, simulasi, dan role play

Sebelum ada kegiatan ini, beberapa masyarakat Sigi merasa partisipasi anak-anak pada Musrenbangdes kurang. Zuliatin, salah satu peserta dari Desa Balene, Sulawesi Tengah mengatakan mereka hanya mempunyai tekad.

“Hanya tekad yang kami punya, agar kami dapat dorong anak terlibat dalan Musrenbangdes di desa,” katanya.

Adanya pelatihan ini membantu masyarakat yang menjadi peserta dengan memberikan gambaran cukup startegis bagi desa-desa mitra. Sehingga bisa meminimalisir berbagai kasus pelanggaran hak anak yang masih kerap terjadi di Sulawesi Tengah.

Keterlibatan tokoh lokal laki-laki, perempuan, dan pemerhati anak, serta dukungan program pemerintah yang berpihak pada anak dalam musrenbangdus atau musrenbangdes diharapkan mampu menampung aspirasi pemangku kepentingan strategis di desa untuk memperoleh jaminan program yang adil.

Program yang adil tidak hanya adil bagi masyarakat dewasa, tetapi harus memberi ruang berkreasi dan berinovasi bagi usia anak-anak dalam perencanaan pembangunan desa. Hal inilah yang diharapkan bisa menjadi sumber pendidikan kewarganegaraan secara berjenjang. Harapannya pelatihan untuk co-fasilitator ini mampu menjadi media yang menjembatani usulan anak-anak, serta mengenalkan model berdemokrasi yang benar dan adil kepada anak-anak di desa mitra WVI ADP Sigi. (FSP)