Asosiasi Kerja Sama Pelaku Usaha Cegah Kapitalisme Gaya Baru

Kebun bawang di area Green House, menjadi salah satu andalan produksi hasil pertanian di Korea Selatan.
Kebun bawang di area Green House, menjadi salah satu andalan produksi hasil pertanian di Korea Selatan. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (8/12) – Hampir semua negara di dunia dikuasai oleh kapital besar. Bahkan muncul idiom jika dunia global sedang memasuki era kapitalisme baru. Salah satu cirinya ketika para kapitalis besar menguasai kapitalis kecil.

Tak dipungkiri jika kini Korea Selatan menjadi salah satu negara yang paling maju didunia dengan pertumbuhuan ekonomi dan pendapatan nasional yang sangat mengesankan. “Kapitalisme telah membawa kemajuan bagi negara ini,” kata Choi Sang-Ho kepada 52 peserta 2016 International Saemaul Training Program, Kamis (1/12) .

Pada kesempatan yang lain, Joung Myoung Chae, Co-Representative of Korea Agriculture and Fishery Welfare Forum, mengkhawatirkan kondisi negara yang sudah dikuasai oleh kapitalis besar. Sistem kapitalisme baru menyebabkan kesenjangan pendapatan antara penduduk di desa dan di kota. Akibatnya yang kaya makin kaya yang miskin semakin miskin. Dalam pandangan Joung, kini para pemuda desa lebih banyak memilih bekerja di kota, menjadikan para petani di desa tinggal yang tua-tua. Joung mengatakan jika tidak ada regulasi untuk mencegah ini, Korea bukan tidak mungkin akan bangkrut. Bahkan bagi negara-negara berkembang akan sangat sulit untuk mencegah sistem ini yang sudah menggurita.

Joung pun mencontohkan perusahaan internasional Samsung yang merupakan kebanggan Korea Selatan, kini 60 persen sahamnya sudah dikuasai Amerika Serikat (AS). Meskipun mampu meningkatkan pendapatan negara namun lebih banyak keuntungan yang dinikmati AS. Perusahaan-perusahan besar meningkatkan pendapatan dengan menguasai perusahaan-perusahaan kecil di Korea. Akibatnya perusahaan kecil sulit mengubah nasib lantaran sahamnya sudah dikuasai investor.

Begitu pula di bidang pertanian. Benih-benih terbaik petani juga di kuasai oleh perusahaan besar yang ada di AS seperti Monsanto dan Cargill. “Bank Negara Korea saja sebagian besar sahamnya sudah dikuasai asing,” kata Joung pada Senin (5/12).

Kapitalisme model baru yang terus dibiarkan akan menyebabkan perang gaya baru. Menurut Joung, salah satu cara untuk melindungi kondisi sosial ekonomi masyarakat adalah dengan membentuk asosiasi kerjasama pelaku usaha kecil. Sejak digagas empat tahun lalu, Korea Selatan telah mengembangkan lebih dari 10.000 asosiasi. Gagasan pokok dari asosiasi kerjasama pelaku usaha kecil dan menengah bertujuan menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat secara umum agar mampu bertahan di era kapitalis baru. Harapannya, dengan adanya asosiasi tersebut tidak akan ada pengusaha yang kaya sendiri, tetapi kekayaan diraih bersama-sama. Meskipun keuntungan yang diperoleh dari asosiasi tidak terlalu banyak, namun dipercaya akan lebih mampu bertahan dan stabil dalam menghadapi gejolak ekonomi karena tidak ada ketergantungan kepada kapitalis besar atau investor asing.

Pada kesempatan yang lain, 52 peserta pelatihan diajak mengunjungi salah satu asosiasi kerjasama terbaik di Korea Selatan pada Selasa (6/12). Asosiasi kerja sama pelaku usaha tersebut merupakan asosiasi petani yang beranggotakan lebih dari 3000 petani di desa. Asosiasi ini bergerak dalam usaha pembelian gabah petani dan ekspor beras. Beberapa petani yang sempat ditemui mengungkapkan jika keberadaan asosiasi kerja sama bidang usaha ini sangat menguntungkan karena ada jaminan kestabilan harga yang cenderung lebih tinggi. Bahkan produksi beras yang dihasilkan telah menembus pasar ekspor Malaysia, Vietnam dan China. (ES)

Peneliti Korea Selatan: Indonesia Butuh Pemimpin Kuat untuk Ubah Mental Bangsa

Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (Foto: The Korean Times)
Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (sumber foto: The Korean Times)

Gyeongsangbuk-Do (2/12) – Kekayaan merupakan impian dan cita-cita setiap manusia dan negara. Semua orang ingin kaya, tetapi kebanyakan tidak mau mengubah sikap mental dan cara bekerja sehingga tetap miskin.  Ho Choi-Sang adalah doktor dari National Characters Studies yang telah melakukan penelitian watak orang Korea Selatan selama 42 tahun. Ia menceritakan sikap mental orang Korea Selatan pada masa lalu. Selama masa kepemimpinan dua presiden sebelumnya orang Korea Selatan bermalas-malasan. Namun, setelah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee yang juga berasal dari keluarga miskin, sang presiden memotivasi perubahan mental orang Korea Selatan. “Semua orang Korea Selatan berubah menjadi pekerja keras “ tegasnya.

Ho mencontohkan 40 tahun yang lalu Filipina adalah negara yang lebih kaya daripada Korea, tetapi sekarang kondisi Korea Selatan 10 kali lebih kaya dari Filipina. Padahal Filipina sebenarnya mempunyai sumberdaya alam yang melimpah seperti Indonesia. Lain halnya dengan Malaysia yang mempunyai musim seperti Indonesia, namun negara Malaysia sekarang menempati peringkat 16 dunia negara  kaya sejak mengaplikasikan Saemaul Undong pada 1982 silam.

“Indonesia kaya sumber daya alam akan tetapi mengapa tidak maju seperti negara Korea Selatan?” tanya Kepala Desa Tanjungwangi Budi Santoso Idris yang juga merupakan salah satu delegasi dari Indonesia.

Pertanyaan tersebut sejenak menghentikan cerita sang Doktor. Ho yang sudah 30 tahun menjadi dosen ini mengakui hasil pertanian yang melimpah di Indonesia seperti beras, sayur dan buah-buahan. Namun kualitasnya masih perlu ditingkatkan agar harganya tinggi. Proses produksi yang mengolah hasil pertanian untuk menjadi barang yang mempunyai nilai tambah mesti dikembangkan, agar pendapatan masyarakat juga meningkat.

Lebih lanjut, Choi-Sang menjelaskan salah satu faktor penting agar menjadi negara atau desa kaya yaitu pemimpinnya harus mempunyai sikap mental sukarela kepada masyarakatnya. Pemimpin negara harus mempunyai mental yang kuat untuk membuat negara menjadi kaya. Pemimpin yang mampu membantu masyarakatnya untuk bekerja giat dan semangat sangat diperlukan untuk membangun desa atau negara.

“Indonesia saat ini belum mempunyai pemimpin yang dapat mempunyai tujuan yang jelas untuk maju dan belum dapat membuat masyarakatnya lebih giat bekerja,” Kata Ho tentang kondisi Indonesia.

Ho berharap agar para delegasi yang hadir ketika kembali ke tanah airnya mampu memilih pemimpin, termasuk pemimpin desa, yang memiliki misi mengubah sikap mental masyarakatnya, agar  desa mempunyai tujuan kuat dan jelas untuk mengkayakan desanya. (ES)