Peran Perempuan Dalam Program Pembangunan Desa, Refleksi Studi Banding PKK Desa Diaklay ke Desa Sumbermulya Bantul

Bantul (14/4) – Menindaklanjuti hasil kunjungan pemerintah Desa Diaklay dalam studi banding ke desa Sumbermulya pada tanggal 10 – 12 Februari 2015 lalu, maka pada tanggal 24 – 26 Maret 2015 9 orang pengurus PKK Desa Diaklay melakukan kunjungan belajar selama 3 hari.

IMG_7018Perkembangan pembangunan desa di seluruh Indonesia saat ini menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan keterlibatan banyak elemen desa untuk bergerak dan berpartisipasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monev program yang ada di desa, demikian juga dengan PKK Desa Diaklay. Arah yang dibangun dengan kunjungan ini adalah untuk lebih menghidupkan tata kelola managemen program internal PKK, kontribusi PKK dalam program pembangunan pedesaan, pengembangan jaringan dan juga menata semangat kerja pengurus dan anggota secara bersama.

Proses Pembelajaran

Model studi banding ini merupakan model magang dan kunjungan lokasi yang terdampak maupun yang menunjang program PKK dan Pembangunan Desa. Oleh karena itu kemasan alur stuban menjadi santai tetapi mempunyai diharapkan mempunyai output yang bisa dikembangkan di Diaklay.

Hari pertama, diawali dengan proses penjelasan umum tentang program PKK di Desa Sumbermulya oleh Ketua PKK Desa Sumbermulya yakni Ibu Albani. Penjelasan ini dilanjutkan dengan tanya-jawab secara umum tentang perencanaan program, kepengurusan, tantangan dan juga kontribusi PKK kepada masyarakat ketika terjadi gempa tahun 2006.

IMG_7025Proses tanya jawab secara umum berjalan sampai waktu makan siang, dan setelah makan siang kegiatan dilanjutkan dengan magang per pokja, mulai pokja I sampai dengan pokja IV. Dalam magang ini pengurus PKKK Desa Diaklay sangat antusias dan semangat dalam berdiskusi dan mempelajari berbagai dokumen yang terkait dengan kelembagaan PKK, juga mereka belajar tentang SAKTIA (Sehat, Aktif, Kreatif, Ibu dan Anak), sebuah program yang dikembangkan oleh Yayasan Teratai Putih yang dipimpin oleh GKR Hemas dan difokuskan untuk mengembangkan program bagi anak-anak dan perempuan dari keluarga miskin. magang ini diakhiri pukul 14.00 Wib, dan Ibu-Ibu melanjutkan perjalanan menuju Pantai Parangtritis dan Depok Bantul.

IMG_7033Hari kedua, proses studi banding kedua ini untuk belajar tentang aktivitas program PKK pedusunan yakni dalam Posyandu Teratai, di Dusun Kintelan untuk program Posyandu Balita. Dalam kunjungan lokasi yang sedang mengadakan penimbangan dan program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) ini, pengurus PKK Diaklay berdiskusi dengan pengurus Posyandu Teratai tentang tantangan program Posyandu, dinamika kepengurusan (termasuk di dalamnya bagaimana membuat suasana tidak membosankan), dan juga proses membuat varian makanan tambahan. Hal tersebut ditanyakan karena di Diaklay seringkali Posyandu hanya menjadi acara rutin yang monoton terutama dalam pemberian makanan tambahan, padahal jenis-jenis makanan bergizi di sekitar desa cukup banyak, namum karena ketidaktahuan, maka hal tersebut seringkali tidak diperhatikan.

IMG_7066Setelah berkunjung ke Posyandu Teratai, dilanjutkan dengan kunjungan ke TBM (Tempat Belajar Masyarakat) “Luru Ilmu” yang dimotori oleh Bapak Syaiful. TBM ini merupakan TBM swadaya murni masyarakat, buku diperoleh dari berbagai pihak yang peduli baik dari institusi lokal maupun personal. Luru Ilmu diakses oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak sekolah sampai masyarakat umum di sekitar dusun maupun desa. Sebagai tempat belajar masyarakat Luru Ilmu sangat mengedepankan semangat proaktif untuk menawarkan berbagai bahan belajar bagi masyarakat seperti: buku-buku bacaan pendidikan formal, informal, majalah, koran (untuk ketugasan kliping-kliping anak sekolah dan mahasiswa), foto jenis-jenis kain batik Yogyakarta maupun Solo, seri uang baik kertas maupun pecahan dari masa-ke masa. Hal ini sungguh membantu masyarakat yang ingin belajar tentang perkembangan jenis batik maupun jenis mata uang baik Indonesia maupun dunia.

Diskusi antara kelompok PKK Desa Diaklay dengan pengelola TBM Luru Ilmu sangat santai tetapi serius menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan awal pendirian, perjalanan proses pengelolaan dan suka-duka menjaga ketersediaan sarana-prasarana yang ada. Pembelajaran yang diperoleh dari kunjungan ke TBM ini adalah diperlukan semangat pantang menyerah untuk mengawali sebuah mimpi bagi proses pendidikan anak-anak secara inovatif dan berkesinambungan.

Hari ketiga, merupakan bagian untuk merefleksikan hasil kunjungan dan menemukan rencana tindak lanjut setelah mendengarkan penjelasan umum, magang ke setiap pokja serta kunjungan ke lokasi kegiatan. Maka proses di hari ketiga ini diawali dengan refleksi yang dibagi dalam 3 kelompok terkait dengan temuan hal-hal menarik. Selain menemukan hal-hal menarik, dalam dikusi juga dibicarakan beberapa langkah tindak lanjut yang bisa segera dilakukan setelah pengurus PKK Desa Diaklay kembali ke desanya. Kemudian setelah semua hasil disepakati maka ada perwakilan kelompok yang bertugas untuk presentasi dengan dengan hasil sebagai berikut:

HASIL REFLEKSI KELOMPOK

table_1

RENCANA TINDAK LANJUT

table_2

Demikian hasil tiga hari kunjungan studi banding dari PKK desa Diaklay Muara wahau Kutai Timur Kaltim di desa Sumbermulya Bambanglipuro Bantul DIY, semoga semakin membantu persiapan desa untuk mewujudkan desa yang mandiri dengan kerjasama antar berbagai elemen dalam penataan dan pengembangan kelompok PKK sebagai salah satu mitra strategis dalam pembangunan desa.

Yogyakarta, 13 April 2015

Sri Purwani

Pendampingan Proses Musyawarah Desa (Musdes) di Desa Ponjong

 

Kebijakan Baru, Proses Baru

Hadirnya UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa di tengah regulasi negeri ini sungguh membawa hiruk-pikuk sebuah wilayah yang disebut desa dalam mempersiapkan tata kelola baru yang luar biasa, terutama terkait dengan kesiapan sumberdaya manusia pemerintah desa dan lembaga-lembaga desa di dalam proses pengelolaan manajemen sumber daya, sumber dana dan sumber data secara sinergis. Hal tersebut dalam siklus tata kelola pemerintah desa yang baru diawali dengan Musyawarah Desa (Musdes).

IMG_6787
Ketua BPD dan para narasumber dalam Musdes Desa Ponjong (sumber: dokumentasi lembaga)

Begitu juga halnya dengan Desa Ponjong, Gunungkidul sebagai desa mitra Penabulu Yogyakarta. Desa tersebut melakukan Musdes pada 27 Februari 2015. Sesuai dengan PP No 43 Tahun 2014 Pasal 80 disebutkan bahwa Musdes dimotori oleh BPD, oleh karena itu Forum Musyawarah desa ini diikuti oleh BPD, Pemdes dan Unsur masyarakat desa. Tujuan dilaksanakannya Musdes sesuai UU No 6 Tahun 2014 pasal 54 (2) adalah membicarakan hal-hal strategis yang berkaitan dengan a) penataan desa, b) perencanaan desa, c) kerjasama desa, d) rencana investasi yang masuk ke desa, e) pembentukan BUMDes, f) penambahan dan pelepasan aset desa dan g) kejadian luar biasa.

Kegiatan Musdes dimulai pada pukul 13.30 – 16.30 WIB dan diikuti oleh sekitar 85 orang yang berasal dari berbagai elemen masyarakat wakil dari 11 pedukuhan yang ada di Desa Ponjong. Secara umum alur Musdes dilakukan melalui proses pembukaan, penyampaian maksud dan tujuan oleh Ketua BPD Desa Ponjong, dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Pejabat Kepala Desa tentang arah Perencanaan Program Pembangunan Desa serta beberapa kebijakan baru untuk desa, sedangkan Ani sebagai pendamping desa dari lembaga Penabulu, memberikan kunci pemahaman “Menuju Proses Desa Berdaya” dari sisi arti penting dan fungsi Musdes dalam tata kelola desa, kegiatan diakhiri dengan diskusi kelompok serta presentasi dan penutup.

Ruang Belajar Masyarakat untuk Berbagi dan Berpartisipasi

IMG_6786
Keseriusan peserta dalam mencermati paparan para narasumber

Proses Musdes di Desa Ponjong ini merupakan kegiatan perdana yang dilakukan “sesuai” dengan regulasi baru tentang desa, oleh karena itu proses masih mencari bentuk dan disesuaikan dengan kondisi peserta musdes. Namun demikian, antusiasme peserta musdes untuk berpartisipasi dan terlibat aktif menjadi salah satu “obat penenang” bagi penanggung jawab kegiatan yakni BPD. Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan baik kepada BPD, Pemerintah Desa maupun Narasumber merupakan ungkapan “semangat sekaligus keresahan,” dari berbagai elemen terutama terkait dengan 1) masa depan lembaga-lembaga desa; 2) mekanisme Musdes: apakah akan mengganti Musrenbangdes atau tetap keduanya ada?; 3) soal perencanaan pembangunan dan sistem transparansi pertanggungjawaban desa kepada masyarakat; 4) juga peran perempuan dan dusun dalam perencanaan pembangunan, dan 5) bagamana masyarakat bisa mengetahui pembagian anggaran secara adil dan transparan untuk kegiatan-kegiatan di tingkat pedesaan.

IMG_6791
Dinamika peserta dalam proses tanya jawab dan yang disampaikan kepada para narasumber

Kelima pertanyaan di atas membuat dinamika Musdes menjadi hidup, dan secara bergantian pertanyaan tersebut dijawab oleh PJ. Kepala Desa, Ketua BPD dan Narasumber dengan model saling melengkapi. Namun ada hal menarik ketika proses Musdes akan dilanjutkan dengan diskusi kelompok, peserta memilih menuliskan usulan kegiatan yang akan dimasukkan dalam bank usulan program pemerintah desa sehingga ke depan bisa menjadi sarana untuk membuat skala prioritas yang disesuaikan dengan prioritas tahunan dalam RPJMDes. Sehingga proses Musdes diakhiri setelah berbagai elemen masyarakat yang hadir dalam musdes memberikan mandat kepada pemerintah desa dan tim perumus untuk menyusun klasifikasi usulan kegiatan warga tersebut menjadi tawaran prioritas yang akan dibawa ke dusun-dusun sebagai awal sosialisasi program desa.

Pembelajaran

Beberapa poin yang bisa menjadi sarana pembelajaran dalam pelaksanaan Musdes di desa Ponjong sebagai sebuah mekanisme baru dalam proses tata kelola pemerintahan desa antara lain:

  1. Musdes belum dipahami sebagai satu sarana untuk menemukan dan membicarakan hal-hal yang strategis, tetapi masih dalam tataran “Jaring Aspirasi” masyarakat yang lazim dilakukan oleh BPD
  2. Untuk mengajak masyarakat melakukan diskusi kelompok secara intensif terutama terkait dengan perumusan skala prioritas usulan program, bukanlah hal yang “diminati” oleh peserta, masih ada kebiasaan “memasrahkan” pada sekelompok tim yang memang mempunyai ketugasan tertentu
  3. Kelompok perempuan belum terlibat dalam pengusulan kegiatan-kegiatan yang strategis tetapi masih mengutamakan kegiatan yang bersifat sektoral dan kelompok, sehingga masih banyak usulan program yang strategis belum berperspektif gender.

Demikian beberapa pembelajaran yang bisa dipetik dalam proses perdana menemani musdes didesa Ponjong. Semoga segala perubahan dinamika tata kelola desa ini menjadi satu spirit baru untuk menuju desa yang mandiri dan berdaya terutama dalam mengembangkan potensi yang menjadi sumberdaya desa.

Jogjakarta, 14 April 2015

Salam,
Sri Purwani