Sektor Pertanian Optimis Jadi Ujung Tombak Pembangunan

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (25/3) – Pemerintah Korea Selatan melalui Saemaul Globalization Foundation (SGF) mendukung peningkatan peran kelompok tani Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul. Kelompok Tani (Poktan) dari 11 dusun, kelompok Wanita Tani (KWT), dan Taruna Tani mengikuti pelatihan penguatan kapasitas petani dan pengenalan pertanian organik yang diselenggarakan SGF bersama Yayasan Penabulu pada 21-23 Maret 2016.

Relawan SGF Korea Selatan area Gunungkidul Choi Hu Jun mengatakan pertanian di Desa Bleberan menjadi potensi besar untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Mayoritas masyarakat Bleberan menggantungkan pada sektor pertanian dan peternakan. Choi menilai dibutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung gerak roda pemerintahan desa yang lebih baik dan berpihak.

“Pertanian menjadi tiang dan ujung tombak pembangunan desa disini. Untuk itu peningkatan peran kapasitas petani menjadi penting,” ujar Choi.

Choi juga membagikan pengalaman pendampingan yang pernah dilakukan di Korea Selatan dan Denmark. “Potensi Desa Bleberan tidak kalah dengan negara-negara lain. Tinggal mengubah cara pandang petani untuk bekerja lebih giat dan disiplin lagi. Banyak potensi Bleberan yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan bersama. KWT dan Taruna Tani yang sudah ada harus ikut berperan menentukan, tidak hanya formalitas saja,” katanya.

Kehadiran relawan dari SGF di Gunungkidul untuk empat tahun kedepan menggandeng Yayasan Penabulu. Tidak hanya di Desa Bleberan, di Desa Ponjong Kecamatan Ponjong dan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, yang juga fokus di bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan. Beberapa praktisi dan Pemkab Gunungkidul dihadirkan sebagai narasumber pelatihan poktan, KWT dan Taruna Tani seperti Raharjo Yuwono, Adinoto, Iriawan Djariasmoro, Anastasia Ari, Eko Sujatmo, dan Endro Guntoro. Beberapa materi disampaikan seperti sosialisasi arah dan kebijakan pembangunan pertanian Gunungkidul 2016, pemantapan kelembagaan pertanian dan pelatihan pangan organik.

Narasumber dari Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Gunungkidul Iriawan Djatiasmoro mengatakan banyak peluang yang harus ditangkap kelompok wanita tani dan pemuda tani atau taruna tani di Desa Bleberan yang sisi lain menyimpan potensi besar pariwisata air terjun Sri Getuk yang sudah populer ke mancanegara. Menurut Iriawan produk pangan olahan hasil pertanian organik Bleberan harus didorong sebagai penyangga pariwisata Sri Gethuk sebelum produk oleh-oleh pangan dari daerah luar masuk.

Iriawan optimis jika pemerintah desa Bleberan dipimpin kades baru Supraptono, yang juga kader petani berprestasi, hendaknya menangkap peluang pariwisata pertanian seperti gagasan kebun buah khas Bleberan dan pengembangan kemajuan pertanian setempat. Pemkab Gunungkidul juga bersedia memfasilitasi poktan, KWT dan Taruna Tani mendapat registrasi atau legalitas badan hukum yang diamanatkan regulasi baru. (ETG)