Perkuat Layanan dan Usaha Desa, Lima Desa Gunungkidul Ingin Seriusi SID

Pasar Ngenep di Desa Dadapayu yang menjadi poros ekonomi desa (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (6/5) – Sistem Informasi Desa (SID) menjadi pintu masuk layanan berbagai data dan informasi desa, membawa pengaruh kuat jalannya pemerintahan yang transparan dan partisipastif ditengah gencarnya pembangunan desa. Setidaknya ada lima desa di Kabupaten Gunungkidul, DIY yang menyatakan berminat mengarap program SID secara lebih serius untuk mewujudkan layanan data informasi masyarakat secara online.

Lima desa berada di wilayah Kecamatan Semanu tersebut antara lain Semanu, Ngeposari, Dadapayu, Candirejo, dan satu desa yang memiliki dusun terbanyak yakni Pacarejo. Kelimanya memiliki potensi sumber daya yang cukup beragam dan potensial untuk dikembangkan lagi.

Kepala Desa Ngeposari Ciptadi menyampaikan kepada Desa Lestari bahwa potensi desa yang dipimpin sebenarnya dapat mendorong semakin hidupnya gerak perekonomian desa. Potensi desa tersebut adalah sumber daya alam gua di bawah kawasan karst perut bumi. Terdapat tiga gua yang cukup memungkinkan untuk didorong sebagai paket alternatif pariwisata desa. Ketiga gua yang memungkinkan untuk daya tarik wisata minat khusus susur gua dengan jarak tempuh 80 menit dan terintegrasi yakni Gua Jamprong, Gua Gesing, dan Gua Sinden.

“Sengaja kami belum launching produk wisata gua itu sebelum semuanya siap. Termasuk SID itu harus siap. Selain itu, kami butuh mitra untuk menggarap BUMDes dan SID supaya ke depan ada integrasi,” kata Ciptadi di ruang kerja (05/05).

Menurutnya SID memiliki andil besar bukan hanya sebagai layanan data dokumentasi desa, tetapi juga menjadi media desa yang bisa efektif digunakan jalur pemasaran dan promosi produk desa. “Kami minat menggarap SID ini agar lebih baik lagi,” katanya.

Desa Ngeposari yang terbagi menjadi 19 dusun sedang menggagas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Rencananya BUMDes akan fokus pada empat unit layanan usaha yaitu pengelolaan pasar desa, pengembangan sektor pariwisata, pertanian, dan simpan pinjam modal usaha.

Desa Ngeposari menjadi satu-satunya desa yang memiliki aplikasi arsip dan bekerja sama dengan lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ARSI). Hal itu menjadikan desa berpenduduk 9.741 jiwa ini unik.  Tak heran jika beberapa desa lain sering menghubungi Ngeposari untuk mengurus arsip data dan kebutuhan surat.

Tak hanya itu, tata layanan desa dalam program nasional (Prona) sertifikasi tanah masyarakat kurun waktu dua tahun memberlakukan Desa Rp0,- mendapat kepercayaan Badan Pertanahan sebagai desa model percontohan. “Kami ingin bisa bermitra untuk SID ini,” ujar Ciptadi.

Kebutuhan untuk lebih serius mengelola SID juga disampaikan Sekretaris Desa Semanu Suhartanto saat ditemui di tempat terpisah. Pasokan informasi kegiatan dan pembangunan desa selama ini masih luput dari publikasi melalui SID. Pasalnya pelatihan selama ini baru menjawab cara input data data seperti profil dan data kependudukan. Menurut Suhartanto pelatihan belum menyasar aspek teknis pengelolaan website khususnya penulisan kegiatan yang baik. Selama ini pelatihan belum menjawab kendala yang ditemui desa, salah satunya penyajian tulisan yang struktur, menarik dan berkesinambungan.

“Kami perlu pelajari lebih banyak lagi tentang teknis penulisan agar penyampaian informasi lebih enak dibaca dan pasokan (tulisan) yang stabil. Kami harus belajar tentang jurnalistik,” ucap Suhartanto sembari memaparkan potensi desa yang terkenal dengan sebutan sego abang sayur lombok ijo pernah dipilih Presiden Jokowi makan siang dalam kunjungan dinas.

Sementara itu Kepala Bagian Pemerintahaan Dadapayu selaku penjabat Sekretaris Desa Sutanto juga memaparkan perlunya SID terus dipelajari. Terlebih, pejabat desa di Desa Dadapayu yang semula mengampu pekerjaan tersebut meninggal dunia sehingga diperlukan pengganti dalam tata pengelolaannya. Ia menambahkan, meskipun saat ini baru berupaya pengadaan tower untuk kelancaran jaringan internet, hal itu tak mengurungkan niat desa untuk mengembangkan SID lebih baik lagi.

Salah satu kendala umum desa dalam pengembangan SID adalah tidak adanya keterampilan dasar jurnalistik. Hal ini juga diakui Sekretaris Desa Candirejo, Triyanto. Pada bincang-bincang di tempat terpisah, Triyanto menyatakan kesiapan pemerintah desa mefokuskan dua personil khusus pengelolaan SID. SID dari sisi layanan data akan lebih membuat efektif pelayanan desa sekaligus mempercepat agenda desa sampai kepada masyarakat.

Senada dengan yang disampaikan Pemerintah Desa Pacarejo, pemanfaatan SID yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul belum maksimal. Maka, kelima desa di Semanu ini berharap ada pihak yang mengandeng dan melibatkan dalam program peningkatan tata kelola SID. (ETG)