Skip to content

Liputan

Pemutakhiran Data Desa Masih Perlu Ditingkatkan
20 June 2022
[SIARAN PERS] Dana Abadi LSM: Menciptakan Lingkungan Pendukung untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi Lokal
01 June 2022
Perkumpulan Desa Lestari Membuka Rekrutmen Staf Baru
24 May 2022

Cerita Perubahan

Strategi Baru BBI Anambas Memasarkan Kerapu
23 April 2022
Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas
10 April 2022
Desa Lestari dan Lokadata Dampingi 4 BUMDes di Kudus
21 February 2022

Inovasi Pemijahan Indukan Ikan Kerapu di BBI Anambas

Memanen telur kerapu (sumber: dokumentasi lembaga)

Balai Benih Ikan (BB) Anambas mulai melakukan pemijahan ikan kerapu pada 1-7 April 2022 lalu. Pemijahan dilakukan terhadap ikan kerapu berjenis macan di KJA. Ada beberapa langkah yang harus dilewati selama proses pemijahan; seleksi indukan, mempersiapkan bak media pemeliharaan larva, pemijahan, dan memanen telur.

Sebelum melakukan seleksi, indukan kerapu dibius dengan ethylene glycol monopheyl ether 20 ppm terlebih dahulu agar tidak stress. Seleksi dapat dilakukan setelah tubuh indukan kerapu miring dan tidak meronta saat dipegang.

“Seleksi indukan ini bertujuan untuk mendapat indukan kerapu jantan dan betina yang digabung ke dalam keramba untuk proses pemijahan,” kata Tim Ahli BPBL Batam Beni yang datang untuk mendampingi proses pembenihan di BBI Anambas.

Kepala bagian Produksi BBI Anambas Rio turut me-monitor selama seleksi. “Monitoring indukan kerapu dilakukan pada malam hari karena indukan kerapu berlangsung pada malam hari. Biasanya telur ikan kerapu siap panen mulai bermunculan di dalam keramba pada pagi hari.” Katanya.

Indukan jantan yang lolos seleksi menghasilkan sel sperma berwarna putih pekat. Sementara indukan betina yang siap dipijah telah berisi sel telur di rahimnya. Pada proses seleksi indukan bulan ini, ditemukan satu indukan betina dan tujuh indukan jantan yang siap dimasukkan ke satu keramba untuk melalui proses pemijahan.

Selanjutnya bak pemeliharaan larva dipersiapkan. “Media pemeliharaan perlu dipersiapkan dengan baik dan sempurna untuk mencegah risiko kematian larva akibar error di media pemeliharaan,” jelas Pendamping Lapangan BBI Anambas Budi Utomo.

Pada proses ini, bak diisi air laut sebanyak 60 persen dari volume air yang disaring filterbag. Tujuannya agar algae dan rotifera sebagai pakan larva tidak langsung luber keluar. Aerasi sebagai asupan oksigen utama dipasang sesuai kebutuhan dengan titik stone air diberi jarak sekitar 20 cm dari dasar bak untuk mencegah agar kotoran yang mengendap di dasar bak tidak teraduk selama pemeliharaan berlangsung. Bak inkubasi telur juga perlu disiapkan.

Setelah indukan dan bak pemeliharaan larva siap, indukan jantan dan betina kerapu digabungkan ke jaring baru yang sudah dipasang hapa untuk mengantisipasi telur supaya tidak lepas. Indukan pun menghasilkan telur di hari kedua pemijahan. Jumlah telur terus meningkat di hari keempat dan kelima.

Telur-telur tersebut dimasukan ke bak inkubasi agar dapat menetas menjadi larva. Biasanya larva terbentuk sekitar 18 sampai 22 jam setelah telur menetas. Larva kerapu yang baik akan mengembang di permukaan. Setelahnya larva dipindahkan ke bak pemeliharaan selama 45 hari hingga berukuran tiga sentimeter.

Secara keseluruhan, proses pemijahan ikan kerapu di BBI Anambas sudah sesuai prosedur. Namun larva tidak bertahan lama. Penyebab kematian larva kemungkinan karena kualitas pakan alami yang kurang baik.

BBI Anambas akan selalu mengevaluasi kegagalan serta memberikan inovasi-inovasi terbaru agar pemeliharaan larva berjalan baik. “Harapannya BBI mampu melakukan inovasi pada pemijahan ikan kerapu, baik secara alami maupun hybrid.  Kedepannya BBI akan dikembangkan tidak hanya pada pemijahan indukan kerapu saja, tetapi juga merambah ke jenis ikan lainnya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sehingga hal ini menjadi pembelajaran baik bagi masyarakat untuk bersama BBI mengembangkan potensi potensi benih ikan lainnya dengan pemijahan secara mandiri.” Tutup Manajer Program Pendampingan BBI Anambas Aan Mujibur Rohman. (AMR)