Berbagi Spirit untuk Produksi Pangan Organik Lewat Ubet Manunggal

 

Edi Padmo, petani muda yang turut menggerakkan ‘Ubet Manunggal’, berbagi pengalaman kepada para guru SMK yang berkunjung ke Bleberan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (29/2) – Tiap kali mendengar istilah organik dalam pertanian, terlintas muncul dalam pikiran suatu kegiatan bertani yang rumit, repot, mahal, bahkan mengada-ada. Tetapi, tidak begitu bertani organik sebenarnya. Organik cukup ilmiah dan masuk akal menjawab persoalan konsumsi pangan paling bisa diandalkan, aman dan sehat. Pertanian organik juga menjadi parameter melihat tingkat kesadaran masyarakat mewujudkan kelestarian tanah sebagai modal hidup. Pola tanam organik turut menyokong kelangsungan bumi sebagai tempat hidup bersama.

Dua sudut kesadaran tersebut menjadi benang merah acara belajar bersama sekaligus berbagi pengalaman Taruna Tani Ubet Manunggal dengan rombongan praktisi pertanian dari tiga SMK pertanian dari Jawa Tengah di Dusun Tanjung, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul pada Sabtu (27/2). Bertempat di rumah Timbul di pinggir Kali Tanjung yang menjadi markas Ubet Manunggal, pertemuan yang diinisiasi Yayasan Penabulu mempertemukan pelaku dan praktisi, yakni petani muda Ubet Manunggal dengan belasan perwakilan guru SMK 2 Slawi Kabupaten Tegal, SMKN 1 Bawen Kabupaten Semarang, dan SMKN 5 Jember. Pertemuan membantu keduanya menjawab tantangan produk pertanian organik kedepan yang harus lebih inovatif.

Edi Padmo, pegiat taruna tani, berbagi pengalaman merintis berdirinya Ubet Manunggal delapan tahun lalu. Menurutnya, bertani organik tidak lagi menjadi sesuatu yang menggebu-gebu seperti pada tahun-tahun pertama Ubet berdiri pada 2008. Pola pertanian berangsur-angsur mulai meninggalkan pupuk kimia menjadi pilar kejujuran serta idealisme ‘Ubet manunggal’ dalam bertani.

“Tentu semuanya dihadapkan pada banyak resiko dan pilihan. Mulai dari gesekan dengan kebijakan pemerintah dalam sistem pertanian, cibiran kelompok petani lain, sampai melatih kesabaran untuk berproses tani lebih rumit,” kata Edi memaparkan pasang surut Ubet Manunggal.

Petani berambut gondrong ini juga menegaskan ada yang beda dari Ubet Manunggal dengan kolompok tani pada umumnya. Menurutnya, Ubet Manunggal didirikan untuk mengubah pola pikir petani. Ubet Manunggal berniat tampil sebagai kelompok tani pemuda yang berani sebagai kelompok bukan “peminta-minta” bantuan pemerintah bahkan bermain-main proyek.

“Makanya anggota kami itu sedikit. Hanya 23 orang, mungkin tidak berani bergabung karena memang bercita-cita mandiri dan independen,” imbuh Edi yang berperan sebagai humas dalam kepengurusan Ubet Manunggal.

Hanya saja Edi tidak menampik memang ada beberapa jenis program berjalan dengan pemerintah, seperti kolaborasi pertanian dengan sektor perikanan yang pernah dilakukan menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Tak hanya itu, sikap dan posisi jelas petani muda malah mendapat peluang bermitra dengan beberapa pihak swasta.

Paulus Wiryono Priyotamtama, yang akrab disapa Romo Wir, biarawan dan praktisi pertanian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta merupakan salah satu pihak dari perguruan tinggi yang menjalin kerjasama pelaksanaan program yang hingga kini masih eksis. Kegiatan tersebut menyasar sektor perikanan Ubet Manunggal, yakni pelatihan dan produksi pakan pelet organik sebagai implementasi hasil-hasil riset.

“Kerjasama dengan Romo Wir mendapat keuntungan ganda. Bisa banyak belajar ternak budidaya lele organik sekaligus mengembangkan nilai pluralitas dan toleransi ditengah masyarakat plural,” papar Edi secara detail saat menguraikan kelebihan dan kekurangan Ubet Manunggal.

Sementara itu, Priyono selaku praktisi SMK Pertanian mengaku beruntung dapat dipertemukan oleh Penabulu dengan kelompok tani muda Ubet Manunggal. Ia mengaku baru pertama kali menemukan kelompok tani yang independen sejak menggeluti pertanian. Mewakili tiga SMK yang hadir, Priyono berbagi ilmu pengembangan produk pertanian organik yang prospek masa depan akan gemilang, meskipun sisi lain semakin banyak SMK pertanian dan fakultas pertanian justru ditutup lantaran minim peminat.

Priyono mengatakan SMK pertanian membutuhkan banyak mitra kelompok tani organik sejalan akan diubahnya pola pendidikan pertanian yang cenderung tidak mencetak petani baru, tetapi malah mencetak pekerja di sektor pertanian. “Cara lama ini yang rencananya kami siapkan untuk diubah menjadi SMK yang memang nanti mencetak petani baru,” kata Priyono. Cita-cita itu hendak dimulai tiga SMK yang dibawanya untuk mulai uji coba. Rencana kebijakan pendidikan ini akan banyak menggandeng Perancis, tidak lain negara tertinggi konsumen produk pangan organik.

Priyono membagi spirit bagi Ubet Manunggal. Menurutnya, sejalan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan produk pangan yang lebih sehat, pangan alternatif akan banyak dibutuhkan masyarakat seperti iles-iles, ganyong, garut, sukun sebagai pengganti beras. Demikian pula, imbuh Priyono, zat pewarna organik seperti pandan, cincau, suji juga mulai banyak dicari karena lebih aman untuk dikonsumsi. Ia mengungkapkan, negara Perancis adalah negara paling tinggi dalam mengkonsumsi pangan organik.

Kenyataan tersebut membuka peluang pasar bagi petani organik yang harus bisa merebut. Inovasi baru harus mulai disiapkan seperti pola jual langsung pada konsumen tanpa melalui perantara (orang lain). Hal itu dimaksudkan untuk menghindari rusaknya kualitas beras organik karena pedagang nakal di Sragen.

Lebih lanjut, Priyono memperkirakan produk pangan organik sendiri akan mulai laku keras pada tahun 2030 mendatang. Selain kesadaran masyarakat akan pangan sehat meningkat juga dibarengi dengan kesadaran akan pangan alternatif. Kesiapan petani organik harus mulai dirintis sejak sekarang. Inovasi lain seperti penjualan dengan sistem pesan juga mengundang peluang pasar bagi petani organik.

“Membuka dan memperluas jaringan organik menjadi kunci bagi masa depan produk tani organik yang harus dipertahankan kontinyuitas dan konsistensinya,” pungkas Priyono sembari menyatakan perlunya memikirkan produk organik dalam negeri dapat meraih sertifikasi Uni Eropa.

Temu pegiat Ubet Manunggal dengan SMK pertanian di Dusun Tanjung ditutup dengan mengunjungi lokasi tanam anggota Ubet Manunggal. Beberapa tamu bahwa menyempatkan memetik terong, kacang, padi, dan jenis yang lain menjadi contoh yang dibawa kembali ke Tegal, Semarang, dan Jember.

Kilas Ubet Manunggal

Heru Setyawan, Ketua Taruna Tani Ubet Manunggal Dusun Tanjung, Desa Bleberan menjelaskan jika wadah petani muda di Bleberan berdiri pada tahun 2008. Ubet Manunggal ingin menjawab keresahan akan lambatnya laju regenerasi petani di dusun karena banyak pemuda lebih memilih merantau untuk bekerja di sektor informal dibandingkan susah payah bertani. Pemuda yang bertahan tidak merantau maupun perantau yang akhirnya pulang kampung akhirnya terpanggil gabung Ubet Manunggal untuk melanjutkan orang tua yang memasuki usia renta.

Kumpulan petani muda diketuai Heru Setyawan semakin mendapati rusaknya alat produksi tanah akibat penggunaan kadar kimia berlebih. Semakna dengan namanya, taruna tani yang bergabung di dalamnya ubet mempelajari dan sungguh-sungguh mengembangkan pertanian organik, serta menjalin relasi untuk mendapatkan perhatian berbagai pihak yang peduli pada eksistensi pertanian organik. Kini, Ubet Manunggal juga menambah kegiatan produktif dengan budidaya ikan tawar dan tengah merintis wisata pertanian di Bendungan Tanjung yang masih disiapkan. (ETG)