Jaga Kelestarian Hutan, Masyarakat Manfaatkan Potensi Desa

Lampung (11/4) – Sebanyak 23 desa penyangga yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mempunyai peran penting dalam menjaga kelestarian hutan. Mereka mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan hutan seperti air dan hasil hutan bukan kayu. Namun demi kepentingan ekonomi serta kurangnya kesadaran masyarakat, ada sebagian masyarakat yang melakukan kegiatan ilegal di dalam wilayah hutan seperti menangkap burung dan membuka lahan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengancam kelestarian hutan tempat hidup tiga satwa utama yakni badak, gajah dan harimau.

Sebenarnya desa-desa di sekitar wilayah TNWK menyimpan berbagai macam potensi sumber daya alam. Dari sektor pertanian dan perkebunan desa sekitar TNWK dapat menghasilkan singkong, jagung, jahe dan pisang. Hasil pertanian itu pun dijual langsung oleh masyarakat kepada pedagang tanpa melalui proses pengolahan.

Kini, budidaya pertanian dan perkebunan warga mulai terancam dengan hadirnya gajah-gajah liar, babi hutan dan kera ekor panjang yang masuk ke lahan petani. “Yang kami lakukan selama ini hanya bisa mengusir gajah-gajah itu agar kembali masuk hutan,” ungkap Jito, salah seorang warga asal Pulau Jawa yang sudah lama menetap di Desa Rantau Jaya Udik kepada Perkumpulan Desa Lestari.

Jito yang rumahnya berbatasan langsung dengan TNWK membuka usaha budidaya lebah madu. Usaha ternak lebah madu dimulai sejak tahu adanya larangan mengolah lahan di kawasan hutan. Dirinya bersama beberapa pemuda dari dusun lainnya tergabung dalam satu kelompok budidaya madu. Kelompok tersebut mereka jadikan sebagai media belajar dan saling berbagi informasi. Ada dua jenis lebah yang dipelihara yaitu lebah lanceng dan lebah lulut. “Permintaan madu cukup tinggi, seberapapun pasti laku terjual dan kadang kami kekurangan,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Labuhan Ratu VI Prayitno menyadari wilayah desanya yang berada di kawasan TNWK, selain melakukan upaya penyadaran masayarakat, pihaknya terus berupaya keras untuk meningkatkan perekonomian warganya. Upaya yang dilakukan pemerintah desa mulai merintis usaha pariwisata dengan membangun ikon desa, kios desa serta pengembangan produk-produk berbasis potensi desanya. “Kami sering berkunjung ke Jawa, membeli barang-barang agar ditiru warga kami, dan ternyata bisa,” kata Prayitno yang juga Ketua Forum Rembug Desa-desa Penyangga (FRDP).

Ia menambahkan padat karya tunai dana desa digunakan untuk menanam pisang di lahan desa seluas satu hektar. Selain warga mendapatkan upah dari pekerjaan mengolah lahan dan menanam, Prayitno berharap kedepannya dapat menghasilkan secara ekonomi. Nantinya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang akan mengelola unit-unit ekonomi yang mulai dirintis tersebut. “Kami butuh peningkatan kapasitas pengurus BUMDes dalam mengelola keuangan usaha dan administrasi keuangannya,” ujar Prayitno.

Di tempat terpisah, Plt Kepala Balai TNWK Amri mengatakan TNWK telah membangun komitmen dengan 23 desa penyangga guna menjaga kelestarian hutan TNWK. Sebagai wujud dari komitmen itu, Balai TNWK bekerja sama dengan berbagai pihak seperti akademisi dan NGO untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat. Pihaknya mengaku memerlukan dukungan dari berbagai pihak mengingat banyaknya desa dan terbatasnya anggaran. Semakin menguatnya ekonomi masyarakat desa-desa penyangga diharapkan tidak ada lagi warga yang masuk ke hutan. “Masuk ke hutan itu sebenarnya mengancam keselamatan jiwanya dan tentu mengancam keberadaan satwa di dalamnya juga,” tutur Amri kepada Perkumpulan Desa Lestari saat ditemui di Hotel Batiqa Bandar Lampung pada Minggu (11/4).

Menurut Amri, Pemerintah Desa dapat mengalokasikan anggaran dana desanya untuk kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat. Dana Desa tidak hanya dimanfaatkan untuk membangun gorong-gorong dan jalan desa. “Katakanlah yang 70 persen digunakan untuk pembangunan fisik, yang 30 persen dapat digunakan untuk kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (ES)

Kelestarian Hutan Konservasi di Lampung Butuh Komitmen Multipihak

Lampung (9/4) – Provinsi Lampung memiliki dua taman nasional, yakni Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Keduanya menyimpan kekayaan flora dan merupakan habitat tiga spesies kunci yang dilindungi: Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan Gajah Sumatera. Kelestarian hutan di kedua wilayah tersebut perlu dijaga oleh berbagai pihak karena keberadaannya yang memberikan manfaat jangka panjang mulai terancam.

Pada acara Ngobrol Pintar Hutan Konservasi di Pendopo Desa Labuhan Ratu V, Lampung Timur pada Jumat (9/4), Bupati Lampung Timur Dawam Raharjo mengemukakan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan aset yang sangat berharga, baik untuk kelestarian lingkungan hidup maupun pemanfaatannya sebagai objek wisata. Hutan TNWK menyimpan kekayaan flora dan fauna yang tak ternilai harganya, dan dapat dijadikan daya tarik wisata berdaya saing baik tingkat lokal, nasional maupun internasional. Maka, lanjut Dawam, sudah tentu diperlukan dukungan dari berbagai pihak.

“Dalam pengembangannya merupakan tugas lintas sektoral, mengingat pembangunan memerlukan keterpaduan program antar dinas, instansi maupun pihak swasta,“ kata Dawam.

Dawam mengaku masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan pada masing-masing kawasan konservasi. Aktivitas ilegal di dalam kawasan konservasi seperti kebakaran, pembalakan, penambangan, dan perburuan liar yang dipicu oleh tekanan ekonomi serta kesadaran masyarakat sekitar yang masih rendah.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dibutuhkan dukungan dari para pihak, termasuk pemerintah provinsi maupun pusat. “Kami selaku pemerintah daerah akan terus berupaya mendukung, upaya pemerintah pusat maupun provinsi untuk menjamin kelestarian dan kemanfaatan hutan konservasi,” tegas Dawam yang baru menjabat tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BTNBBS) Siti Muchsidah juga menyatakan TNBBS memiliki kekaayaan keanekaragaman hayati dan beberapa ancaman yang dihadapi. TNBBS mempunyai tiga spesies kunci yakni Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Badak Sumatera. Adanya penutupan lahan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat yang berada di dalam kawasan sekitar taman nasional. “Keberadaan invasi tumbuhan larangan dan adanya aktivitas ilegal mengancam keberadaan ketiga spesies kunci,” ujarnya.

Siti menjelaskan BTNBBS tidak bisa bekerja sendiri tetapi butuh dukungan beberapa pihak untuk menjaga kelestariannya. BTNBBS perlu bekerja sama dengan masyarakat yang berada di sekitar wilayah hutan yang merupakan desa-desa penyangga Taman Nasional. Para pihak diminta memberikan kontribusi, mengembangkan potensi-potensi pengembangan yang dimiliki masyarakat, serta membantu memecahkan beberapa persoalan yang dihadapi.

Masyarakat berkewajiban ikut mengamankan kawasan secara partisipatif. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Balai TNBBS, diantaranya peningkatan ekonomi produktif melalui kerja sama pemanfaatan hasil hutan kayu sudah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat bersama TNBBS. BTNBBS juga telah memberikan bantuan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang memang diperlukan oleh kelompok masyarakat seperti pembangunan mikrohidro, ternak kambing dan sapi dan pelatihan-pelatihan.

”Masyarakat merasa mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga tanpa diminta, secara tidak langsung akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat lain untuk ikut menjaga kelestarian taman nasional,” kata Siti.

Acara Ngobrol Pintar Hutan Konservasi yang dihadiri multipihak menghasilkan tiga rumusan penting. Pertama, adanya dukungan dari pemerintah Provinsi Lampung melalui Peraturan Daerah Provinsi Lampung dan Peraturan Gubernur Lampung yang akan ditindaklanjuti dengan peraturan daerah di tingkat kabupaten untuk memperkuat fungsi kawasan hutan konservasi di Lampung dalam menjaga secara utuh eksistensi kawasan TNBBS dan TNWK, yang mengemban fungsi sosial dan ekonomi jangka panjang dan menjamin kelestarian ekosistem kawasan, sebagai habitat satwa prioritas.

Kedua, adanya tindak lanjut pada pertemuan-pertemuan kecil bersama organisasi perangkat daerah di masing-masing kabupaten bersama para pihak,bagi pemberdayaan masyarakat dan pelestarian kawasan hutan konservasi di wilayah Provinsi Lampung

Terakhir, aksi konservasi Badak Sumatera dan satwa prioritas lainnya, beserta habitatnya yang dilakukan oleh BTNBBS dan BTNWK bersama para mitra melalui upaya penyelamatan Badak Sumatera dalam Rencana Aksi Darurat (RAD). (ES)