Kenangan Hijaunya Ladang Tembakau dan Sayur di Dusun Tanjung

Lahan pertanian di Kampung Tanjung, Bleberan, Playen, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (13/4) – Hamparan padi di lahan pertanian Kampung Tanjung, Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul beberapa waktu lalu sebelum dipanen sudah nampak menguning. Masyarakat setempat yang sebagian besar bertani bergegas menanam padi.

Padi menjadi andalan para petani, meskipun dua dusun ini pernah menyimpan cerita sebagai kawasan pertanian tembakau. Bahkan hasil pertanian sayur mayur pernah menjadi produk unggulan memperkuat kebutuhan pangan lokal di jamannya.

“Tapi sekarang sudah tidak ada yang mau menanam sayuran seperti dulu. Padahal, (Dusun) Tanjung jaman saya masih anak-anak hingga remaja salah satu wilayah terkenal penghasil sayuran,” kata pegiat taruna tani Ubet Manunggal, Edi Patmo kepada Yayasan Penabulu belum lama ini.

Tanaman jenis sayuran seperti sawi, bayam, wortel, kacang panjang, cabai, kedelai, dan sejenis lainnya menjadi identitas yang melekat dan melambungkan pertanian Tanjung. Tak heran, produk sayuran petani Tanjung era 1980-an memperkuat stok pangan lokal dan memperkuat sejumlah pasar tradisional Gunungkidul seperti halnya petani di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari.

“Tapi kemudian pelan-pelan petani meninggalkan tanaman sayuran. Semua beralih padi. Sejalan tuntutan pemerintah yang ingin menggenjot produktivis padi sebagai produk unggulan,” ujarnya. Edi mengaku tergerusnya minat menanam sayuran sangat sulit dikembalikan seperti sedia kala, bertani sayuran. Selain beda generasi dan pandangan memilih padi dianggap lebih menguntungkan, belum ada kemerdekaan petani menentukan sendiri jenis tanaman yang hendak ditanam yang bisa menjadi sumber kehidupan memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Petani aktif menggelorakan pertanian organik dikelompoknya dan integrasi dengan sektor perikanan mengaku dampak dari menghilangnya petani sayuran dan semua berbalik ke padi membuat ancaman tersendiri untuk persoalan stok sayuran lokal. Kenyataan ini dikuatkan dari pengamatan pasar tradisional dilakukan Yayasan Penabulu, dimana kebutuhan sayur sangat bergantung pasokan daerah lain seperti sejumlah kabupaen di Jawa Tengah (Jateng).

“Dari Kopeng, dari Pasar Beringharjo, dari daerah luar Gunungkidul akhirnya sayur baru bisa disajikan untuk keluarga kita,” imbuh Edi seraya memastikan tanaman jenis sayuran cabai masih diminati masyarakat.

Selain sayuran, tembakau juga sudah sulit dijumpai di pertanian Bleberan. Karena propaganda kesehatan tanaman tembakau sebagai bahan utama produksi rokok sudah jarang dijumpai seperti era tahun 80 dan 90-an. Tetapi, berbeda halnya dengan tokoh petani Tanjung, Martono yang tetap masih menyempatkan menanam jenis tembakau setiap musim kemarau. Kakek berusia kepala delapan ini mengaku menanam tembakau sebagai bentuk ketidaksetujuan dirinya pemberangusan terhadap tembakau asli Indonesia.

“Khusus saya masih selalu menanam tembakau. Hanya jumlahnya tidak sebanyak dulu karena hasilnya untuk dikonsumsi sendiri,” kata Martono sesepuh Ubet Manunggal.

Martono meyakini menanam tembakau sebenarnya mendatangkan hasil cukup lumayan. Hanya dia heran banyak petani di Bleberan yang terpengaruh ajakan pihak-pihak tertentu meninggalkan tembakau. “Untuk saya malah semakin minat. Kemungkinan nanti malah akan nanam lebih banyak tembakau karena memang masih banyak pihak perusahaan rokok membutuhkan,” ungkap Martono.

Sartini, pedagang Pasar Argosari, Wonosari, mengaku heran dengan pertanian di Gunugkidul. Pasalnya, pasokan sayuran sudah sulit mendapatkan hasil dari produk lokal. Pedagang asal Wonosari ini selama ini mengandalkan pasokan sayuran dari tengkulak Jogja hasil dari pertanian Wonosobo dan Magelang.

“Padahal jelas sayuran itu selalu dibutuhkan. Hasil tani sayur sebenarnya laku keras karena semua orang membutuhkan setiap harinya,” pungkasnya. (ETG)