Gerakan Pembaharuan ala Saemaul Undong

Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan saemaul sejak tahun 1970an.
Museum Saemaul Undong menjadi tonggak sejarah gerakan Saemaul sejak tahun 1970an. (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (29/12) – Bagi kebanyakan negara berkembang munculnya sistem ekonomi kapital yang ditandai dengan penguasaan sumber daya nasional oleh negara maju kerap berbuah mengecewakan. Sering kali menempatkan nilai-nilai kesejahteraan masyarakat di nomor dua setelah keuntungan yang lebih besar dinikmati pihak pemodal. Demikian sebaliknya, sistem komunisme tanpa kelas dinilai gagal membuahkan kekayaan.

Korea Selatan dengan semangat Saemaul Undong mengajak negara-negara Asia dan Afrika berani bangkit menciptakan cara-cara strategis melawan pola ekonomi kapitalis dalam pembangunan masyarakat dan negara. Ajakan Korea Selatan bukan tanpa alasan. Sistem ekonomi kapitalis saat ini tengah menggerogoti perekonomian, seperti hadirnya perusahan raksasa Samsung yang menjerat Korea Selatan pada pola ekonomi kapitalisme. Beruntung, Korea Selatan cepat tanggap dengan menyiapkan regulasi guna membendung arus kapitalis.

Pada acara bertajuk 2016 International Saemaul Training Program for the Delegates from 8 Countries di Advanced Center for Korea Studies, Andong, Gyeongsangbuk-Do pada 28 November – 9 Desember 2016 lalu, Korea Selatan mengajak delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong berani menggagas adanya regulasi untuk membendung arus kuat kapitalisme dengan cara membentuk asosiasi kerjasama.

Co–Representative Of Korea Agriculture and Fishery Welfare Forum Joung Myoung Chae memantapkan kepada delapan negara berani melawan kapitalisasi ekonomi karena tidak mengenal adanya kerjasama. Kapitalisme dipandang sekadar menghasilkan persaingan ketat yang akhirnya membuahkan peperangan. Demikian dengan pola komunisme, mendasarkan pada pembagian semua secara merata yang banyak menciptakan kemiskinan.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Saemaul Globalization Foundation (SGF), Gyeongsangbuk-Do, Kyungwoon University Saemaul Academy dengan delapan negara yaitu Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Cote d’Ivoire (Pantai Gading), Guatemala, Laos, dan Kirgiztan, menyakinkan, asosiasi kerjasama seperti telah dilakukan Korea membangkitkan keberadaan desa dan negara.

Joung menyatakan asosiasi kerjasama mendorong tidak memberi tempat bagi pihak yang bertujuan kaya sendiri, tetapi kaya secara bersama. Asosiasi didirikan dalam wujud usaha yang dimiliki bersama atau orang banyak. Cara ini juga telah dipraktikkan Inggris dan Jerman yang lebih dikenal dengan istilah cooperativism, yakni menitikberatkan pada ekonomi sosial masyarakat yang utama harus dilindungi.

Penerapan asosiasi kerja sama di Korea Selatan ditandai dengan banyak berdirinya usaha oleh lima orang atau lebih. Hanya dalam kurun waktu empat tahun terakhir asosiasi kerja sama banyak berdiri. Saat ini ada 10 ribu usaha bersama. Inilah yang Joung sebut sebagai spirit Saemaul Undong yang menitikberatkan kerjasama, gotong royong dan semangat kuat untuk bertahan. Apabila sektor produk makanan saja telah dikuasi pihak lain, gejala penjajahan akan terus merambah sektor lain dalam suatu negara.

Kiat melawan sistem ekonomi kapilatalis juga disinggung Direktur National Characters Studies Ho Choi-Sang sebagai narasumber. Ia mengakui Korea Seatan maju karena kapitalisme namun lambat laun regulasi dibangun untuk melindungi pencapaian kesejahteraan rakyatnya.

Selain pentingnya regulasi asosiasi kerjasama Ho yang berpengalaman sebagai peneliti mental rakyat Korea Selatan selama 42 tahun, Ho menyatakan faktor kebiasaan keseharian amat menentukan masa depan masyarakat hendak kaya atau miskin. Ia memparkan penelitiannya bahwa setiap orang bisa kaya atau miskin dapat diamati dari kebiasaan keseharian. Mental sukarelawan perlu ditumbuhkan sebagai gerakan bersama dalam setiap negara. Unuk itulah faktor keberhasilan negara menjadi dapat maju dan kaya utamanya pemimpin negara dan kepala desa harus memiliki mental suka relawan kepada masyarakatnya.

Ho menyatakan mental pemimpin cukup menentukan negara bisa kaya. Hendaknya pemimpin yang baik dapat memotivasi masyarakat untuk bekerja keras, giat dan bersemangat. Jika negara gagal menemukan pemimpin sukarelawan, bekerja keras, giat dan bersemangat, tujuan mencapai kekayaan pastinya akan gagal pula.

Ia mengajak menengok beberapa negara menganut paham komunisme yang tidak menjadikan negara dan masyarakatnya kaya. Ho mencontohkan Rusia dan Korea Utara pada era 1975, Laos, Kamboja, Myanmar, termasuk Filipina 40 tahun silam diamana kekayaannya melebihi Korea Selatan. Tetapi, kini Korea Selatan sepuluh kali lipat lebih kaya dari Filipina.

Sebaliknya, Malaysia menemukan pemimpin yang baik dan mampu menempati peringkat 16 dunia negara kaya karena berteman Singapura. Ho menyebut dua negara tersebut sejak 1982 termasuk mengaplikasikan Saemaul Undong Korea Selatan. Ia berharap negara seperti Indonesia juga dapat menemukan pemimpin yang mempunyai tujuan memajukan masyarakat dan negaranya. Pemimpin Indonesia harus mampu membuat rakyatnya bekerja keras.

Ho mengakui jika musim atau cuaca membawa pengaruh. Cuaca panas dapat berdampak produksi rendah. Korea Selatan sendiri kondisi alamnya buruk tetapi mendorong orang tertarik melakukan penelitian. Maka solusi ditemukan, para petani membuat koperasi agar bisa mengontrol pasokan barang dan permintaan.

Dari pertemuan yang menghadirkan delapan negara penerima manfaat program Saemaul Undong, Korea Selatan berharap peserta kembali turun ke desa dan mulai membantu rakyat menemukan sosok pemimpin yang dapat mengubah mental dan sikap bekerja, punya visi yang kuat menentukan arah pembangunan desanya. Korea Selatan berkomitmen negara mitra program dapat memiliki instruktur lebih banyak dapat menerapkan semangat Saemaul Undong di mana saja. Masyarakat yang mendapat edukasi Saemaul Undong hendaknya merubah sikap menjadi sukarela, dan bekerja untuk masyarakat.

Pada acara tersebut juga turut hadir relawan dari Myanmar, Kim Youngmo, untuk berbagi pengalaman ketika dirinya berada di Pulau Sulawesi. Ia menawarkan ada enam solusi untuk memajukan bidang pertanian di Sulawesi meliputi pemilihan bibit yang bagus, pembuatan pola pertanian terasiring, pengembangan tanaman obat, peremajaan, alat pertanian, pola tunda jual. Terakhir, membangun asosiasi kerjasama yang belum banyak diyakini dapat semakin mendekatkan kesejahteraan masyarakat. (ETG)

Peneliti Korea Selatan: Indonesia Butuh Pemimpin Kuat untuk Ubah Mental Bangsa

Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (Foto: The Korean Times)
Mantan Presiden Korea Selatan, Park Chung-hee, yang berlatar belakang dari keluarga miskin memimpin masyarakatnya menjadi bangsa pekerja keras. Chung-hee menjadi motor penggerak dan berkembangnya Saemaul Undong. (sumber foto: The Korean Times)

Gyeongsangbuk-Do (2/12) – Kekayaan merupakan impian dan cita-cita setiap manusia dan negara. Semua orang ingin kaya, tetapi kebanyakan tidak mau mengubah sikap mental dan cara bekerja sehingga tetap miskin.  Ho Choi-Sang adalah doktor dari National Characters Studies yang telah melakukan penelitian watak orang Korea Selatan selama 42 tahun. Ia menceritakan sikap mental orang Korea Selatan pada masa lalu. Selama masa kepemimpinan dua presiden sebelumnya orang Korea Selatan bermalas-malasan. Namun, setelah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee yang juga berasal dari keluarga miskin, sang presiden memotivasi perubahan mental orang Korea Selatan. “Semua orang Korea Selatan berubah menjadi pekerja keras “ tegasnya.

Ho mencontohkan 40 tahun yang lalu Filipina adalah negara yang lebih kaya daripada Korea, tetapi sekarang kondisi Korea Selatan 10 kali lebih kaya dari Filipina. Padahal Filipina sebenarnya mempunyai sumberdaya alam yang melimpah seperti Indonesia. Lain halnya dengan Malaysia yang mempunyai musim seperti Indonesia, namun negara Malaysia sekarang menempati peringkat 16 dunia negara  kaya sejak mengaplikasikan Saemaul Undong pada 1982 silam.

“Indonesia kaya sumber daya alam akan tetapi mengapa tidak maju seperti negara Korea Selatan?” tanya Kepala Desa Tanjungwangi Budi Santoso Idris yang juga merupakan salah satu delegasi dari Indonesia.

Pertanyaan tersebut sejenak menghentikan cerita sang Doktor. Ho yang sudah 30 tahun menjadi dosen ini mengakui hasil pertanian yang melimpah di Indonesia seperti beras, sayur dan buah-buahan. Namun kualitasnya masih perlu ditingkatkan agar harganya tinggi. Proses produksi yang mengolah hasil pertanian untuk menjadi barang yang mempunyai nilai tambah mesti dikembangkan, agar pendapatan masyarakat juga meningkat.

Lebih lanjut, Choi-Sang menjelaskan salah satu faktor penting agar menjadi negara atau desa kaya yaitu pemimpinnya harus mempunyai sikap mental sukarela kepada masyarakatnya. Pemimpin negara harus mempunyai mental yang kuat untuk membuat negara menjadi kaya. Pemimpin yang mampu membantu masyarakatnya untuk bekerja giat dan semangat sangat diperlukan untuk membangun desa atau negara.

“Indonesia saat ini belum mempunyai pemimpin yang dapat mempunyai tujuan yang jelas untuk maju dan belum dapat membuat masyarakatnya lebih giat bekerja,” Kata Ho tentang kondisi Indonesia.

Ho berharap agar para delegasi yang hadir ketika kembali ke tanah airnya mampu memilih pemimpin, termasuk pemimpin desa, yang memiliki misi mengubah sikap mental masyarakatnya, agar  desa mempunyai tujuan kuat dan jelas untuk mengkayakan desanya. (ES)

Saemaul Undong: Berawal dari Desa, Berkembang ke Kota, Dikenal Dunia

Eko Sujatmo (Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu), Sholeh Anwari Hadi (Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY), dan Budiman Setyanugraha (Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong) bersama delegasi dari Guatemala.
Fasilitator Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu Eko Sujatmo, Kepala Subbidang Penguatan Potensi Masyarakat BPPM DIY Sholeh Anwari Hadi, dan  Kepala Urusan Perencanaan Desa Ponjong Budiman Setyanugraha bersama delegasi dari Guatemala. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (30/11) –  Kunci keberhasilan dari gerakan Saemaul Undong adalah dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan adanya kepemimpinan lokal desa. Berkat tiga hal itu, Korea Selatan mampu mengubah diri menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia.

Saemaul Undong adalah cara murni dari Korea Selatan untuk program pengembangan masyarakat yang digagas oleh kemauan politik dari kepemimpinan nasional atas di orde untuk melarikan diri dari kemiskinan yang telah diakui dunia. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan atas Saemaul Undong, ada tiga  faktor penentu keberhasilan dari gerakan ini, yaitu dukungan pemerintah dalam memainkan peran di periode gerakan, masyarakat yang proaktif dalam implementasi gerakan, dan kepemimpinan langsung yang dimulai dari tingkat desa.

President of Korean Saemaul Undong Center So-Jin Kwang menjelaskan Saemaul Undong diaplikasikan untuk mengembangkan kemampuan masyarakat desa. Pada perkembangannya, Saemaul Undong tidak hanya diterapkan di desa tapi juga menular ke kota, ke sekolah, dan pabrik, sehingga semua masyarakat Korea memiliki kemauan untuk berubah. “Saemaul Undong membuat masyarakat mempunyai mental kerjasama yang sangat efektif,” kata So Jin Kwang kepada 52 peserta 2016 International Saemaul Training Program, Selasa (29/11).

So-Jin Kwan yang pernah menjadi dosen di salah satu universitas di Vietnam menceritakan penerapan semangat kerja sama yang ada di Korea Selatan. “Dahulu kemampuan teknik orang Korea sangat rendah, sehingga produk yang dihasilkan tidak bagus. Akan tetapi setelah Saemaul Undong diterapkan di pabrik-pabrik masa kini, investor asing menjadi percaya pada kualitas produk kami.” Sang Profesor juga mengajak kepada para peserta berkenan mengaplikasikan Saemaul Undong di delapan negara mitra program SGF. “Kita pasti bisa, kita harus melakukan itu, kita harus punya mental tantangan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Former Senior Researcher of Kyungwon University Saemaul Academy Lim Ha-Sung mengatakan keberhasilan itu didorong oleh pengembangan desa yang dimulai dari diri sendiri oleh penduduk Korea. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun desa hingga negeri.  Masyarakat desa mengembangkan diri dan memikirkan kemajuan desa, walaupun dukungan dari pemerintah yang sangat kecil. Hampir 70 persen penduduk Korea Selatan tinggal di desa. Tidak heran jika gerakan yang dimulai dari desa menjadi cara yang efektif

“Masyarakat desa dituntut untuk mengetahui masalah yang ada di desa, hal apa yang mendesak atau prioritas dilakukan, kemudian semua harus berpartisipasi,” katanya.

Namun, Lim mengakui tidak mudah dalam menggerakan masyarakat desa untuk ikut bersama-sama memikirkan desanya. Apalagi jumlah warga desanya sangat banyak. Saemaul Undong dapat dimulai untuk diri sendiri, maupaun dari komunitas desa yang kecil.

“Ketika masyarakat menemukan masalah dan mencari sendiri solusinya, sehingga akan tercipta masyarakat yang bertanggungjawab,” tutur Lim.

Dari delapan negara, Cote d’Ivoire, Iran, Kirgiztan, Laos, Guatemala masih berstatus calon negara mitra. Kelima negara tersebut sedang dalam tahap penelitian atau kajian untuk menentukan wilayah program. Menurut Lim Ha-Sung, program yang akan dikembangkan di negara mitra harus sudah ditentukan tujuannya agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari akibat tidak ada komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk merawat keberlanjutannya.

So-Jin Kwang dan Lim Ha-Sung mengapresiasi implementasi program di Indonesia yang telah menjadi kantor perwakilan terbesar di luar Korea Selatan. Di Indonesia, SGF memulai program di DIY pada 2015 di Desa Ponjong dan Desa Bleberan di Kabupaten Gunungkidul, serta Desa Sumbermulyo di Kabupaten Bantul. Menggandeng Yayasan Penabulu, SGF mengembangkan Program Desa Lestari Berwawasan Nilai-nilai Gerakan Saemaul. Pada tahun ini SGF Kantor Perwakilan Indonesia memperluas kerjasama dengan Desa Tanjungwangi, Kabupaten Subang. (ES)

Gerakan Saemaul Undong, Bermula dari Kemiskinan Negara

Hong Jong-Kyoung, Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang, mengisahkan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong.
Duta Besar untuk Hubungan Internasional Propinsi Gyeongsang Hong Jong-Kyoung menceritakan sejarah Korea Selatan dan lahirnya Saemaul Undong. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gyeongsangbuk-do (29/11) Mempunyai pengalaman masa lalu menjadi negara paling miskin di dunia, membuat Korea Selatan mendorong lahirnya gerakan Saeamaul Undong. Gerakan tersebut diciptakan oleh Presiden Park Chung He pada tahun 1970 dan terus berkembang hingga saat ini.

Itulah cerita pembuka yang disampaikan Direktur Saemaul Globalization Foundation (SGF) Lee Ji Ha dalam pembukaan 2016 International Saemaul Training Program, Senin (28/11). Pelatihan yang digagas SGF ini melibatkan 52 orang delegasi dari delapan negara, diselenggarakan di Advanced Center for Korean Studies, Andong, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan.

Tahun ini, SGF mengundang delegasi dari Indonesia, Vietnam, Kamboja, Iran, Guatemala, Laos, Kirgisztan, dan Cote d’Ivoire (Pantai Gading) untuk mengikuti kegiatan yang digelar sejak 28 November – 9 Desember 2016. Pengembangan bidang pertanian menjadi tema utama dalam kegiatan yang merupakan kerjasama SGF dengan Pemerintah Propinsi Gyeongsang Utara (red. Gyeongsangbuk-do) dan Kyungwoon University Saemaul Academy.

Lee Ji Ha mengisahkan kondisi Korea Selatan 60 tahun yang lalu ketika terbelit kemiskinan. Akhirnya pada 1970 gerakan Saemaul Undong dicetuskan dan diyakini dapat meninggalkan kemiskinan. Kini, berkat Saemaul Undong, Korea Selatan mampu menjadi salah satu negara maju di dunia dan ingin menularkan pengalamannya keluar dari kemiskinan untuk menjadi negara maju.

“Sekarang sudah abad ke-21 tapi masih banyak negara yang belum maju, jika Saemaul Undong dijalankan di negara lain pasti akan maju juga,” ungkap Lee.

Lee Ji Ha berharap para peserta dari delapan negara yang dipilih sebagai mitra program SGF dapat mengaplikasikan hasil pelatihan di negara masing-masing. Pengalaman baru tidak saja lahir dari pemateri pelatihan, melainkan peserta pun dapat saling bertukar ide-ide baik yang kelak dapat diterapkan kepada masyarakat di desanya, termasuk nilai-nilai Saemaul.

Duta Besar untuk Hubungan Internasional Provinsi Gyeongsang Utara Hong Jong-Kyoung memaparkan sejarah berdirinya negara Korea Selatan yang mempunyai kisah kejayaan pada masa kerajaan masa lampau. Kejayaan masa lampau itulah yang menjadi faktor kekuatan untuk membangkitkan desa dan negara. Masing-masing negara mempunyai kejayaan masa lalu seperti Kerajaan Khmer di Kamboja dan Kerajaan Persia di Iran. Hong berpesan agar jangan melupakan sejarah dan budaya. “Kalau dulu pernah jaya, tentu sekarang juga bisa maju,“ tandasnya.

Sebanyak 14 orang delegasi Indonesia merupakan perwakilan dari Desa Sumbermulyo, Desa Ponjong, Desa Tanjungwangi, Yayasan Penabulu, dan Pemerintah Provinsi DIY, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. (ES)

Tiga Desa di DIY Resmi Jalin Kerjasama dengan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation

Bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat Desa Bleberan, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (5/10) – Tiga desa di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, yaitu Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Desa Bleberan Kecamatan Playen dan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul menyatakan kesiapan menjalin kerjasama dengan dua lembaga swadaya masyarakat Yayasan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation (SGF).

Kesiapan tersebut diresmikan melalui penandatangan lembar kerja sama yang menandai dimulainya program bertahap selama lima tahun hingga tahun 2020 mendatang. Penandatangan kerja sama dilakukan SGF, Yayasan Penabulu dan desa di masing-masing balai desa dan disaksikan tokoh masyarakat, perwakilan lembaga desa, Pejabat Muspika selaku perwakilan Pemerintah Kabupaten setempat pada Selasa (29/9) untuk Desa Bleberan dan Ponjong, dan Rabu (30/9) untuk Desa Sumbermulyo.

Manajer Program dari Yayasan Penabulu Sri Purwani mengatakan terpilihnya tiga desa di DIY tersebut melalui banyak pertimbangan matang. Selain melihat kiprah desa dalam pembangunan, daya juang swadaya masyarakat dan pemerintah desa dalam mengangkat potensi lokal yang dimiliki.

“Program ini konsepnya tidak hanya menerima bantuan saja. Tetapi juga kesediaan seluruh elemen masyarakat terlibat, termasuk kelompok rentan, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban pembangunan. Potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) desa menjadi modal utama dalam program ini,” ungkap Sri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo menambahkan program kerja sama lima tahun ke depan merupakan bagian dari program memperkuat kebijakan pemerintah Jokowi yang dikenal sebagai Nawacita yaitu memusatkan pembangunan daerah dari kawasan pinggiran dan desa.

Menurut Budi ada yang sama dari konsep membangun desa dan desa membangun dalam Nawacita sebagai perumusan dari konsep Trisakti oleh Soekarno dengan prinsip Saemaul Undong yang dikembangkan SGF. Beberapa diantaranya kegotongroyongan, pemberdayaan dan partisipatif serta nilai-nilai potensi lokal.

“Saemaul malah sudah melakukannya sejak 1970-an silam. Inilah yang akhirnya kita bisa bertemu dan jalin kerja sama untuk membangun desa,” kata Budi dalam sambutan di hadapan tokoh masyarakat tiga desa.

Budi menegaskan Yayasan Penabulu selama ini memang sudah melaksanakan pendampingan desa di beberapa wilayah di Indonesia melalui orientasi program bernama Desa Lestari. Desa Lestari dipersiapkan untuk melestarikan banyak hal yang dimiliki desa, seperti melestarikan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal, potensi alam dan manusia desa untuk mewujudkan kesejahteraan yang dicita-citakan bersama. Hadirnya SGF diharapkan dapat memberi dorongan kuat bagi desa dampingan kedepan nanti menjadi salah satu model percontohan desa lestari bagi desa lain di DIY.

Kerja sama tiga pihak telah menyepakati tema besar yang akan menjadi orientasi program tahun 2015-2020 mendatang, yaitu peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat sipil desa dan pengembangan nilai-nilai demokrasi. Program tiga tahun pertama akan fokus diarahkan untuk memantapkan kapasitas tata kelola pemerintah desa yang harus berjalan seimbang dengan kuatnya peran aktif masyarakat sipil desa melalui kelompok dan lembaga sejalan dengan implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Sementara itu, di tiga desa mitra Program Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong menjelaskan kehadiran SGF di Indonesia bukan hal yang baru. Menurut Hong, SGF juga sedang melaksanakan program di sepuluh negara lainnya. Program yang bekerja sama dengan Yayasan Penabulu tidak akan memaksakan bentuk kegiatan untuk desa dan masyarakat mitra dampingan. Tetapi, Hong mempertegas SGF dan Yayasan Penabulu menyerahkan sepenuhnya bentuk program kegiatan pada desa dan masyarakat dalam kapasitas desa mitra dampingan. Hong menyatakan, pihak SGF akan memfasilitasi kebutuhan desa dan masyarakat dalam pelaksanaan program yang perencanaannya melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada di desa, khususnya yang berkaitan dengan bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan.

 

Dari kiri ke kanan: Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana, Director Indonesia Office of SFG Seunghoon Hong, dan Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo (sumber: dokumentasi lembaga)
Dari kiri ke kanan: Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo, Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong, dan Pj. Lurah Desa Sumbermulyo H. Albani (sumber: dokumentasi lembaga)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga desa yang terpilih menjadi mitra program yaitu Desa Ponjong, Desa Bleberan dan Desa Sumbermulyo, nampak bersemangat dengan terjalinnya kerjasama bersama Yayasan Penabulu dan SGF ini. Terlebih, ketiga desa tersebut jauh-jauh telah menyiapkan diri kesediaan sinergis belajar bersama SGF dan Penabulu dalam implementasi program ditengah pelaksanaan UU Desa dan kini menyambut hajatan politik pemilihan kapala desa (pilkades).

Sekretaris Desa Sumbermulyo selaku Penjabat (Pj.) Lurah H. Albani menyatakan pemerintah desa siap lebih aktif melibatkan seluruh elemen kelompok desa, baik formal atau non formal, dalam tata kelola kebijakan dan program pembangunan desa lestari dengan mendorong peran organisasi lembaga desa seperti Karangtaruna, PKK, kelompok perajin, kelompok rentan perempuan, difabel, forum anak, lansia, serta peningkatan kapasitas LPMD dan BPD.

Di tempat terpisah, Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana juga nampak tertantang untuk sinergis melaksanakan program bersama SGF dan Penabulu. Wagiyo, mewakili kelompok tani Manunggal Desa Ponjong, mengaku terjalinnya kerjasama menghidupkan kembali harapan sebagai petani buah. Wagiyo menceritakan, kelompok tani Manunggal sudah dua tahun ini merintis pertanian buah program dari pemerintah daerah Gunungkidul. Namun, diakui Wagiyo, program tersebut ada kegagalan tanam untuk beberapa jenis bibit buah seperti durian yang diperkirakan butuh adanya tata kepelatihan yang baik bagi anggota kelompok. Mereka berharap petani buah ini mendapat prioritas program yang terjalin dengan Yayasan Penabulu dan LSM asal Korea tersebut.

Tidak ketinggalan di Desa Bleberan, Pj. Kades Bleberan Sri Kustini juga menaruh harapan desanya lebih pesat dalam mewujudkan kesejahteraan. Desa Bleberan memiliki wisata air terjun Sri Getuk yang sudah cukup terkenal dan menjadi gantungan ekonomi warga. Hanya saja, sektor lain seperti pertanian dan peningkatan kapasitas warga dan aparatur desa masih perlu terus ditingkatkan untuk tata kelola pelayanan yang lebih baik lagi. (ETG)