Anak Berhak Terlibat dalam Musrenbangdes

Anak-anak belajar menemukan permasalahan yang terjadi di desa dengan mencocokkan gambar dan kondisi desa.
Anak-anak belajar menemukan permasalahan yang terjadi di desa dengan mencocokkan gambar dan kondisi desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Palu (22/11) – Anak-anak menjadi pelaku pembangunan. Antusiasme anak-anak yang bersimulasi turut dalam perencanaan pembangunan desa memberikan gambaran jika selama ini mereka hanya objek pembangunan orang dewasa.

Sebanyak 27 remaja usia 12-16 tahun dari sembilan desa mitra WVI ADP Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah mengikuti Kelas Partisipasi Pelibatan Anak dalam Musrenbangdes. Kegiatan pendampingan dilakukan setelah anak-anak pulang dari sekolah (pukul 14.00 – 17.30 WITA) dan hari Minggu, sehingga tidak mengganggu proses kegiatan sekolah formal. Selama lima hari sejak 18 – 22 November 2016, kelas Partisipasi diadakan di Amazing Resort Hotel Palu dan Desa Wayu di Kabupaten Sigi dengan Sri Purwani sebagai fasilitator dari Yayasan Penabulu

Proses belajar yang partisipatif mampu membangkitkan antusiasme para peserta yang notabene harus berhadapan dengan materi baru yang biasanya menjadi ranah pikiran orang dewasa. Fasilitator memperkenalkan tentang desa, hak-hak anak, pemetaan kebutuhan anak, maupun penggalian potensi desa dari kacamata anak-anak. Metode belajar disesuaikan dengan kondisi psikologis anak, yaitu diskusi dan paparan materi dengan cara bermain, bercerita, pemutaran film. Antusiasme anak-anak dalam kegiatan ini memberikan spirit bagi setiap proses belajar.

Sebanyak 27 remaja ini memiliki daya kritis dan keberanian berpendapat menyampaikan usulan kegiatan pembangunan desa yang menjadi harapan mereka. Ada banyak masalah yang ditemukan di desa diantaranya ketersediaan listrik, belum banyak rumah tangga yang memiliki fasilitas MCK, akses jalan yang minim, maraknya kekerasan terhadap anak oleh pendidik dan orang tua, ketidakharmonisan keluarga, hingga pernikahan dini. Kasus-kasus tersebut muncul dari pemetaan kondisi anak di sembilan desa mitra dengan cara pengelompokan keadaan yang tidak disenangi dan harus dihadapi.

“Saya tidak ingin di desaku banyak orang mabuk dan anak yang tidak bersekolah lagi,” harapan Trivena Cornelia dari Desa Dombu.

Beberapa temuan seperti yang disampaikan oleh Trivena itulah yang selanjutnya disuarakan oleh anak-anak ketika mereka membuat pernyataan “Desaku Harapanku” versi anak. Kondisi tersebut akan dibawa oleh perwakilan anak yang ikut dalam sesi-sesi Kelas Partisipasi Anak dalam Musrenbangdes dalam pra-musrenbangdes khusus kelompok anak. Dari tahap pra-musrenbangdes khusus kelompok anak di masing-masing desa bertujuan menemukan prioritas usulan untuk diteruskan dalam musrenbangdes yang pendampingan dari para co-fasilitator yang telah mengikuti proses ToT sebelumnya.

“Anak-anak yang selama ini dianggap remeh oleh orang tua, ternyata mampu memetakan masalah desa yang dirasakan. Mereka mampu menjelaskan apa potensi desa, titik rawan di desa, bahkan peta kondisi sosial desa,” ungkap Sri. Proses ini tentu akan lebih memberikan sisi edukasi untuk anak karena telah memberikan kesempatan anak untuk belajar berpendapat dan terlibat dalam proses perencanaan pembangunan. (FSP)

Tekad Besar untuk Libatkan Anak dalam Musrenbangdes

Peserta pelatihan melakukan simulasi pengkategorian permasalahan anak di desa.
Peserta pelatihan melakukan simulasi pengkategorian permasalahan anak di desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Palu (11/11) – Sebanyak 18 tokoh masyarakat dari sembilan desa mitra Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP Kabupaten Sigi mengikuti Training of Trainer (ToT) Pelibatan Anak dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Palu. Kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada 8-11 November 2016 merupakan bentuk kerja sama WVI ADP Sigi dengan Yayasan Penabulu.

Fasilitator Penabulu Sri Purwani memaparkan tiga kategori materi tentang regulasi desa, memotret desa, dan proses perencanaan partisipatif. Ketiga kategori tema dikemas sesuai kondisi fisik dan psikologi anak supaya perencanaan pembangunan desa tidak hanya melibatkan anak-anak saja melainkan juga memiliki kesadaran dan keberpihakan pada pemenuhan kebutuhan anak-anak di desa.

Selama empat hari mengikuti pelatihan, peserta diajak mencermati dan mengambil poin-poin penting dalam regulasi tentang desa, mulai dari undang-undang hingga peraturan daerah. Tidak hanya menyampaikan materi, fasilitator juga mengajak peserta untuk diskusi, melakukan permainan, simulasi, dan role play

Sebelum ada kegiatan ini, beberapa masyarakat Sigi merasa partisipasi anak-anak pada Musrenbangdes kurang. Zuliatin, salah satu peserta dari Desa Balene, Sulawesi Tengah mengatakan mereka hanya mempunyai tekad.

“Hanya tekad yang kami punya, agar kami dapat dorong anak terlibat dalan Musrenbangdes di desa,” katanya.

Adanya pelatihan ini membantu masyarakat yang menjadi peserta dengan memberikan gambaran cukup startegis bagi desa-desa mitra. Sehingga bisa meminimalisir berbagai kasus pelanggaran hak anak yang masih kerap terjadi di Sulawesi Tengah.

Keterlibatan tokoh lokal laki-laki, perempuan, dan pemerhati anak, serta dukungan program pemerintah yang berpihak pada anak dalam musrenbangdus atau musrenbangdes diharapkan mampu menampung aspirasi pemangku kepentingan strategis di desa untuk memperoleh jaminan program yang adil.

Program yang adil tidak hanya adil bagi masyarakat dewasa, tetapi harus memberi ruang berkreasi dan berinovasi bagi usia anak-anak dalam perencanaan pembangunan desa. Hal inilah yang diharapkan bisa menjadi sumber pendidikan kewarganegaraan secara berjenjang. Harapannya pelatihan untuk co-fasilitator ini mampu menjadi media yang menjembatani usulan anak-anak, serta mengenalkan model berdemokrasi yang benar dan adil kepada anak-anak di desa mitra WVI ADP Sigi. (FSP)