Sistem Tanam Jajar Legowo Diharapkan Tingkatkan Hasil Padi di Ponjong

Petani di Desa Ponjong sedang menanam padi dengan sistem tanam jajar legowo di lahan sawah milik salah satu peserta (sumber: dokumentasi lembaga)

Ponjong (10/8) – Hamparan sawah yang luas didukung sumber daya air yang melimpah menjadikan masyarakat Desa Ponjong mempertahankan budaya pertaniannya yang sudah turun temurun hingga kini. Meskipun demikian, permasalahan banyak menghadang di depan mata. Beberapa diantaranya adalah, alih fungsi lahan, penurunan hasil produksi pertanian, kurangnya inovasi dan pengetahuan petani menjadi permasalahan yang hingga saat ini belum ada solusinya. Cara bertani yang monoton, kurangnya akses informasi teknologi budidaya jelas akan memicu penurunan mutu dan kuantitas produksinya.

Untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam upaya meningkatkan hasil budidaya padi sawah, Yayasan Penabulu bekerjasama dengan Saemaul Globalization Fondation dan Pemerintah Desa Ponjong menggelar pelatihan Pembuatan Demplot Padi Sawah yang diikuti sedikitnya 40 orang petani. Pelatihan dipusatkandi kediaman Ketua Gapoktan Desa Ponjong Suhardi berlangsung selama dua hari pada 8-9 Agustus 2016.

Pelatihan yang menghadirkan narasumber Heru Prasetya, Penyuluh Pertanian Desa Ponjong ini mengedepankan pada sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah sistem tanam jajar legowo (TAJARWO) dikombinasikan dengan tanaman sayuran kacang panjang di pematang/galengan sawah. Heru menjelaskan pendekatan sistem tanam jajar legowo dapat menambah populasi tanaman di pinggiran sehingga hasil padinya akan meningkat.

“Sistem tanam dengan metode jajar legowo ini adalah pendekatan teknologi, kalau jarak tanam ditentukan menurut tingkat kesuburan tanah dan varietas padi yang ditanam, jadi tidak baku,” katanya.

Heru mengajak para peserta praktik langsung menanam padi dengan sistem tanam jajar legowo ini di lahan sawah milik Sugiyo, salah satu peserta yang juga petani dari Dusun Karang Ijo Wetan. Lahan sawah tanah bengkok seluas 1000m2 miliknya sengaja disiapkan untuk media belajar bersama. Ada dua varietas yang ditanam, yakni hibrid dan nonhibrid, diharapkan akan ada perbandingan hasil diantara kedua varietas tersebut.

Suhardi mengatakan penggunaan pupuk organik, PGPR dan pestisida nabati sebagai tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya akan dioptimalkan pada pembuatan demplot. ”Saya sudah membuat PGPR dan pestisida nabatinya dan siap diaplikasikan dalam demplot tersebut,” katanya. Penggunaan pupuk organik padat sebagai pupuk dasar akan mengurangi pupuk kimianya, dengan begitu petani akan beralih ke pertanian organik. (ES)

Dorong Kemandirian Petani Ponjong Demi Terwujudnya Pertanian Ramah Lingkungan

 

mol55
Proses akhir pembuatan mikro organisme lokal berbentuk cairan fermentasi (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (21/4) – Sejak 40 tahun lalu, tanah pertanian di Desa Ponjong telah “dieksploitasi” untuk kepentingan usaha tani yang terus menerus. Dalam usaha taninya keseimbangan antara pemberian bahan-bahan organik tanah tidak seimbang dengan pemberian pupuk kimia, serta penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Akibatnya mikroorganisme dan keanekaragaman hayati semakin tertekan populasinya. Berbagai serangan hama seperti wereng, blast dan kresek semakin memperparah kondisi lingkungan pertanian desa.

Berdasarkan amatan Saemaul Globalization Foundation (SGF), petani sudah sangat memerlukan keterampilan pembuatan mikro organisme lokal dan pestisida alami melalui pelatihan pemanfaatan limbah pertanian. Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun menyebutkan adanya pelatihan khusus tersebut untuk melindungi dan melestarikan keragaman hayati, memasyarakatkan kembali budidaya pertanian organik, dan membatasi pencemaran lingkungan akibat residu pestisida dan pupuk kimia.

“Kami sangat senang karena para petani antusias mengikuti pelatihan ini, kami berharap bisa dipraktikan di kelompok masing-masing,” kata Choi.

Sebanyak 40 petani Desa Ponjong terlihat antusias berpartisipasi dalam pelatihan yang dipandu Heru Prasetya, Petugas Penyuluh Lapangan Desa Ponjong. Pelatihan dipusatkan di kediaman Suhardi, Ketua Gapoktan Desa Ponjong.

Heru menyampaikan cara pembuatan mikro organisme lokal, pestisida alami, bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang, sekaligus mengajak peserta praktik membuat secara langsung. Heru menjelaskan untuk meningkatkan kesuburan tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah diperlukan pupuk organik, pupuk anorganik, dan pupuk hijau. Selain kebutuhan pada ketiga jenis pupuk tersebut, tanah pertanian juga memerlukan mikro organisme lokal (MOL) berupa cairan yang merupakan hasil fermentasi yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai bahan pembiakan bakteri. Pembuatan MOL berbahan baku buah-buahan dan hewan seperti keong dan lele.

“MOL dapat digunakan sebagai bioaktivator dalam proses dekomposer, pupuk hayati ataupun pestisida hayati. Bahan-bahan untuk membuatnya banyak tumbuh disekitar kita, jadi mudah dan murah,” jelas Heru kepada peserta.

Sri Purwani, Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu, mengajak para peserta untuk mulai menjaga kelestarian alam secara mandiri dengan beralih ke pertanian yang ramah lingkungan. Pertanian ramah lingkungan selain aman, juga mudah dan murah. Kembali ke alam memiliki tujuan jangka panjang agar ekosistem terjaga, dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian, dalam hal ini khususnya petani di Desa Ponjong. (ES)

Berbagi Spirit untuk Produksi Pangan Organik Lewat Ubet Manunggal

 

Edi Padmo, petani muda yang turut menggerakkan ‘Ubet Manunggal’, berbagi pengalaman kepada para guru SMK yang berkunjung ke Bleberan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (29/2) – Tiap kali mendengar istilah organik dalam pertanian, terlintas muncul dalam pikiran suatu kegiatan bertani yang rumit, repot, mahal, bahkan mengada-ada. Tetapi, tidak begitu bertani organik sebenarnya. Organik cukup ilmiah dan masuk akal menjawab persoalan konsumsi pangan paling bisa diandalkan, aman dan sehat. Pertanian organik juga menjadi parameter melihat tingkat kesadaran masyarakat mewujudkan kelestarian tanah sebagai modal hidup. Pola tanam organik turut menyokong kelangsungan bumi sebagai tempat hidup bersama.

Dua sudut kesadaran tersebut menjadi benang merah acara belajar bersama sekaligus berbagi pengalaman Taruna Tani Ubet Manunggal dengan rombongan praktisi pertanian dari tiga SMK pertanian dari Jawa Tengah di Dusun Tanjung, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul pada Sabtu (27/2). Bertempat di rumah Timbul di pinggir Kali Tanjung yang menjadi markas Ubet Manunggal, pertemuan yang diinisiasi Yayasan Penabulu mempertemukan pelaku dan praktisi, yakni petani muda Ubet Manunggal dengan belasan perwakilan guru SMK 2 Slawi Kabupaten Tegal, SMKN 1 Bawen Kabupaten Semarang, dan SMKN 5 Jember. Pertemuan membantu keduanya menjawab tantangan produk pertanian organik kedepan yang harus lebih inovatif.

Edi Padmo, pegiat taruna tani, berbagi pengalaman merintis berdirinya Ubet Manunggal delapan tahun lalu. Menurutnya, bertani organik tidak lagi menjadi sesuatu yang menggebu-gebu seperti pada tahun-tahun pertama Ubet berdiri pada 2008. Pola pertanian berangsur-angsur mulai meninggalkan pupuk kimia menjadi pilar kejujuran serta idealisme ‘Ubet manunggal’ dalam bertani.

“Tentu semuanya dihadapkan pada banyak resiko dan pilihan. Mulai dari gesekan dengan kebijakan pemerintah dalam sistem pertanian, cibiran kelompok petani lain, sampai melatih kesabaran untuk berproses tani lebih rumit,” kata Edi memaparkan pasang surut Ubet Manunggal.

Petani berambut gondrong ini juga menegaskan ada yang beda dari Ubet Manunggal dengan kolompok tani pada umumnya. Menurutnya, Ubet Manunggal didirikan untuk mengubah pola pikir petani. Ubet Manunggal berniat tampil sebagai kelompok tani pemuda yang berani sebagai kelompok bukan “peminta-minta” bantuan pemerintah bahkan bermain-main proyek.

“Makanya anggota kami itu sedikit. Hanya 23 orang, mungkin tidak berani bergabung karena memang bercita-cita mandiri dan independen,” imbuh Edi yang berperan sebagai humas dalam kepengurusan Ubet Manunggal.

Hanya saja Edi tidak menampik memang ada beberapa jenis program berjalan dengan pemerintah, seperti kolaborasi pertanian dengan sektor perikanan yang pernah dilakukan menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Tak hanya itu, sikap dan posisi jelas petani muda malah mendapat peluang bermitra dengan beberapa pihak swasta.

Paulus Wiryono Priyotamtama, yang akrab disapa Romo Wir, biarawan dan praktisi pertanian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta merupakan salah satu pihak dari perguruan tinggi yang menjalin kerjasama pelaksanaan program yang hingga kini masih eksis. Kegiatan tersebut menyasar sektor perikanan Ubet Manunggal, yakni pelatihan dan produksi pakan pelet organik sebagai implementasi hasil-hasil riset.

“Kerjasama dengan Romo Wir mendapat keuntungan ganda. Bisa banyak belajar ternak budidaya lele organik sekaligus mengembangkan nilai pluralitas dan toleransi ditengah masyarakat plural,” papar Edi secara detail saat menguraikan kelebihan dan kekurangan Ubet Manunggal.

Sementara itu, Priyono selaku praktisi SMK Pertanian mengaku beruntung dapat dipertemukan oleh Penabulu dengan kelompok tani muda Ubet Manunggal. Ia mengaku baru pertama kali menemukan kelompok tani yang independen sejak menggeluti pertanian. Mewakili tiga SMK yang hadir, Priyono berbagi ilmu pengembangan produk pertanian organik yang prospek masa depan akan gemilang, meskipun sisi lain semakin banyak SMK pertanian dan fakultas pertanian justru ditutup lantaran minim peminat.

Priyono mengatakan SMK pertanian membutuhkan banyak mitra kelompok tani organik sejalan akan diubahnya pola pendidikan pertanian yang cenderung tidak mencetak petani baru, tetapi malah mencetak pekerja di sektor pertanian. “Cara lama ini yang rencananya kami siapkan untuk diubah menjadi SMK yang memang nanti mencetak petani baru,” kata Priyono. Cita-cita itu hendak dimulai tiga SMK yang dibawanya untuk mulai uji coba. Rencana kebijakan pendidikan ini akan banyak menggandeng Perancis, tidak lain negara tertinggi konsumen produk pangan organik.

Priyono membagi spirit bagi Ubet Manunggal. Menurutnya, sejalan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan produk pangan yang lebih sehat, pangan alternatif akan banyak dibutuhkan masyarakat seperti iles-iles, ganyong, garut, sukun sebagai pengganti beras. Demikian pula, imbuh Priyono, zat pewarna organik seperti pandan, cincau, suji juga mulai banyak dicari karena lebih aman untuk dikonsumsi. Ia mengungkapkan, negara Perancis adalah negara paling tinggi dalam mengkonsumsi pangan organik.

Kenyataan tersebut membuka peluang pasar bagi petani organik yang harus bisa merebut. Inovasi baru harus mulai disiapkan seperti pola jual langsung pada konsumen tanpa melalui perantara (orang lain). Hal itu dimaksudkan untuk menghindari rusaknya kualitas beras organik karena pedagang nakal di Sragen.

Lebih lanjut, Priyono memperkirakan produk pangan organik sendiri akan mulai laku keras pada tahun 2030 mendatang. Selain kesadaran masyarakat akan pangan sehat meningkat juga dibarengi dengan kesadaran akan pangan alternatif. Kesiapan petani organik harus mulai dirintis sejak sekarang. Inovasi lain seperti penjualan dengan sistem pesan juga mengundang peluang pasar bagi petani organik.

“Membuka dan memperluas jaringan organik menjadi kunci bagi masa depan produk tani organik yang harus dipertahankan kontinyuitas dan konsistensinya,” pungkas Priyono sembari menyatakan perlunya memikirkan produk organik dalam negeri dapat meraih sertifikasi Uni Eropa.

Temu pegiat Ubet Manunggal dengan SMK pertanian di Dusun Tanjung ditutup dengan mengunjungi lokasi tanam anggota Ubet Manunggal. Beberapa tamu bahwa menyempatkan memetik terong, kacang, padi, dan jenis yang lain menjadi contoh yang dibawa kembali ke Tegal, Semarang, dan Jember.

Kilas Ubet Manunggal

Heru Setyawan, Ketua Taruna Tani Ubet Manunggal Dusun Tanjung, Desa Bleberan menjelaskan jika wadah petani muda di Bleberan berdiri pada tahun 2008. Ubet Manunggal ingin menjawab keresahan akan lambatnya laju regenerasi petani di dusun karena banyak pemuda lebih memilih merantau untuk bekerja di sektor informal dibandingkan susah payah bertani. Pemuda yang bertahan tidak merantau maupun perantau yang akhirnya pulang kampung akhirnya terpanggil gabung Ubet Manunggal untuk melanjutkan orang tua yang memasuki usia renta.

Kumpulan petani muda diketuai Heru Setyawan semakin mendapati rusaknya alat produksi tanah akibat penggunaan kadar kimia berlebih. Semakna dengan namanya, taruna tani yang bergabung di dalamnya ubet mempelajari dan sungguh-sungguh mengembangkan pertanian organik, serta menjalin relasi untuk mendapatkan perhatian berbagai pihak yang peduli pada eksistensi pertanian organik. Kini, Ubet Manunggal juga menambah kegiatan produktif dengan budidaya ikan tawar dan tengah merintis wisata pertanian di Bendungan Tanjung yang masih disiapkan. (ETG)

Nasib Petani Gunungkidul, Belum Untung Masih Harus Bingung

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (17/2) – Menjadi petani barangkali bukan menjadi impian setiap orang saat ini. Betapa tidak, kesejahteraan petani barangkali masih jauh dari harapan mereka. Kondisi pertanian dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani juga menjadi pemicu sektor pertanian menjadi semakin terpuruk. Rendahnya hasil pertanian yang diakibatkan tingginya biaya produksi, serangan hama, dan rendahnya harga hasil pertanian saat panen semakin memperparah keterpurukan.

Bantuan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani justru kadang tidak sesuai dengan kebutuhan petani. Selama ini bantuan alat produksi pertanian (alsintan), bantuan benih, serta kegiatan pemberdayaan yang masih parsial. Hal ini terungkap dalam Pelatihan dan Penguatan Kapasitas KWT dan Gapoktan Desa Ponjong pada 11-12 Februari 2016.

Staf Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (Dinas TPH) Kabupaten Gunungkidul Elvita Dewi Wahid menyampaikan jika bantuan pemerintah sering tidak tepat sasaran. Dewi membeberkan berbagai potensi yang dimiliki serta persoalan yang dihadapi oleh petani di Gunungkidul. Pemerintah Kabupaten telah merespon dengan berbagai kebijakan dan arah program pertanian. Salah satu program pertanian yang diarahkan ke Desa Ponjong adalah Program Penanganan Lahan Kritis Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dengan penanaman bibit buah durian dan klengkeng seluas 4 hektar.

Namun program tersebut justru membuat petani mengeluh dan kebingungan karena tanaman durian tidak cocok dengan kondisi tanah yang mudah merekah di musim kemarau, sehingga membuat tanaman durian menjadi banyak yang mati. “Rekahan tanah bisa sampai selebar lima senti, sehingga membuat akar durian menjadi putus dan mati. Kalau kelengkeng bagus pertumbuhannya, tingginya sudah 1,5 meter lagi pula kami belum punya pengalaman menanam durian,“ salah satu peserta merespon pernyataan Dewi sebagai program pemerintah yang tidak tepat guna.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Gapoktan Desa Ponjong Sartono mengungkapkan bahwa kelompok juga pernah mendapat bantuan alat perontok padi dari pemerintah, tetapi tidak sesuai dengan kebiasaan petani yang memangkas batang padi seluruhnya dan jeraminya digunakan untuk pakan ternak.

“Kebiasaan petani disini kalau memangkas batang padi hingga kebawah, kalau pakai treser hanya separo. Padahal jeraminya akan digunakan untuk cadangan pakan ternak dimusim kemarau. Kalau hanya dipotong separo rugi,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Poktan Karangijo Kulon Sutrisno mengenai bantuan benih yang diberikan pemerintah banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan petani karena banyak yang terserang hama setelah ditanam. Hal ini justru merugikan petani, karena rendahnya hasil pertanian.

Dalam diskusi yang berkembang selama pelatihan, Dewi menjelaskan bahwa kebijakan pemberian bantuan alsintan berasal dari pemerintah pusat. Sedangkan Dinas TPH sekedar menyalurkan sesuai dengan permohonan kelompok melalui proposal. Dewi pun menyesalkan kondisi yang semakin diperparah dengan kebijakan Pemerintah yang mengharuskan kelompok dapat menerima bantuan dari Pemerintah jika telah berbadan hukum.

”Kadang dari pemerintah pusat langsung mengirim alsintan tersebut tanpa memperhatikan kondisi lokal daerah, tetapi jika sudah sampai ke kelompok akhirnya kelompok menerima juga ‘kan?” katanya.

Untuk menekan ketergantungan bantuan dan dukungan dari luar, kelompok tani mulai menyiasati pembuatan pupuk organik secara mandiri untuk menekan biaya produksi, “Kami berharap dengan berusaha membuat pupuk organik sendiri, biaya produksi pertanian menjadi berkurang sehingga keuntungan menjadi lebih besar.” kata Anjar Riyono, petani dari Pedukuhan Karangijo Kulon

Anjar juga berkeinginan untuk menjadi petani yang mandiri dengan menggalakkan pertanian organik, karena merasa bahwa beban biaya produksi yang semakin tinggi dengan ketergantungan benih, pupuk dan pestisida pabrikan akan membuat keuntungan petani semakin kecil. Namun Anjar juga mengeluh, meskipun sudah dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan hasilnya, tetapi tidak diikuti dengan kenaikan harga hasil pertanianya. Dia berharap agar ada kebijakan dari Pemerintah Daerah yang mampu melindungi harga hasil pertanian seperti gabah dan jagung disaat musim panen tiba. (ES)

Berbagi Air, Cara Petani Desa Pengkok Hidup Bersama

 

Pertemuan P3A Tirto Mulyo dalam rangka persiapan Lomba P3A Tingkat Provinsi. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (28/5) – Air sebagai sumber kehidupan bersama. Mayoritas masyarakat petani Desa Pengkok, Patuk, Gunungkidul yang menggantungkan hidup dari bertani cukup hati-hati mengelola ketersediaan air setempat.

Kali Punthuk. Begitu masyarakat Desa Pengkok menyebut kali dengan jalur berkelok-kelok membelah desa enam dusun. Kali inilah menjadi andalan menyuplai jalur irigasi pertanian seluas 115 hektar petani tergabung dalam Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Tirto Mulyo.

Ketua P3A Tirto Mulyo Desa Pengkok Djumono mengatakan jalur perairan ini cukup menantukan nasib 450 petani di delapan blok area tanam sawah. “Kami ingin mengelola air pertanian di sini lebih baik lagi. Tidak hanya dalam merawat jalur perairan tetapi sistem pengelolaannya,” katanya.

Djumono mengaku hujan yang sempat turun dalam beberapa hari di bulan Mei memang sangat menguntungkan petani untuk mencukupi kebutuhan air untuk lahannya. Sehingga diperkirakan tidak ada persoalan ketersediaan dan cadangan air. Berbeda halnya tahun-tahun sebelumnya, hujan menghilang di bulan Maret mengawali musim kemarau memunculkan kegundahan kelompok yang dibentuk tahun 2003 dalam pengelolaan dan pembagian air secara merata.

Desa harus memiliki tata kelola air yang baik agar air benar-benar bisa sampai di lahan yang paling ujung dari jalur perairan. Salah satu cara dilakukan P3A Desa Pengkok adalah pemberlakuan sistem giliran pada saat jelang masa tanam. Pintu saluran dialirkan secara maksimal untuk setiap blok dan bergiliran blok lainnya.

Penjabat Sementara (Pjs.) Kepala Desa Pengkok Slamet mengatakan potensi air untuk pertanian tidak lepas dari potensi sumber daya alam yang dimiliki Desa Pengkok dengan adanya kali atau sungai. Pada perkembangannya, kali berkelok-kelok membelah desa ini memerlukan perhatian masyarakat bersama untuk terus menjaga dan merawat dengan baik.

Melihat kondisi cuaca saat ini yang sulit diprediksi, banyak petani Pengkok yang meyakini masa tanam ketiga (MT3) masih akan aman untuk tanaman padi yang memang termasuk tanaman memerlukan surplus air. Walaupun memang kurang baik apabila dalam satu tahun ada tiga kali masa tanam hanya satu jenis tanaman padi tanpa ada selang jenis palawija.

P3A Desa Pengkok perlu terus meningkatkan peran dan kapasitasnya dalam turut serta mesukseskan produktivitas hasil panen petani. Tak heran, perkumpulan ini juga memiliki orientasi membantu mendorong demi lancarnya pemenuhan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Dari 450 anggota P3A, baru 60 persen yang menjadi anggota aktif dan menyokong kelompok ini bisa berjalan lebih maksimal.

Berkaitan dengan jalur distribusi air pertanian yang dikelola Tirto Mulyo ini terdapat dua arah jalur, yakni jalur ke utara sepanjang dua kilometer dan jalur ke selatan sepanjang 2,5 kilometer. Arah selatan, yakni blok I, II, III, IV dan blok V tahun 2014 lalu telah menyerap kebijakan rehabilitasi pemerintah. Sepanjang 1250 meter mendapatkan rehabilitasi atas ditemukannya kerusakan bagian lantai dan dinding. Sedangkan, rusaknya saluran jalur ke utara yakni blok VI, VII dan blok VIII sepanjang sekitar 800 meter telah diajukan pemerintah untuk mendapatkan program rehab berkelanjutan tahun 2015. Program rehabilitasi jalur air pertanian dinilai cukup penting. Terlebih, ada saluran pertigaan air yang salah satunya jalur buntu memerlukan penanganan bersama agar pemanfaatan air bisa lebih optimal.

P3A Desa Pengkok berharap implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa nanti juga bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat petani. UU memberikan implikasi naiknya anggaran desa hendaknya bisa memacu keberadaan organisasi masyarakat seperti P3A sendiri. Selama ini ada keinginan dari kelompok P3A memiliki sekretariat untuk pusat kegiatan ratusan anggotanya. Pengurus P3A telah melirik lokasi tak jauh dari bendungan di Dusun Panjatan bisa menjadi “base camp“.

Pihak Desa Pengkok mendukung langkah kelompok masyarakat yang berencana memanfaatkan sungai untuk menumbuhkan daya tarik pariwisata minat khusus. Wisata minat khusus “Juruk” tengah disiapkan tim pengelola sebagai embrio kelompok sadar wisata yang juga telah diprioritaskan untuk bisa menyerap dana desa untuk menambah beberapa peralatan khusus untuk melayani pengunjung.(*)