Tingkatkan Potensi Desa, Petani Kakao Long Pahangai Antusias Ikuti KBA-DS

Selama ini daerah penghasil kakao yang terkenal di Indonesia berada di Pulau Sulawesi. Berdasarkan data yang dihimpun databoks Katadata, empat dari sepuluh daerah penghasil kakao terbesar 2018 berada di pulau tersebut, antara lain Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Selebihnya daerah penghasil kakao terbesar tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, dan NTT.

Namun belum banyak masyarakat yang tahu bahwa salah satu wilayah di Pulau Kalimantan memiliki komoditas kakao yang potensial, yaitu di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Terdapat lahan seluas 4.143.100 hektar yang tersebar di delapan kampung di Kecamatan Long Pahangai dengan potensi kakao kering mencapai hampir 250 ribu kilogram per tahun.

Meski begitu hasil produksi kakao belum dapat terserap semua. Ada beberapa kendala yang ditemui seperti akses pasar, sarana transportasi, penanganan budidaya dan pasca panen, dan keterampilan produksi produk olahan kakao yang kurang mendukung.

Samsul Diwil, salah satu petani kakao di Long Pahangai mengaku dirinya menanam kakao asal-asalan. Selama ada tanah, Samsul membuat lubang untuk ditanami kakao. Selain itu, jarak antar tanaman rapat-rapat.

Petani kakao lainnya, Hiroh Lasah, menanam kakao tanpa menerapkan teknik budidaya dan tanpa perawatan. Sehingga hasil panennya dari lahan kebun kakaonya yang seluas dua hektar itu hanya sedikit.

Melihat kondisi tersebut, Astra Internasional bersama Perkumpulan Desa Lestari mengadakan program Kampung Berseri Astra Menuju Desa Sejahtera (KBA-DS) selama 2018-2020. Tujuannya untuk mengembangkan kewirausahaan melalui penguatan kapasitas kelompok usaha dan petani kakao di Kecamatan Long Pahangai. Lima dari sebelas kegiatan yang dilakukan selama program KBA-DS berupa peningkatan teknik budidaya dan pengolahan kakao.

Kelompok tani Kecamatan Long Pahangai mengikuti Pelatihan Budidaya dan Pasca Kakao dan Pengendalian Hama Terpadu. Kegiatan itu bertujuan mengakomodir kebutuhan para petani dan pengalaman dalam budidaya kakao. Beberapa hasil pelatihan diantaranya kapasitas kader petani kakao meningkat dan pengetahuan, keterampilan, rasa percaya diri, profesionalisme, dan hasil produksi kakao meningkat. Selain itu, petani kakao juga bisa membedakan hama, penyakit, dan musuh alami kakao.

“Setelah saya bergabung dengan BPER dan mengikuti pelatihan maupun pendampingan budidaya kakao yang dilakukan oleh Astra dan Desa Lestari bersama teman-teman lainnya, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan,” ucap Samsul yang juga menjabat sebagai manajer BPER.

Petani kakao serta BPER Suwan Keliman diajarkan mengoperasikan mesin produksi bubuk dan lemak kakao. Tujuannya supaya mesin yang merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Mahakam Ulu tersebut bisa aktif dan memberikan manfaat bagi petani kakao.

Pelatihan yang diadakan pada 25 September 2018 lalu berhasil menambah wawasan petani bahwa kakao bisa diolah menjadi bubuk dan lemak kakao. Sebelumnya mereka hanya menjual kakao dalam bentuk biji saja. Selain itu petani jadi tahu bahwa harga kakao bisa jauh lebih mahal karena kualitas kakao meningkat.

Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kakao, sebanyak 25 kelompok tani dampingan KBA-DSA mendapat pendampingan rutin pada tahap budidaya dan pengendalian hama terpadu. Praktik dilakukan rutin setiap dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Tujuannya supaya para petani bisa mengubah pola kegiatan budidaya kakao dari sistem “tanam tunggu” dan menerapkan Good Agriculture Practice (GAP). Dengan begitu, kuantitas hasil panen kakao meningkat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kualitas kakao menerapkan standar kadar fermentasi di atas 70 persen, kadar air di bawah 10 persen, dan kadar sampah di bawah 4 persen.

Para petani kakao turut belajar menciptakan produk turunan baru dari kakao, yaitu coklat bubuk siap minum. BPER menjalin kerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Long Pahangai (HIMALOPA) untuk memasarkan produk di Samarinda dan Perkumpulan Desa Lestari untuk pemasaran di Yogyakarta.

“Saya semangat untuk mengembangkan kakao di Long Pahangai semakin tinggi,” kata Hiroh, setelah mengikuti program KBA-DS.

Adanya pemberdayaan kampung dari program KBA-DS oleh Astra Internasional dan Perkumpulan Desa Lestari diharapkan bisa meningkatkan kualitas, kuantitas, serta memperluas pemasaran produksi kakao di Long Pahangai, Mahakam Ulu. Sehingga kakao produksi dari daerah tersebut bisa dikenal oleh masyarakat. Dengan begitu, kakao dapat memberikan manfaat lebih besar lagi bagi petani kakao di Long Pahangai. (LA)

Potensi Kakao dari Tepian Indonesia

Mahakam Ulu (9/9) – Kabupaten Mahakam Ulu adalah daerah yang berada di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Memiliki luas 15.314,40 kilometer persegi, kabupaten ini termasuk dalam wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) karena berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia.

Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat ini memiliki potensi komoditas berupa kakao yang melimpah. Berdasarkan delapan kampung produktif di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, tercatat ada 4.143.100 meter persegi lahan kakao.

Namun rupanya masyarakat belum memperhatikan proses budidaya dengan baik, termasuk proses pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Selain itu, model pengelolaan pasca panen masih tradisonal menggunakan peralatan sederhana secara manual. Faktor-faktor itulah yang membuat produktivitas biji kakao menjadi kurang optimal.

Melihat kondisi tersebut, PT Astra Internasional Tbk bersama Perkumpulan Desa Lestari mengadakan Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS) di Kabupaten Mahakam Ulu. Tujuannya untuk memberdayakan kampung melalui kemitraan dengan dunia usaha, mengentaskan kemiskinan, dan memberikan nilai tambah yang mampu meningkatkan keuntungan bagi pendapatan masyarakat.

Sebanyak 941 petani dari 27 kelompok tani menjadi masyarakat terpapar program yang berjalan mulai 2018 hingga 2020. Kegiatan program berfokus di Kecamatan Long Pahangai dengan menyasar 13 kampung. Delapan kampung produktif yang menjadi sasaran antara lain Long Pahangai I, Long Pahangai II, Lirung Ubing, Naha Aruq, Datah Naha, Long Isun, Long Lunuk, dan Long Tuyoq.

Selama dua tahun, tim dari Perkumpulan Desa Lestari menyelenggarakan beberapa kegiatan penguatan kapasitas kelompok masyarakat secara bertahap, diantaranya Pelatihan Teknis Budidaya dan Pasca Kakao dan Pengendalian Hama Terpadu, Peningkatan Standar Kuantitas dan Kualitas Komoditas Kakao, dan Fasilitasi Pembentukan Gapoktan sebagai Pengelola Mesin Produksi Coklat.

Program KBA-DS berhasil mengembangkan komoditas kakao sebagai komoditas unggulan di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu. Selain itu, kreativitas masyarakat semakin terasah dalam menciptakan inovasi. Masyarakat Long Pahangai menjadi berdaya menghadapi persaingan pasar dan tuntutan pasar, khusunya pada komoditas kakao.

Salah satu petani kakao Samsu Diwil mengatakan pengetahuannya bertambah setelah mengikuti program tersebut. “Setelah saya bergabung dengan BPER dan mengikuti pelatihan maupun pendampingan budidaya kakao yang dilakukan oleh Astra dan Desa Lestari bersama teman-teman petani lainnya, banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan,” ungkap Samsu.

Selain itu, Samsu mengaku keikutsertaannya pada program KBA-DS turut meningkatkan produksi kakao kebunnya. Pada 2017, dirinya hanya bisa menghasilkan lima kilogram kakao per bulan. Tiga tahun kemudian, produksi kakaonya meningkat lima kali lipat menjadi 25 kilogram per bulan. (LA)

Menggali Potensi Kopi dan Bambu Tabah di Tabanan

Kabupaten Tabanan terletak di sebelah barat daya Pulau Bali. Memiliki wilayah seluas 839,33 kilometer persegi, kabupaten ini terdiri dari 10 kecamatan yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian.

Daerah utara Kabupaten Tabanan merupakan pegunungan dengan ketinggian maksimal 2.276 mdpl di puncak Gunung Batukaru. Sementara itu, daerah selatan adalah pesisir pantai atau dataran rendah.

Keragaman topografi inilah yang membuat Kabupaten Tabanan ditumbuhi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan seperti padi, kakao, kopi, dan bambu. Kecamatan Pupuan dan Selemadeg Barat adalah dua dari 10 kecamatan dengan komoditas kopi dan bambu.

Kecamatan Pupuan menjadi penyumbang produksi kopi robusta di Kabupaten Tabanan, yaitu sebesar 23.732,87 ton atau 81,9 persen. Kopi robusta dari daerah ini pun juga telah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografi dari Direktorat Merek dan Indikasi Geografi Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Nomor BRM 3/I/IG/I/A/2017.

Tidak hanya itu, bambu tabah sudah terdaftar sebagai varietas tanaman lokal yang dilindungi di Indonesia. Bambu jenis ini juga mengandung nutrisi dan renyah.

Meski begitu, para petani belum menyadari nilai ekonomis bambu tabah. Pemilik kebun pun juga belum memahami cara budidaya bamboo tabah dengan baik. Hal itu disebabkan karena mereka belum melihat bambu tabah sebagai komoditas penting.

Melihat kondisi tersebut, PT Astra Internasional Tbk dan Perkumpulan Desa Lestari mengadakan Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera (KBA-DS) di Kecamatan Pupuhan dan Selemadeg Barat, Tabanan, Bali.

Program KBA-DS yang diselenggarakan sejak 2018 hingga 2020 ini diikuti oleh 811 petani dari 25 desa dari kedua kecamatan tersebut. Selama dua tahun, petani kopi dan bambu tabah mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan yang bertujuan memberdayakan kampung, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan benefit bagi pendapatan masyarakat dengan memberi nilai tambah.

Astra bersama Perkumpulan Desa Lestari mengembangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang dikelola oleh Koperasi Tunas Bambu Lestari, BUMDesma Pupuan, Kelompok Tani (Subak Abian), dan KUB. Bersama organisasi-organisasi tersebut, Astra dan Perkumpulan Desa Lestari sebagai fasilitator mengadakan berbagai kegiatan pelatihan sebagai usaha memberdayakan masyarakat dalam mengolah kopi dan bambu tabah.

Beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan antara lain Peningkatan Kualitas Produksi dan Pengemasan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Rebung Bambu Tabah, Pengembangan Produk Olahan Kopi, dan Sekolah Lapang untuk Petani Kopi.

Program Kampung Berseri Astra-Desa Sejahtera di Tabanan, Bali berhasil memberdayakan masyarakat desa di sektor perkebunan kopi dan bambu. Prami, salah satu petani kopi, mulanya menjual kopi hasil panennya langsung ke pengepul dengan kualitas buah asalan. Sejak mengikuti program KBA-DS, Prami bisa membat produk olahan berbahan dasar kopi seperti kerupuk, stik, biskuit, dan es krim.

“Saya sudah puluhan tahun mengenal dan hidup dari kopi. Tapi baru tahu sekarang kopi bisa dijadikan kerupuk,” katanya.

Griswara, petani bambu tabah, mengaku merasakan manfaat dari program KBA-DS. Griswara menjual rebungnya tiap dua hari sekali. “Bisa menambah pendapatan di saat komoditas tidak begitu ada hasilnya,” ujar Griswara.

Hasil panen rebungnya pun juga meningkat apabila Griswara menjualnya ke koperasi. Apabila harga jual di pasar tradisional paling tinggi Rp2.500 per batang, maka rebung Griswara berkualitas grade A dihargai Rp3.000 per batang. (LA)