Kembangkan PGPR, Slamet Raup Panen 10 Ton per Hektar

 

Salah satu cara meningkatkan produktivitas pertanian, Slamet berbagi pengalaman dengan teman seperjuangannya dalam membuat plant growth promoting rhizobacterial (PGPR) atau bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang
Salah satu cara meningkatkan produktivitas pertanian, Slamet berbagi pengalaman dengan teman seperjuangannya dalam membuat Plant Growth Promoting Rhizobacterial (PGPR) atau bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (18/4) – Masyarakat masih dapat melihat hamparan padi di lahan sawah saat mengelilingi Desa Ponjong, Gunungkidul. Juga, para petani yang mengolah lahannya dengan bangga. Salah satunya Slamet, petani Dusun Sumber Kidul, yang masih mampu mengolah sawahnya hingga menghasilkan padi 10 ton per hektar, dimana rata-rata produktivitas petani lain hanya 5-6 ton per hektar.

Di usianya yang menjelang senja, Slamet bukan hanya petani yang pasrah pada keadaan. Slamet adalah salah satu tokoh petani di Desa Ponjong yang rajin mengembangkan inovasi dan teknologi budidaya.

Tidak ada yang dirahasiakan oleh Slamet. Sebagai penyuluh swadaya, dirinya dengan sabar membeberkan rahasia agar petani dapat meningkatkan produktivitasnya. “Seorang petani jangan jadi petani yang monoton. Harus dihitung untung ruginya. Hasil panen yang kita dapat dalam tiga kali masa panen harus dihitung dan dibandingkan dengan biaya yang kita keluarkan. Itu semua harus dihitung. Ya, kalau hanya dapat 5-6 ton per hektar namanya rugilah,” katanya.

Slamet menambahkan jika mau meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian padinya, sebagai petani harus memperhatikan pertumbuhan tanaman padi sejak masa tanam hingga panen. Salah satunya dengan mengembangkan inovasi agar tanaman padinya tumbuh dengan mempunyai postur yang kuat. “Batang dan akar yang harus kuat bukan hanya daun yang hijau saja, agar malainya jangan sampai kopong,” tegas Slamet.

Slamet tak tinggal diam ketika diperkenalkan cara membuat Plant Growth Promoting Rhizobacterial (PGPR) atau bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang. Sebagai Ketua Kelompok Tani ‘Tani Rukun’ Dusun Sumber Kidul, Slamet menguji coba PGPR untuk lahannya sendiri.

“Agar tanaman padi kita kuat dan malainya panjang harus diberikan pemacu pertumbuhan tanaman yang dinamakan PGPR dan untuk membuat PGPR bahan-bahanya bisa ditemukan disekitar kita seperti akar bambu dan akar putri malu,” tuturnya.

Bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang sangat penting bagi tanaman pertanian karena PGPR merupakan agen hayati yang mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman, serta meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.

Penyuluh Pertanian Desa Ponjong Heru Prasetya Juga menjelaskan mekanisme PGPR dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan ketahanan tanaman. PGPR sebagai bakteri baik mampu memproduksi zat pertumbuhan tanaman (ZPT), mampu melarutkan fosfat sehingga bisa meningkatkan efisiensi pemupukan, memproduksi antibiotik, memproduksi siderofor yang meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan meningkatkan produksi senyawa pertahanan tanaman.

Heru menambahkan ada penelitian yang menyebutkan jika kandungan pupuk organik tanah di Desa Ponjong kurang dari dua persen. Untuk meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya maka petani perlu meningkatkan penggunaan pupuk organiknya. Pupuk organik merupakan penyubur tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

“Kebutuhan pupuk organik per hektarnya minimal 2 ton. Jika bisa lebih banyak akan semakin baik dan inputan pupuk kimia bisa dikurangi, sehingga terjadi peningkatan hasil panen,” pungkas Heru. (ES)