Pilkades Pengkok, Mencari Sosok Pembaharu

Balai Desa Pengkok bersiap menyambut Pilkades yang akan digelar serentak di Kabupaten Gunungkidul pada 7 Oktober 2015. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (11/8) – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kabupaten Gunungkidul rencananya akan dilaksanakan serentak pada 7 Oktober 2015 mendatang. Tiga desa mitra program Desa Lestari di Gunungkidul, yaitu Desa Salam dan Desa Pengkok di Kecamatan Patuk, serta Desa Ponjong di Kecamatan Ponjong, termasuk dari 58 desa yang menyelenggarakan Pilkades. Seperti umumnya desa lain yang mengawali tahun pertama implementasi UU Desa, tiga desa mitra program Desa Lestari perlu memaknai secara kritis penggunaan hak pilih dalam menentukan calon pemimpin yang ideal, visioner, dan paling melek regulasi Desa.

Dari hasil diskusi Pendamping Lapangan Desa Lestari dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pengkok, kebutuhan pemimpin yang ideal sangat menentukan masa depan desa. Terlebih hampir semua warga dan perangkat desa menyebut UU Desa rumit dan menuntut pemimpin yang visioner. Tak mengherankan jika pilkades menjadi ajang pesta demokrasi di tingkat desa dihadapkan pada dua pilihan yakni ancaman ataukah harapan bagi percepatan gerak desa. Setidaknya semua bakal calon kepala desa harus belajar kilat mengenai regulasi desa baru yang sudah berjalan selama delapan bulan.

BPD Pengkok telah membentuk panitia pilkades yang diketuai Djumono bersama 16 anggota lain yang terdiri dari tokoh masyarakat dan perangkat desa. Djumono mengaku penyelenggaraan Pilkades kali ini perlu kehati-hatian karena tingkat gesekan masyarakat lebih runcing dibanding saat Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg).

Djumono menegaskan agar panitia Pilkades memegang netralitas dan tidak memihak pada salah satu bakal calon kepala desa. Kehati-hatian ditunjukkan dengan menginstruksikan agar daftar pemilih tetap (DPT) nanti tidak meninggalkan permasalahan. Panitia pilkades harus memprioritaskan Daftar Pemilih Sementara (DPS) dari petugas dusun untuk segera disusun dan disebarluaskan ke beberapa titik strategis agar warga masyarakat dapat memastikan namanya telah sudah atau belum tercatat sebagai pemilih.

“Semakin cepat terkumpul DPS dan menjangkau masyarakat akan semakin baik untuk pemutakhiran terbitnya DPT secara valid. Kita tidak boleh teledor soal DPT nanti,” ungkap Djumono.

Ia juga telah mengingatkan panitia, terlebih petugas piket di loket pendaftaran agar bakal calon yang mendaftar lebih cermat dalam pencocokan dan penelitian (coklit) berkas persyaratan yang mengikat. Pendaftaran bakal calon kepala desa dimulai dari hari Jumat (7/8) hingga Kamis (13/8) pukul 13.00 WIB.

Loket penerimaan berkas bakal calon Kepala Desa Pengkok, yang dibuka 7 – 13 Agustus 2015. (sumber: dokumentasi lembaga)

Sementara itu, Pj. Kades Pengkok Sudaryani mengatakan jika momentum pemilihan kepala desa sangat menentukan masa depan Desa Pengkok. Pengalaman dirinya sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) dan kini menjabat Pj. Kades, Pengkok memerlukan sosok pemimpin yang memberi keteladanan kerja secara disiplin bagi perangkat dan staf desa. Kedisiplinan kerja baik dalam aturan jam kerja, target pekerjaan, maupun pelayanan umum.

Menurutnya, UU Desa menuntut pemimpin untuk adaptasi dan gerak cepat. Tetapi di satu sisi, diperlukan pemimpin yang rela terjun di tengah masyarakat, serta terampil merangkul keberagaman dan kompleksitas masyarakat yang ada di desa.

Harapan lain datang dari Karang Taruna Desa Pengkok pada kepala desa selanjutnya. Ketua Karang Taruna Sutardi menilai sosok ideal pemimpin yang dibutuhkan Pengkok yang memiliki perhatian bagi kawula muda. Menurut Sutardi selama ini kebijakan desa kurang menyentuh kebutuhan pemuda terutama dalam sisi pemberdayaan ekonomi serta pembinaan minat bakat seni dan olah raga. Maka Karang Taruna Pengkok tidak akan tinggal diam melewatkan momentum pergantian kepala desa nanti. (ETG)