Semangat Berbenah Desa di Sumenep

 

Peserta Bimtek memaparkan rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan di masing-masing desa. (sumber: dokumentasi lembaga)

Madura (23/12) – Sebanyak 27 desa di Kabupaten Sumenep mengikuti Penguatan Kapasitas dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Keuangan Desa. Kegiatan tersebut dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang I diadakan pada 30 November-4 Desember dengan Sardi Winata sebagai fasilitator. Gelombang II pelatihan dilaksanakan pada 14-18 November 2015 dengan fasilitator Sri Purwani.

Kegiatan pelatihan tersebut merupakan bentuk kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sumenep dengan Yayasan Penabulu dengan tujuan berbenah serta menata desa, baik secaa administratif maupun kemasyarakatan.

Penguatan Kapasitas dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Keuangan Desa menggunakan metode andradogi dan partisipatif. Seluruh peserta erperan aktif mulai dari dari membangun mimpi mewujudkan desa mandiri melalui pemetaan kondisi desa periode 10 – 15 tahun ke depan, melihat kalender musim maupun struktur kelembagaan yang paling berpengaruh dalam menentukan setiap perencanaan pembangunan desa, hingga diskusi kelompok mengenai penyusunan peraturan tentang desa. Seluruh kegiatan mengacu pada UU Desa serta berbagai aturan turunannya.

Pada dua gelombang Bimtek, Sardi dan Sri menyampaikan  materi mengenai penyusunan RPJMDes, RKPDes, dan RAPBDes berdasarkan simulasi dari salah satu RPJMDes desa peserta. Selain itu peserta diperkenalkan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yang partisipatif, pendirian BUMDes, serta antisipasi tindak korupsi dan pengawalan dana desa.

Di penghujung hari akhir pelaksanaan Bimtek, masing-masing perwakilan desa Rencana Tindak Lanjut konkret per desa yang dapat dilakukan untuk perbaikan kondisi desa baik dari sisi manajemen penatausahaan, penguatan kapasitas bagi pemerintah desa maupun pemberdayaan masyarakat.

Peserta terlihat antusias karena baru pertama kali mengikuti Bimbingan Teknik Pengelolaan Keuangan Desa dengan metode pelatihan yang berbeda yaitu hampir seluruh prosesnya adalah peserta diminta untuk “berlatih membuat”. “Metodenya membuat saya senang dan aktif gak seperti Bimtek yang lain, karena biasanya sangat jenuh dan saya pasti dalam ruangan cuma tahunya mendengarkan,” ujar salah satu peserta.

Meningkatnya pemahaman peserta melalui proses berlatih, menjadi harapan pada penyusunan rencana tindak lanjut oleh masing-masing desa. Salah satu rencana desa yang harus didukung adalah melakukan perubahan dalam proses pembuatan RPJMDes, RKPDes maupun RAPBdes dengan proses partisipatif dan mandiri. Menurut pengakuan hampir seluruh peserta, selama ini seringkali proses penyusunan perencanaan desa dibantu oleh pihak ketiga dan desa hanya terima jadi.

Asisten Ekonomi (Asek) II Bagian Pemerintahan Desa Kabupaten Sumenep Sustono menegaskan pemahaman, keterampilan, dan niat baik untuk berubah menjadi salah satu proses yang tidak mudah. Sustono menyadari fungsi penting Bagian Pemerintahan Desa di tingkat Kabupaten Sumenep, untuk memfasilitasi pendampingan desa-desa yang saat ini sedang bersemangat untuk berbenah.

“Proses Bimtek ini diperlukan bagi desa, maka akan dilanjutkan untuk program di tahun anggaran 2016 baik dalam Bimtek yang sama maupun tema yang berbeda,” ujar Sustono kala menutup kegiatan Bimtek. (SP)