Skip to content

Liputan

Memahami Kerentanan Sosial Desa Akibat Pandemi Covid-19 melalui Diskusi Publik
25 October 2021
Kementerian Desa bersama Mitra Siapkan Modul untuk Desa Cerdas
12 October 2021
Kementerian Desa Ajak Empat Organisasi menjadi Mitra Program Desa Cerdas
27 September 2021

Cerita Perubahan

Penatausahaan Keuangan Tingkatkan Efektivitas BUMDes
05 May 2021
Rencana Keuangan, Penentu Keberhasilan BUMDes
28 April 2021
Perluas Jangkauan Promosi, BUMDes Mulai Manfaatkan Digital Marketing
22 April 2021

Ekspedisi Awal Sungai Tanjung Wujudkan Mimpi Warga

Kano menyusuri Kali Tanjung (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (19/1) – Dusun Tanjung memiliki sungai berkelok-kelok sepanjang hampir satu kilometer dengan kanan kirinya pepohonan tumbuh lebat. Di sekitar sungai nampak hamparan padi, palawija dan sayuran hijau. Di pangkal aliran sungai itu berdirilah bendungan, membuat aliran air kali selebar sekitar 100 meter tidak hanya berbuang sia-sia.

Air di bendungan memiliki kedalaman sekitar dua meter ini menjadi stok cadangan air dari alam bagi sektor pertanian yang menjadi sandaran hidup warga dua dusun Tanjung I dan Tanjung II, di Desa Bleberan, Playen. Itulah aset potensi alam yang dimiliki Dusun Tanjung. Masyarakat setempat kini tengah merintis lokasi itu sebagai salah satu obyek wisata berbasis pertanian untuk memperkuat pariwisata desa air terjun Sri Gethuk yang sudah mapan. 

Aktivis Taruna Tani Ubet Manungal Tanjung Edi Supadmo termasuk penggerak warga untuk mewujudkan wisata pertanian ke depan. Persiapan dilakukan dengan menggelar gugur gunung atau kerja bakti masal bersih-bersih sungai serentak diikuti warga Tanjung.

“Kegiatan ini kami lakukan serentak dan bertahap. Gugur gunung tahap pertama Minggu ini diikuti sekitar 200 warga dan baru menyasar sekitar 200 meter. Kami harus ‘babat alas’ seperti mengangkat sampah plastik dan kain yang menggenang, sebagian membasmi tumbuhan liar di sepanjang kali ini,” kata Edi memimpin gugur gunung pada Minggu (17/1).

Sampah sungai seperti dedaunan, plastik, kain, bahkan kain pembalut yang menyangkut di akar-akar pohon sepanjang kali diangkat oleh warga dengan berbagai alat untuk selanjutnya dimusnahkan. Puluhan peserta gugur gunung kaum perempuan juga dengan terampilnya memainkan peralatan yang dibawa untuk membabat habis rumput liar yang sudah setinggi lutut orang dewasa. 

Menurut Edi, kegiatan gugur gunung melibatkan semua kalangan remaja, pemuda dan juga kaum perempuan ini akan terus digencarkan untuk pekan-pekan berikutnya. Kegiatan ditargetkan dapat menjangkau sepanjang sungai sampai bendungan yang memang ‘diincar” menjadi lokasi utama wahana wisata pertanian Tanjung yang belum bernama ini.

Pekerjaan babat alas tim ini bukanlah pekerjaan mudah. Penabulu menjadi bagian dari tim ekspedisi bertugas melakukan survei dan menjelajah kali yang kanan kirinya masih mengundang kesan “wingit”. Mbah Pur, salah satu sesepuh Dusun Tanjung, dan Kades Bleberan Supraptono sempat membagi pengalaman ‘janggal’ untuk tim ekspedisi agar Edi, Kepala Dusun Wakidi dan Penabulu supaya lebih berhati-hati.

“Yang jelas ucapkan salam permisi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Mbah Pur menutup kisah aneh kendaraan penambang pasir bernuansa mistis.

Ekspedisi menjelajah Sungai Tanjung harus ditempuh dengan menyeberang anak kali, melompat pagar sawah, memutar pematang sawah dan membelah semak durian yang memang belum tersasar kerja bakti perdana warga pada hari itu. “Semangat gotong royong, berdikari dan pantang menyerah harus dikobarkan mendasari kegiatan kita ini,” kelakar pria berambut gondrong menggelorakan dari inti pelatihan penguatan masyarakat sipil Semaul Globalization Foundation (SGF) Korea dan LSM Penabulu yang diikuti beberapa hari sebelumnya.

Sampailah ekspedisi jelajah Sungai Tanjung. Tim yang dikomandani pegiat tani muda dan Kepala Dusun ini segera membuat analisa dari pengamatan proses penjelajahan. Hasilnya, sepanjang sungai layak menjadi rute paket wisata perahu kano (dayung) untuk menikmati keindahan pesona alam. Sungai Tanjung cocok bagi wisatawan yang hendak menguji adrenalin setelah semuanya siap dikunjungi sebagai wisata pertanian.

Pada kesempatan itu, warga peserta gugur gunung masal turut diyakinkan para pemuda dengan dioperasikan lima perahu kano sebagai bukti kesiapan pemuda mendukung impian destinasi wisata pertanian ala Tanjung ini. Beberapa pemuda yang sudah terlihat terampil mendayung perahu kano melintasi sepanjang kali. Sebagian pemuda lain nampak masih belajar kesimbangan perahu. Kehadiran perahu berkapasitas dua orang kontan mengubah pandangan dari kali menjadi pesona wisata yang meriah dengan lalu lalang meramaikan sepanjang kali.

Di sudut lain, Dukuh Tanjung I Suprapdiyono, juga tak mau tinggal diam. Setelah memimpin warganya mengikut gugur gunung, dukuh berkumis tebal itu membagi nyali berenangnya kepada para pemuda. Menurutnya, kedepan pemuda akan berada di garda depan wisata pertanian ini.

“Tentunya harus ready untuk menjaga keselamatan wisatawan,” kata Suprap, panggilan akrab Suprapdiyono. Ia menambahkan pemuda harus dibekali kemampuan mengenal medan sungai, mengenal kedalaman selain mengusai teknis penyelamatan.

Persiapan awal mewujudkan impian wisata pertanian Tanjung sudah selangkah maju. Penambahan sarana prasarana kunjungan berupa bangunan gazebo, persiapan tim kerja, sajian menu kuliner, kesiapan tim pendukung, serta menjaga kekompakan warga adalah bagian dari ekspedisi-ekspedisi lain untuk mewujudkan mimpi besar itu. (ETG)