Pelatihan Konsultatif Penyusunan Perencanaan Desa di Kendari

 

Praktek lapangan di desa salah satu peserta yaitu Desa Lambangi. (sumber: dokumentasi lembaga)

Kendari (10/8) – Penabulu bersama IDRAP (Institusi Pemberdayaan Masyarakat Asli dan Pedesaan) mengadakan Pelatihan Konsultatif Perencanaan Penyususan Desa (RPJM-Desa, RKP-Desa dan APBDesa) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas (kemampuan) peserta dalam memfasilitasi penyusunan perencanaan desa (RPJM Desa dan RKP Desa) berdasarkan kebutuhan dan skala prioritas pembangunan desa, meningkatkan kapasitas peserta dalam menyusun RAPBdes berdasarkan RKPdes, meningkatkan kapasitas peserta dalam menyelaraskan dokumen RPJMdes, RKPdes, dan RAPBdes.

Pelatihan ini diadakan pada tanggal 1-5 Agustus bertempat di Graha Carita Kendari serta diikuti oleh 31 peserta dari 11 desa di Kendari, antara lain Desa Andinete, Baluara, Labuan Bajo, Labuko, Lambangi, Lanosangia, Lasiwa, Matalagi, Paboa, Pongkowulu, dan Ampera.

Pelatihan hari pertama dibuka oleh Ina selaku Sekretaris BPMD Provinsi Sulawesi Tenggara. Selanjutnya kegiatan dipandu oleh Sri Purwani sebagai fasilitator Yayasan Penabulu. Sri meminta para peserta menuliskan harapan mereka terhadap pelatihan ini, yang nantinya harapan-harapan tersebut digunakan sebagai ‘goal‘ para peserta. Beberapa harapan yang diinginkan peserta, diantaranya memahami mekanisme perencanaan pembangunan desa, memahami proses penyusunan RPJM-Desa, RKP-Desa dan APBDesa, memahami Prinsip Tata Kelola Desa (PTKD), dan lain-lain. Kemudian Sri meminta para peserta untuk melakukan pemetaan desa. Pemetaan desa ini dilakukan selain untuk mengenal desa masing-masing peserta, tapi juga untuk mengetahui potensi yang dimilikinya.

Hari kedua adalah kegiatan praktik lapangan di desa salah satu peserta yaitu Desa Lambangi. Pada kegiatan praktik lapangan, para peserta berkelompok untuk mengumpulkan gagasan dalam membangun desa melalui lima narasumber, yaitu aparat pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok wanita, kelompok tani dan nelayan, serta masyarakat Desa Lambangi. Hasil dari pengumpulan informasi tersebut didiskusikan untuk kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.

Kegiatan hari ketiga diawali oleh presentasi hasil pengumpulan gagasan masing-masing kelompok di Desa Lambangi. Pada presentasi ini ditemukan beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam perencanaan pembangunan desa, diantaranya pengeringan hasil tangkapan ikan yang masih mengandalkan sinar matahari, sehingga terkadang proses pengeringan tidak maksimal; belum adanya tempat pengeringan ikan yang memadai, sehingga nelayan menjemur ikan di pinggir jalan; dan potensi wisata pantai yang belum dimanfaatkan.

Dari hasil tersebut dapat dibuat rancangan pembangunan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan Desa Lambangi.

Setelah presentasi pengumpulan gagasan, kemudian peserta belajar mengenai RPJM-Desa dan RKP-Desa. Sri memaparkan tentang pengertian, fungsi, isi, serta perbedaan antara RPJM-Desa dengan RKP-Desa. Pada sesi ini banyak peserta yang terlihat masih belum terlalu paham, maka Sri meminta para peserta untuk praktek pembuatan RPJM-Desa dan RKP-Desa bagian perencaan program.

Peserta belajar penyusunan APBDesa bersama Sardi Winata (sumber: dokumentasi lembaga)

Hari keempat kegiatan, peserta belajar penyusunan APBDesa bersama Sardi Winata selaku fasilitator. Pada sesi ini, Sardi menjelaskan pengertian, fungsi, isi, serta tata cara penyusunan APBDesa. Pada saat penyusunan, peserta diminta untuk memperhatikan tata cara pemberian kode rekening (nomenklatur) yang urutannya sudah ada ketentuannya, tapi juga tetap disesuaikan dengan keadaan desa masing-masing. Agar lebih jelas, Sardi memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada peserta untuk membuat APBDesa sesuai dengan program-program yang sebelumnya sudah direncanakan di RPJM-Desa dan RKP-Desa.

Hari kelima, peserta memaparkan hasil APBDesa masing-masing kelompok. Dari APBDesa yang dibuat masing-masing kelompok, terdapat beberapa contoh kasus yang dapat menampah pengetahuan peserta mengenai penyusunan APBDesa sehingga para peserta menjadi lebih paham.

Pengenalan Sistem Aplikasi Keuangan Desa (SIAP DESA). (sumber: dokumentasi lembaga)

Kegiatan selanjutnya adalah pengenalan Sistem Aplikasi Keuangan Desa (SIAP DESA) yang difasilitasi oleh Maya Fathia. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu aparat desa dalam penataan keuangan desa. Pada sesi ini Maya mendemokan hal-hal yang dapat digunakan melalui aplikasi tersebut seperti penataan anggaran (APBDesa), penataan transaksi harian, serta pelaporan keuangan sesuai dengan Permendagri No. 113 Tahun 2014. Maya juga mendemokan tata cara penggunaannya dengan cara mencoba memasukan data Desa Lambangi kemudian menunjukan hasil pelaporannya.

Pelatihan selama lima hari ini berjalan dengan kondusif. Para peserta terlihat aktif dan antusias pada saat materi diberikan. Rangkaian kegiatan pelatihan ini ditutup dengan berfoto bersama peserta, panitia dan fasilitator.