Ketika Perajin Bambu di Desa Salam Kehabisan Anyaman Hidup

 

Sumadi dan istrinya dengan berbagai produk kerajinan bambu anyamannya. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (22/2) – Laksana sebuah proses ruas anyaman sedang dikerjakan, nasib produk usaha kecil perajin bambu di Desa Salam, Patuk, Gunungkidul timbul tenggelam. Keberlangsungan produksi usaha anyaman bambu sangat tergantung dengan datangnya permintaan pembeli. Menjadikan produk potensi lokal tersebut tidak nampak menonjol ditengah hingar bingar pemerintah desa yang sedang membangun.

Sumadi, warga Dusun Trosari, adalah salah satu perajin produk anyaman bambu yang sampai saat ini masih bertahan. Produksi anyaman bambu untuk berbagai alat pertanian masih produksi walau hanya ruang lingkup kecil. “Masih saya tekuni untuk tambah-tambah penghasilan selain bertani,” kata warga RT 19 ditemui dirumahnya, akhir pekan lalu. Sumadi mengerjakan pesanan hanya sewaktu datang pesanan seperti keranjang, tomblok, dan tenggok (alat pertanian tradisional) dengan berbagai ukuran.

Seperti umumnya perajin skala kecil lainnya, Sumadi tidak mengetahui bagaimana harus membesarkan usaha sampingannya agar eksis. Terlebih, pesanan alat-alat pendukung pertanian tidak setiap hari datang. “Hanya melayani kanan kiri sini saja. Paling banter ya tetangga dusun, tetangga desa. Itupun tidak bisa rutin karena memang produk ini awet. Petani pesan paling setahun sekali kalau memang sudah rusak parah,” ujar Sumadi sembari menunjukkan beberapa contoh anyaman tangannya.

Ia menjelaskan, sebenarnya tidak kesulitan untuk meningkatkan produksi yang sudah ditekuni sejak beberapa tahun itu. Bahan pokok iratan bambu mudah didapat sejalan desanya masih banyak terdapat pohon bambu yang melimpah. Harga sebatang bambu pun tidak dirasakan mahal. Hanya Rp7.000 per batang untuk jenis bambu hijau dan Rp8.000 per batang untuk jenis bambu hitam dapat “disulap” menjadi keranjang, tenggok, tomblok, ikrak (tempat sampah) sesuai ukuran pemesan. “Tiap satu lonjor bambu jadi dua tomblok,” imbuhnya.

Tidak mahal hasta karya Sumadi ini. Tiap keranjang dan tomblok yang anyamanya lebih rapat, Sumadi hanya mematok harga tidak lebih dari Rp25 ribu. Cukup dikerjakan setengah hari, satu buah tomblok siap diambil. Sumadi mengatakan kemampuan memproduksi tomblok juga tenggok hanya bisa menghasilkan dua buah dalam sehari. Selain karena anyaman tenggok lebih sulit karena lebih rapat, pekerjaan tersebut hanya dilakukan setelah bertani. Ia pesimistis ketrampilan “bawaan” tersebut bisa diturunkan pada generasi muda sekarang yang memang tidak banyak tertarik untuk meneruskan usaha anyaman alat pertanian.

Sumadi bukan tidak memiliki cerita tersendiri untuk ketrampilannya. Bersama kaum muda Karang Taruna, penanam kakao ini pernah menggagas mewujudkan sentra industri kecil besek yang berbahan bambu. Akan tetapi, impian Sumadi ini reda karena bungkus tradisional untuk tempat menyajikan makanan camilan ini pun harus tersingkir jenis kardus. “Ya akhirnya tidak jadi karena pasti kalah dengan kardus. Sekarang acara dimana-mana seperti rapat-rapat itu tempat menyajikan makanan kardus,” kata Sumadi.

Ia menyambut baik kedatangan Tim Penabulu bersama ketua Karang Taruna Maju Desa Salam di kediamannya untuk mendengar langsung usaha “byarpet” seperti listrik dimusim penghujan tersebut. Sumadi juga mengaku senang apabila ada generasi muda dan pihak LSM memiliki orientasi memajukan produk UMKM dan mengangkat potensi lokal seperti halnya perajin bambu. Di Salam sendiri menurut pangamatan dan data Karang Taruna ada Sumadi-Sumadi yang lain. Namun demikian nasibnya tidak jauh berbeda, tergerus peradaban dan teknologi.

Perajin kurungan misalnya, tinggal beberapa gelintir saja yang masih mau berkarya. Itupun hanya menunggu pesanan datang karena belum terbukanya jalur pemasaran. Senasib lainnya, perajin tampah, juga kembang kempis karena sudah tidak banyak keluarga yang membutuhkan untuk memilah beras dengan kerikil atau debu gilingan. Beras yang dibeli setiap keluarga kini sudah siap masak tanpa harus melalui proses membuang kerikil-kerikil yang menyelip. Meskipun, masyarakat tradisional lain masih memerlukan tampah untuk keperluan lain. Nasib perajin bambu Desa Salam seperti halnya sebuah rajutan bambu. Memiliki aksen dan corak anyaman yang menarik, tetapi sudah tidak banyak dibutuhkan.

Penabulu mengajak diskusi beberapa aktivis muda Salam untuk melihat potensi bambu yang masih melimpah di desa gerbangnya Gunungkidul ini. Keterampilan usaha anyaman berbahan bambu perlu banyak mengalami inovasi untuk dapat hidup dan bersaing di pasaran. Seperti bambu hitam untuk produksi meja kursi yang tak kalah menarik dengan sentuhan gambar dari sayatan kulitnya, keranjang tempat baju kotor, bak sampah, figura, bahkan pendapa atau gazebo berbahan bambu.

Eko, Ketua Karang Taruna Maju Desa Salam membenarkan melimpahnya tanaman bambu di Salam dan lokasi desa berada di jalur utama Gunungkidul ke pusat pemerintahan DIY menjadi peluang besar membentuk sentra industri bambu. Bersama Penabulu, Eko telah mengintip dan menginventarisasi tanaman bambu di enam dusun di Salam. Konservasi dan pelestarian produk berbahan bambu kian mengundang harapan bagi Desa Salam untuk lebih berekplorasi ditengah gegap gempitanya desa-desa kebingungan menyerap dana desa. “Melimpah dan potensial untuk diusung sebagai icon desa ‘kan?” tanya pemuda desa yang juga guru sebuah pondok pesantren di Patuk penuh optimistis.

Eko sependapat apabila konsep sentra industri bambu hanya akan bernasib sama seperti beberapa desa lain yang akhirnya justru mengantungkan bahan bambu dari Jawa Timur, Pacitan atau luar daerah lainnya akibat tidak imbangnya konservasi dan produksi. Bambu jenis apus atau bambu hijau, bambu hitam, masih mudah dijumpai di Salam. Seperti pekarangan rumah, lahan kosong, ladang, dan bantaran sungai desa. (ETG)