Meningkatkan Peran Perempuan pada Pertanian dan Pangan Lewat Kelompok Wanita Tani

Kelompok Wanita Tani Ngudi Subur berperan penting dalam keberlanjutan pertanian di Dusun Natah Wetan, Gunungkidul. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (7/2) – Sektor pertanian masih menjadi penopang utama hidup masyarakat desa. Pada Februari ini, petani Gunungkidul memasuki masa panen palawija dan padi. Hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning menghiasi desa-desa. Di balik hamparan padi yang menguning, terlihat perempuan-perempuan sedang bekerja memanen padi. 

Perempuan-perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Subur, Dusun Natah Wetan, Natah,  Gunungkidul  bergotong-royong memanen padi di lahan sawah bengkok milik Kepala Dusun. Ketua KWT Ngudi Subur Purwanti menuturkan perempuan-perempuan yang tergabung dalam kelompoknya saat musim tanam dan panen selalu bekerja bersama-sama, bergantian dari anggota satu ke anggota yang lain. Bekerja secara gotong royong bukan hanya meminimalisir budidaya pertanian tapi juga menjaga tradisi leluhur masyarakat desa.

“Menjadi anggota KWT sangat menguntungkan karena bekerja dengan gotong royong bisa lebih cepat selesai, bekerja saling bergantian, tidak dibayar,” kata Purwanti yang juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Natah.

Melalui KWT, Purwanti selalu giat menggerakkan anggotanya untuk bekerja. Menurutnya sebenarnya perempuan sangat berperan dalam  usaha budidaya pertanian. “Sejak menyiapkan benih, menanam, menyiangi hingga masa panen tiba, ibu-ibu selalu ambil peran, bahkan lebih banyak dari kaum laki-laki,” ungkapnya.

Kepala Dusun Natah Wetan Sarno mendukung sepenuhnya peran perempuan desa sesuai kemampuannya dalam bidang pertanian dan pangan. Karena sosok perempuan menjadi pengatur lalu lintas pangan dalam keluarga. “Kalau perempuan tidak dlibatkan, ancamannya adalah kerawanan pangan,” kata Sarno.

Purwanti dengan optimis menegaskan jika peran KWT berdampak jangka panjang terhadap pertanian. “Perempuan sebagai pemelihara dan pelestari keanekaragaman pangan. Perempuan sejak turun temurun mengambil peran yang sangat penting dalam urusan pertanian  dan pangan,“ ujarnya.

Fasilitator Desa Lestari Eko Sujatmo menyebut revolusi hijau perlahan mengubah semua peran kaum perempuan atas urusan pangan. Semua kegiatan pertanian selalu diimplementasikan dalam paket proyek seperti benih, pupuk dan sarana produksi pertanian lainya. Hal ini menggusur semua peran mulia kaum perempuan dalam urusan pangan. Bahkan, penyuluh pertanian juga didominasi oleh kaum laki-laki saja, kaum perempuan kurang dilibatkan.

Eko berharap petani perempuan tidak boleh merasa senang jika mendapatkan raskin atau bantuan benih. ”Dulu perempuan selalu menyimpan benih, tapi sekarang lebih mengharap bantuan pemerintah dan beli di toko pertanian,” kata Eko. (ES)

Dorong Kemandirian Petani Ponjong Demi Terwujudnya Pertanian Ramah Lingkungan

 

mol55
Proses akhir pembuatan mikro organisme lokal berbentuk cairan fermentasi (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (21/4) – Sejak 40 tahun lalu, tanah pertanian di Desa Ponjong telah “dieksploitasi” untuk kepentingan usaha tani yang terus menerus. Dalam usaha taninya keseimbangan antara pemberian bahan-bahan organik tanah tidak seimbang dengan pemberian pupuk kimia, serta penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Akibatnya mikroorganisme dan keanekaragaman hayati semakin tertekan populasinya. Berbagai serangan hama seperti wereng, blast dan kresek semakin memperparah kondisi lingkungan pertanian desa.

Berdasarkan amatan Saemaul Globalization Foundation (SGF), petani sudah sangat memerlukan keterampilan pembuatan mikro organisme lokal dan pestisida alami melalui pelatihan pemanfaatan limbah pertanian. Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun menyebutkan adanya pelatihan khusus tersebut untuk melindungi dan melestarikan keragaman hayati, memasyarakatkan kembali budidaya pertanian organik, dan membatasi pencemaran lingkungan akibat residu pestisida dan pupuk kimia.

“Kami sangat senang karena para petani antusias mengikuti pelatihan ini, kami berharap bisa dipraktikan di kelompok masing-masing,” kata Choi.

Sebanyak 40 petani Desa Ponjong terlihat antusias berpartisipasi dalam pelatihan yang dipandu Heru Prasetya, Petugas Penyuluh Lapangan Desa Ponjong. Pelatihan dipusatkan di kediaman Suhardi, Ketua Gapoktan Desa Ponjong.

Heru menyampaikan cara pembuatan mikro organisme lokal, pestisida alami, bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang, sekaligus mengajak peserta praktik membuat secara langsung. Heru menjelaskan untuk meningkatkan kesuburan tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah diperlukan pupuk organik, pupuk anorganik, dan pupuk hijau. Selain kebutuhan pada ketiga jenis pupuk tersebut, tanah pertanian juga memerlukan mikro organisme lokal (MOL) berupa cairan yang merupakan hasil fermentasi yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai bahan pembiakan bakteri. Pembuatan MOL berbahan baku buah-buahan dan hewan seperti keong dan lele.

“MOL dapat digunakan sebagai bioaktivator dalam proses dekomposer, pupuk hayati ataupun pestisida hayati. Bahan-bahan untuk membuatnya banyak tumbuh disekitar kita, jadi mudah dan murah,” jelas Heru kepada peserta.

Sri Purwani, Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu, mengajak para peserta untuk mulai menjaga kelestarian alam secara mandiri dengan beralih ke pertanian yang ramah lingkungan. Pertanian ramah lingkungan selain aman, juga mudah dan murah. Kembali ke alam memiliki tujuan jangka panjang agar ekosistem terjaga, dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian, dalam hal ini khususnya petani di Desa Ponjong. (ES)

Melimpahnya Limbah Pertanian jadi Berkah untuk Petani dan Ternak Ponjong

 

Peserta pelatihan mempraktikkan proses fermentasi jerami menjadi pakan ternak
Peserta pelatihan mempraktikkan proses fermentasi jerami menjadi pakan ternak. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (18/4) – Sebanyak 40 petani di Ponjong mengikuti pelatihan pengolahan limbah pertanian pada 11-12 April 2016 di kediaman Ketua Gapoktan Desa Ponjong. Pelatihan ini merupakan rangkaian dari kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat di bidang pertanian dalam skema kerjasama antara Desa Ponjong dengan Saemaul Globalization Foundation (SGF) dan Yayasan Penabulu.

Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun mengatakan pelatihan ini bertujuan menjawab kebutuhan petani dan peternak di Desa Ponjong agar mampu memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. “Saya melihat banyak sekali potensi limbah pertanian di Desa Ponjong ini seperti jerami padi, batang jagung, tongkol jagung, kulit kacang dan masih banyak lagi yang belum dioptimalkan menjadi pakan ternak, padahal kalau dimanfaatkan para peternak,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Eko Sujatmo, Staf Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu, yang juga mengamati banyak sekali potensi limbah pertanian di Ponjong. Namun pada saat musim kemarau masih banyak mendatangkan pakan ternak dari luar desa bahkan dari Klaten, Jawa Tengah.

“Limbah pertanian di Desa Ponjong ini sangat melimpah, apalagi sebagian besar petani bisa panen padi sawah tiga kali. Kalau limbah pertanian ini diolah dengan fermentasi bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak bagi petani di Desa Ponjong,” kata Eko.

Pelatihan pengolahan limbah pertanian ini menyasar para petani yang tersebar di 11 pedukuhan Desa Ponjong yang mempunyai ternak sapi maupun kambing. Selain berlatih membuat pakan ternak fermentasi, dalam pelatihan tersebut juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik padat dari kotoran sapi. Selama dua hari pelatihan, peserta memadukan teori dan praktik, sehingga pemahaman peserta bersifat komprehensif dan kegiatan jauh dari kata membosankan.

Untung Premadi, pakar peternakan dari Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Ponjong menjelaskan jerami dan limbah pertanian lainnya dapat difermentasi menggunakan ragi jerami dan diawetkan menjadi pakan sapi dan kambing. Ada beberapa cara petani mengawetkan jeraminya untuk cadangan pakan di musim kemarau antara lain jerami dikeringkan dan ditumpuk di lahan pertaniannya, atau disimpan di kandang. Apabila tidak sempat mengeringkan jeraminya, maka jerami dapat langsung difermentasi dalam kondisi basah.

Adi Muryanto, salah satu petani dari Dusun Serut, mengaku sangat senang karena mendapat ilmu bagaimana cara mengawetkan limbah pertanian menjadi pakan ternak. Dusun Serut merupakan wilayah yang kering, sehingga ketersediaan makanan ternak sangat terbatas di saat musim kemarau.

“Limbah pertanian di wilayah kami saat musim hujan sangat melimpah, ini menjadi berkah tersendiri bagi kami petani yang semuanya mempunyai ternak. Makanya kami senang jika mendapat pelatihan seperti ini, jadi bisa memanfaatkan limbah-limbah yang biasanya tidak terpakai,” kata Adi.

Pada kesempatan yang sama, Rudi, peternak kambing dari Dusun Sumber Kidul berharap agar setelah pelatihan ini ada pendampingan yang intensif agar para peternak bisa beternak dengan baik dan benar. Peternak yang mempunyai 20 ekor kambing ini sedang memulai usahanya dan mengatakan kalau selama ini peternak tidak tahu bagaimana memberikan pakan yang bermutu bagi kambingnya bisa mengalami kerugian.

“Saya sebagai peternak sudah sering mendapatkan pelatihan seperti ini namun belum pernah ada pendampingan. Sebenarnya kami ingin hasil praktiknya diberikan kepada kambing dan sapi kami untuk percobaan. Kalau bagus pasti semua petani akan mengikuti,” tandasnya. (ES)

Sektor Pertanian Optimis Jadi Ujung Tombak Pembangunan

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (25/3) – Pemerintah Korea Selatan melalui Saemaul Globalization Foundation (SGF) mendukung peningkatan peran kelompok tani Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul. Kelompok Tani (Poktan) dari 11 dusun, kelompok Wanita Tani (KWT), dan Taruna Tani mengikuti pelatihan penguatan kapasitas petani dan pengenalan pertanian organik yang diselenggarakan SGF bersama Yayasan Penabulu pada 21-23 Maret 2016.

Relawan SGF Korea Selatan area Gunungkidul Choi Hu Jun mengatakan pertanian di Desa Bleberan menjadi potensi besar untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Mayoritas masyarakat Bleberan menggantungkan pada sektor pertanian dan peternakan. Choi menilai dibutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung gerak roda pemerintahan desa yang lebih baik dan berpihak.

“Pertanian menjadi tiang dan ujung tombak pembangunan desa disini. Untuk itu peningkatan peran kapasitas petani menjadi penting,” ujar Choi.

Choi juga membagikan pengalaman pendampingan yang pernah dilakukan di Korea Selatan dan Denmark. “Potensi Desa Bleberan tidak kalah dengan negara-negara lain. Tinggal mengubah cara pandang petani untuk bekerja lebih giat dan disiplin lagi. Banyak potensi Bleberan yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan bersama. KWT dan Taruna Tani yang sudah ada harus ikut berperan menentukan, tidak hanya formalitas saja,” katanya.

Kehadiran relawan dari SGF di Gunungkidul untuk empat tahun kedepan menggandeng Yayasan Penabulu. Tidak hanya di Desa Bleberan, di Desa Ponjong Kecamatan Ponjong dan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, yang juga fokus di bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan. Beberapa praktisi dan Pemkab Gunungkidul dihadirkan sebagai narasumber pelatihan poktan, KWT dan Taruna Tani seperti Raharjo Yuwono, Adinoto, Iriawan Djariasmoro, Anastasia Ari, Eko Sujatmo, dan Endro Guntoro. Beberapa materi disampaikan seperti sosialisasi arah dan kebijakan pembangunan pertanian Gunungkidul 2016, pemantapan kelembagaan pertanian dan pelatihan pangan organik.

Narasumber dari Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Gunungkidul Iriawan Djatiasmoro mengatakan banyak peluang yang harus ditangkap kelompok wanita tani dan pemuda tani atau taruna tani di Desa Bleberan yang sisi lain menyimpan potensi besar pariwisata air terjun Sri Getuk yang sudah populer ke mancanegara. Menurut Iriawan produk pangan olahan hasil pertanian organik Bleberan harus didorong sebagai penyangga pariwisata Sri Gethuk sebelum produk oleh-oleh pangan dari daerah luar masuk.

Iriawan optimis jika pemerintah desa Bleberan dipimpin kades baru Supraptono, yang juga kader petani berprestasi, hendaknya menangkap peluang pariwisata pertanian seperti gagasan kebun buah khas Bleberan dan pengembangan kemajuan pertanian setempat. Pemkab Gunungkidul juga bersedia memfasilitasi poktan, KWT dan Taruna Tani mendapat registrasi atau legalitas badan hukum yang diamanatkan regulasi baru. (ETG)