Perempuan Bergerak untuk Perubahan Desa di Sulawesi Tenggara

Perwakilan Kelompok Perempuan aktif berdiskusi mengenai perencanaan pembangunan yang adil gender
Perwakilan Kelompok Perempuan aktif berdiskusi mengenai perencanaan pembangunan yang adil gender. (sumber: dokumentasi lembaga)

Sulawesi Tenggara (19/1) – Sejarah membuktikan bahwa peran perempuan dalam proses menuju kemerdekaan bukanlah proses yang bisa diremehkan. Bangkitnya tokoh-tokoh perempuan dan juga Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta telah membuktikan bahwa perempuan Indonesia bukan hanya menjadi warga negara nomor dua, tetapi merupakan elemen bangsa yang menjadi memberi potret kedewasaan sebuah negara berdaulat. Demikian pun langkah yang ditempuh IDRAP sebagai mitra strategis Yayasan Penabulu di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Setelah mengadakan dua tahap pelatihan bagi Pemerintah Desa dan Lembaga Desa dalam Penyusunan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif bagi 13 desa mitra IDRAP, terpilih kelompok perempuan sebagai subjek pelatihan lanjutan dengan tema: Penguatan Kapasitas dan Peningkatan Peran Perempuan dalam Penyusunan Perencanaan dan Pengawasan Program Pembangunan Desa.

Pelatihan dilaksanakan pada 3-7 Januari 2016 yang diikuti oleh 43 orang perwakilan kelompok perempuan dari unsur kelompok PKK, BPD, Pemdes maupun pengurus kelompok keagamaan, serta guru PAUD di desanya. Perwakilan kelompok perempuan tersebut berasal dari 23 desa yang menjadi mitra IDRAP yang tersebar di delapan kecamatan dari tiga Kabupaten yakni Buton Utara, Konawe Selatan dan Konawe Kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pelatihan Peningkatan Kapasitas dan Peran Perempuan dalam Penyusunan Perencanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa bertujuan untuk semakin membuka ruang bagi kelompok perempuan dalam proses-proses perencanaan pembangunan, bukan hanya di ranah komplementer dan teknis tetapi masuk ke dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis dan politis. Untuk menuju ranah yang strategis tersebut Sri Purwani sebagai fasilitator dari Yayasan Penabulu Yogyakarta mengawali proses dengan Membuat Mimpi Bersama Tentang Desa untuk mengetahui mimpi apa yang dapat diwujudkan desa agar berpihak kepada perempuan dan anak untuk 10-15 tahun ke depan.

Mulai dari mimpi itulah fasilitator mempertajam dengan membawa para kader perempuan desa ini untuk melihat dan membuat Pemetaan Kondisi Desa, baik dari sisi peta kondisi ekonomi, kondisi sosial maupun kondisi alam yang dihubungkan dengan posisi dan fungsi peran perempuan dalam siklus pembangunan, terutama pembangunan yang adil gender. Pemetaan itu juga diikuti dengan pemetaan peran dan fungsi perempuan yang selama ini terjadi, dialami dan dirasakan oleh kelompok-kelompok perempuan tersebut.

Alhasil, setelah melalui curah pendapat dengan menggunakan metode metaplan maupun diskusi kelompok, maka peran domestiklah yang lebih menonjol, peran di ranah publik memang banyak, tetapi lebih banyak peran teknis dan peran konplementer, misal di PKK, Majelis Ta’lim maupun guru PAUD.

Meskipun tetap ada sebagian kecil peserta yang menjadi unsur pemerintah desa, tetapi posisi strategis itu masih sangat sedikit. Hal tersebut bisa dipahami karena kelompok-peserta banyak yang tidak memahami atau lebih tepat disebut jarang diminta untuk terlibat dalam proses-proses tata kelola pemerintahan desa yang selama ini banyak didominasi oleh bapak-bapak.

Oleh karena itu, selama pelatihan fasilitator selalu menekankan pada fungsi peningkatan keterlibatan secara aktif. Agar peserta tahu mengapa mereka perlu terlibat secara aktif dalam perencanaan pembangunan sampai dengan pengawasan.

Perencanaan pembangunan partisipatif dimulai dari arena pelatihan
Perencanaan pembangunan partisipatif dimulai dari arena pelatihan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Materi hari pertama lebih bersifat reflektif, menekankan unsur menggali kembali apa yang selama ini telah dialami oleh peserta dalam proses pembangunan di desa masing-masing. Pada hari kedua hingga kelima lebih mempertajam dan mengembangkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam pembuatan perencanaan pembangunan desa.

Selama proses pelatihan, peserta melihat praktik langsung perencanaan pembangunan desa melalui kunjungan lapangan ke Desa Lambangi, yang berada di wilayah Kabupaten Konawe Selatan. Desa ini memiliki potensi laut dan keterlibatan perempuan yang baik di tingkat pembangunan desa.

Hasil kunjungan lapangan disinergikan dengan visi dan misi Desa Lambangi untuk dibedah dalam diskusi-diskusi kelompok dan presentasi yang akhirnya dirangkai dengan pemberian pemahaman dan penjelasan tentang Siklus dan Mekanisme RPJMDes, RKPDes dan RAPBDes dengan proses melihat bagaimana tahapan proses penyusunan perencanaan partisipatif disertai proses mencoba menemukan dan menyusun apa yang disebut skala prioritas berdasarkan kebutuhan masyarakat. Bagian akhir dari pelatihan yaitu menganalisis secara bersama potensi dan kekuatan kelompok-kelompok perempuan pedesaan, disertai pemberian materi strategi koordinasi, komunikasi dan regulasi yang efektif dan berpihak. (SP)

Ekspedisi Awal Sungai Tanjung Wujudkan Mimpi Warga

Dusun Tanjung memiliki sungai berkelok-kelok sepanjang hampir satu kilometer dengan kanan kirinya pepohonan tumbuh lebat. Di sekitar sungai nampak hamparan padi, palawija dan sayuran hijau. Di pangkal aliran sungai itu berdirilah bendungan, membuat aliran air kali selebar sekitar 100 meter tidak hanya berbuang sia-sia.

Air di bendungan memiliki kedalaman sekitar dua meter ini menjadi stok cadangan air dari alam bagi sektor pertanian yang menjadi sandaran hidup warga dua dusun Tanjung I dan Tanjung II, di Desa Bleberan, Playen. Itulah aset potensi alam yang dimiliki Dusun Tanjung. Masyarakat setempat kini tengah merintis lokasi itu sebagai salah satu obyek wisata berbasis pertanian untuk memperkuat pariwisata desa air terjun Sri Gethuk yang sudah mapan.

Aktivis Taruna Tani Ubet Manungal Tanjung Edi Supadmo termasuk penggerak warga untuk mewujudkan wisata pertanian ke depan. Persiapan dilakukan dengan menggelar gugur gunung atau kerja bakti masal bersih-bersih sungai serentak diikuti warga Tanjung.

“Kegiatan ini kami lakukan serentak dan bertahap. Gugur gunung tahap pertama Minggu ini diikuti sekitar 200 warga dan baru menyasar sekitar 200 meter. Kami harus ‘babat alas’ seperti mengangkat sampah plastik dan kain yang menggenang, sebagian membasmi tumbuhan liar di sepanjang kali ini,” kata Edi memimpin gugur gunung pada Minggu (17/1).

Sampah sungai seperti dedaunan, plastik, kain, bahkan kain pembalut yang menyangkut di akar-akar pohon sepanjang kali diangkat oleh warga dengan berbagai alat untuk selanjutnya dimusnahkan. Puluhan peserta gugur gunung kaum perempuan juga dengan terampilnya memainkan peralatan yang dibawa untuk membabat habis rumput liar yang sudah setinggi lutut orang dewasa.

Menurut Edi, kegiatan gugur gunung melibatkan semua kalangan remaja, pemuda dan juga kaum perempuan ini akan terus digencarkan untuk pekan-pekan berikutnya. Kegiatan ditargetkan dapat menjangkau sepanjang sungai sampai bendungan yang memang ‘diincar” menjadi lokasi utama wahana wisata pertanian Tanjung yang belum bernama ini.

Pekerjaan babat alas tim ini bukanlah pekerjaan mudah. Penabulu menjadi bagian dari tim ekspedisi bertugas melakukan survei dan menjelajah kali yang kanan kirinya masih mengundang kesan “wingit”. Mbah Pur, salah satu sesepuh Dusun Tanjung, dan Kades Bleberan Supraptono sempat membagi pengalaman ‘janggal’ untuk tim ekspedisi agar Edi, Kepala Dusun Wakidi dan Penabulu supaya lebih berhati-hati.

“Yang jelas ucapkan salam permisi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Mbah Pur menutup kisah aneh kendaraan penambang pasir bernuansa mistis.

Ekspedisi menjelajah Sungai Tanjung harus ditempuh dengan menyeberang anak kali, melompat pagar sawah, memutar pematang sawah dan membelah semak durian yang memang belum tersasar kerja bakti perdana warga pada hari itu. “Semangat gotong royong, berdikari dan pantang menyerah harus dikobarkan mendasari kegiatan kita ini,” kelakar pria berambut gondrong menggelorakan dari inti pelatihan penguatan masyarakat sipil Semaul Globalization Foundation (SGF) Korea dan LSM Penabulu yang diikuti beberapa hari sebelumnya.

Sampailah ekspedisi jelajah Sungai Tanjung. Tim yang dikomandani pegiat tani muda dan Kepala Dusun ini segera membuat analisa dari pengamatan proses penjelajahan. Hasilnya, sepanjang sungai layak menjadi rute paket wisata perahu kano (dayung) untuk menikmati keindahan pesona alam. Sungai Tanjung cocok bagi wisatawan yang hendak menguji adrenalin setelah semuanya siap dikunjungi sebagai wisata pertanian.

Pada kesempatan itu, warga peserta gugur gunung masal turut diyakinkan para pemuda dengan dioperasikan lima perahu kano sebagai bukti kesiapan pemuda mendukung impian destinasi wisata pertanian ala Tanjung ini. Beberapa pemuda yang sudah terlihat terampil mendayung perahu kano melintasi sepanjang kali. Sebagian pemuda lain nampak masih belajar kesimbangan perahu. Kehadiran perahu berkapasitas dua orang kontan mengubah pandangan dari kali menjadi pesona wisata yang meriah dengan lalu lalang meramaikan sepanjang kali.

Di sudut lain, Dukuh Tanjung I Suprapdiyono, juga tak mau tinggal diam. Setelah memimpin warganya mengikut gugur gunung, dukuh berkumis tebal itu membagi nyali berenangnya kepada para pemuda. Menurutnya, kedepan pemuda akan berada di garda depan wisata pertanian ini.

“Tentunya harus ready untuk menjaga keselamatan wisatawan,” kata Suprap, panggilan akrab Suprapdiyono. Ia menambahkan pemuda harus dibekali kemampuan mengenal medan sungai, mengenal kedalaman selain mengusai teknis penyelamatan.

Persiapan awal mewujudkan impian wisata pertanian Tanjung sudah selangkah maju. Penambahan sarana prasarana kunjungan berupa bangunan gazebo, persiapan tim kerja, sajian menu kuliner, kesiapan tim pendukung, serta menjaga kekompakan warga adalah bagian dari ekspedisi-ekspedisi lain untuk mewujudkan mimpi besar itu. (ETG)

Gugur Gunung, Cara Warga Tanjung Melawan Mitos Pulung Gantung

Tingginya angka gantung diri di Kabupaten Gunungkidul hingga kini belum ditemukan solusi yang paling tepat dari pemerintah setempat. Masyarakat tradisional Dusun Tanjung, Desa Bleberan, Playen merupakan salah satu dusun mitra Penabulu, merasa ‘risih’ menyikapi kesan sebagai dusun penyumbang angka kasus gantung diri Gunungkidul. Tokoh masyarakat, pemuda dan kelompok perempuan berusaha keras melawan mitos pulung gantung dengan gugur gunung atau kegiatan kerja bakti.

“Kami bersama-sama seluruh warga Tanjung berusaha keras melawan mitos pulung gantung. Salah satu cara yang kami lakukan dengan menggiatkan gugur gunung (kerja bakti). Semua masyarakat wajib terlibat kegiatan ini. Dari usia anak sampai lansia,” kata aktivis taruna tani Dusun Tanjung, Desa Bleberan Edi Supatmo memimpin gerakan gugur gunung bersih-bersih kali pada Minggu (17/1) lalu.

Gagasan menggerakkan seluruh masyarakat wajib mengikuti gugur gunung setiap minggu pagi hingga siang awalnya muncul dari sejumlah tokoh masyarakat. Harapannya cukup sederhana. Adanya kegiatan gugur gunung otomatis menciptakan dusun ‘lebih hidup’ dan semakin ramai. Padatnya kegiatan gugur gunung yang melibatkan seluruh warga, diharapkan warga tidak akan memiliki waktu luang untuk berpikir tentang kematian dan gantung diri.

Edi menilai gantung diri selama ini dilatarbelakangi karena ada permasalahan pribadi tetapi tidak ada kesibukan yang harus dilakukan. Kondisi tersebut mendorong orang menyerah menghadapi persoalan yang membelenggu hidupnya.

“Menjadikan kampung padat kegiatan dan melibatkan semua unsur masyarakat inilah yang sedang Tanjung lakukan. Tentu dibutuhkan upaya-upaya pendekatan bagi mereka yang punya masalah dan tidak aktif terlibat kegiatan gugur gunung,” tambahnya.

Kaur Perencanaan Desa Bleberan Taufik Ari Wibowo yang juga salah satu tokoh penggerak masyarakat Tanjung membenarkan masalah sosial di dusunnya. Ari sependapat cara menjauhkan gagasan gantung diri dengan memberikan kesibukan dan tanggungjawab untuk semua masyarakat dalam peran serta program dan kegiatan dusun. Kegiatan gugur gunung tahap pertama kemarin berjalan ketat.

Warga yang tidak terlibat langsung dalam bersih-bersih kali diwajibkan terlibat dalam urusan lain seperti bertugas di dapur umum yang dipusatkan di sekretariat Taruna Tani Ubet Manunggal. Ari berharap kehadiran Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation (SGF) dari Korea Selatan ke Desa Bleberan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas masyarakat sipil mampu menjadi bagian dalam menyikapi kasus gantung diri di Tanjung. Baik melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan pertanian, kaum perempuan, khususnya usia renta (lansia) yang rentan sebagai pelaku gantung diri.

Secara terpisah, Kepala Dusun Tanjung Wakidi mengakui dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk mengubah cara pandang masyarakat tradisional. Kegiatan gugur gunung massal merupakan bagian dari upaya tokoh dusun yang perlu mendapat dukungan dan ragam kegiatan kesibukan lain bagi warganya bisa terlibat langsung. Dirinya tidak menampik, angka gantung diri di dua dusun Tanjung I dan Tanjung II tergolong tinggi.

Pada akhir 2014 sampai 2015 tercatat ada tiga warganya nekat gantung diri. Malah, dalam kurun waktu tertentu lebih dari 15 tahun terakhir total ada sembilan kejadian bunuh diri baik dengan cara gantung diri maupun minum racun. “Keterlibatan relawan dari Penabulu dan SGF dalam kegiatan gugur gunung tahap pertama kemarin cukup memotivasi warga kami semakin kompak,” pungkas Wakidi. (ETG)