Keterlibatan SGF Korea Selatan dalam Penuntasan Permasalahan Air di Desa Bleberan Playen Gunungkidul

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (26/5) – Saemaul Globalization Foundation (SGF) bersama Yayasan Penabulu melakukan program pemberdayaan masyarakat desa di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul.

Program tersebut menargetkan masyarakat supaya dapat menuntaskan persoalan air untuk kebutuhan di sektor pertanian. Warga Desa Bleberan pun berharap kehadiran SGF dan Yayasan Penabulu bisa benar-benat membawa manfaat bagi masyarakat setempat.

“Menuntaskan persoalan air untuk menenuhi kebutuhan pertanian menjadi harapan kami dengan hadirnya Korea di Bleberan ini,” kata perwakilan Taruna Tani Ubet Manunggal Bleberan Edi Supatmo dalam rapat dan koordinasi terbatas evaluasi program SGF Desa Bleberan di Wonosari pada Selasa (17/5).

Alasan tersebut cukup kuat di hadapan beberapa pihak terkait seperti volunteer SGF, Yayasan Penabulu selaku mitra pelaksaan program SGF Bleberan, Pemerintah Desa Bleberan, perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT), perwakilan Kelompok Tani (Poktan) dan PKK.

Menurut Edi, kedatangan SGF bukan tidak memiliki fokus target yang hendak dicapai melalui program pemberdayaan desa hingga 2020 mendatang. Selain menyasar pada pemberdayaan perempuan, sektor pertanian menjadi prioritas program Saemaul Undong, masyarakat sangat membutuhkan keterlibatan SGF untuk mengatasi permasalahan air yang menjadi kunci utama di beberapa pedukuhan di Bleberan.

“Saya benar-benar menaruh harapan pada Korea Selatan agar programnya nyata bisa dirasakan masyarakat petani, yakni air untuk pertanian. Bagi kami omong kosong bicara pertanian di Gunungkidul tanpa pemenuhan kebutuhan air,” ujarnya memastikan ada banyak lokasi menyimpan sumber air yang potensial untuk penerapan teknologi pengangkatan air bawah tanah.

Senada dengan Edi, Camat Playen Suharto juga memandang perlu ada fokus program agar lebih berjalan efektif. Suharto yang kini juga menjabat Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Bleberan banyak memberikan masukan program SGF khususnya sektor pertanian dan kebutuhan air. Suharto mengatakan BUMDes Bleberan di salah satu unitnya mengelola Pengelolaan Air Bersih (PAB) telah berjalan sehat manajemen. Kini pihaknya membutuhkan peran berbagai pihak termasuk SGF untuk membantu cita-cita mewujudkan alih teknologi pengangkatan air yang selama ini mengandalkan alat genset dengan bahan bakar solar ke energi listrik yang dipastikan akan menekan biaya operasional.

“Kami sudah kaji rencana itu dan mendapat kendala setelah konsultasi dengan pihak PLN. Karena alih teknologi ini konon membutuhkan biaya Rp600 juta. Nah, syukur ada teknologi dari Korea dapat diterapkan di Bleberan ini agar program lebih punya manfaat jangka panjang,” kata Suharto.

Menanggapi keluhan tersebut, Pelaksana Program SGF Bleberan dari Yayasan Penabulu Sri Purwani menyatakan ada beberapa fokus perhatian Korea Selatan untuk Bleberan, khususnya sektor pertanian dan perempuan. Hanya saja, implementasi program pada tahun pertama berjalan belum menyentuh pada program bersifat fisik, tetapi pembangunan manusia.

Menurutnya, program pembangunan manusia amat penting untuk mendasari berbagai program lain seperti fisik. Terlebih banyak desa di Gunungkidul yang mendapatkan bantuan fisik tetapi dalam pengelolaan menyebabkan gagal dan tidak tercapainya manfaat bagi desa dan mayarakat setempat. Maka Sri Purwani berharap implementasi program SGF Korea di Bleberan harus didasari kesiapan kemampuan masyarakat dan regulasi tata kelola desa yang baik.

Ia berjanji persoalan air untuk pemenuhan pertanian Bleberan akan terwujud dalam empat tahun kedepan sejalan tahap demi tahap program berjalan menyasar semua lini desa. “Pembangunan pertanian didalamnya ada sarana produksi (saprodi) dan industri kreatif untuk mengoptimalkan potensi 11 dusun serta penguatan peran perempuan menjadi target program disasarkan pada tercapainya kesejahteraan masyarakat Desa Bleberan ini,” kata Sri.

Kedepan, lanjut Sri, dibutuhkan tim desa yang terdiri dari tokoh masyarakat dan kader penggerak desa untuk turut merancang, mengawal dan menempatkan program SGF di Bleberan agar mengena dan tepat sasaran untuk kemajuan desa. Pemberdayaan pertanian dan perempuan di Desa Bleberan akan serius yakni menyentuh peningkatan keterampilan kader perempuan dalam pengolahan hasil produksi pertanian melalui kegiatan pelatihan rencananya akan dilaksakan 24-25 Mei 2016 mendatang.

“Banyak yang masih perlu dioptimalkan dalam mengolah hasil pertanian lokal seperti bahan pangan pisang, dan ragam lainnya untuk ditangkap pelaku UMKM kalangan perempuan desa,” pungkasnya.

Tidak Gegabah

Kepala Desa Bleberan Supraptono menambahkan perihal kebutuhan air pertanian di desanya perlu mendapat solusi. Hanya saja, perlu kajian matang untuk mewujudkannya. Supraptono menilai tidak sedikit program pemerintah dalam pembangunan sumur ladang justru berujung mangkrak. Tak hanya itu, teknologi juga membutuhkan biaya operasional besar justru membebani desa dan hasilnya tidak seimbang antara biaya besar dengan pendapatan. Jika dipaksakan justru membuat Kolaps.

“Tapi memang harus ada solusi persoalan air untuk pertanian karena tuntutan target kenaikan produktivitas tiap tahun di tengah desa memiliki sumber keuangan yang jelas dari pelaksanaan UU Desa,” kata mantan Dukuh Peron menutup pembicaraan. (ETG)

BPD dan LPMD sebagai Ujung Tombak Masyarakat dalam Mengawal Pembangunan Desa

 

20160518_112527-copy
Kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas di Balai Desa Ponjong, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (20/5) – Yasasan Penabulu bekerjasama dengan Saemaul Globalization Foundation (SGF) menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas bagi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) pada tanggal 18-19 Mei 2016 di Balai Desa Ponjong. Pelatihan ini menitikberatkan pada peran dan fungsi strategis BPD dan LPMD dalam pembangunan desa, agar personil kedua lembaga desa ini mampu mengawal pembangunan khususnya dalam penggunaan dana desa dan alokasi dana desa.

Suharyanto, dosen STPMD “APMD” Yogyakarta sebagai narasumber utama pada acara pelatihan ini mengatakan Pemerintah Desa dan BPD secara bersama harus membangun dan menjalankan visi dan misi desa, artinya hubungan keduanya sebagai hubungan kemitraan. “Tidak boleh ada dominasi diantara keduanya apalagi sampai kong kalikong sehingga terjadi konflik. Kerjasama ini bertujuan agar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa tidak terganggu,” katanya.

Lebih lanjut, Suharyanto menjelaskan BPD dan LPMD merupakan lembaga yang mempunyai fungsi pengawasan sehingga harapannya bisa menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh, terutama dalam hal penggunaan anggaran. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang yang sudah memberikan payung hukum yang jelas kepada BPD dalam menjalankan fungsinya untuk melakukan fungsi pengawasan kinerja kepala desa dalam konteks kemitraan. “Jadi konsep kemitraan idealnya mendukung jika sudah baik dan mengingatkan yang salah,” ujar Suharyanto.

Sebagai fasilitator, Sri Purwani dari Yayasan Penabulu mengajak peserta untuk memahami hak dan kewajiban mereka sebagai pengurus BPD dan LPMD. Tidak kalah penting juga peserta harus memahami regulasi-regulasi yang mengatur tentang desa, apalagi sekarang banyak sekali regulasi yang berubah.

Pada kesempatan yang sama Sri juga mengajak peserta untuk berlatih menyusun Peraturan Desa inisiatif. Hal ini bertujuan agar BPD mampu menyusun peraturan desa yang diinisiasi oleh BPD untuk mengatur hal-hal yang bersifat strategis dan menyangkut kehidupan masyarakat desa.

”BPD adalah lembaga yang memiliki posisi strategis di desa, oleh karena itu BPD juga harus mampu melihat isu-isu strategis dan permasalahan yang ada di desa untuk dirembug bersama melalui musyawarah desa maupun pada saat jaring aspirasi masyarakat,” kata Sri.

Mujiyono, salah satu anggota LPMD yang mengikuti pelatihan itu menyampaikan kondisi pengurus dan anggota LPMD Desa Ponjong memang sangat perlu meningkatkan pemahaman terhadap peran dan fungsinya melalui pelatihan semacam ini. “Baru kali ini kami mendapat pelatihan ini. Kami berharap Penabulu mau memfasilitasi pelatihan lagi kedepanya tentu dengan materi yang berbeda, karena masih banyak hal yang kami belum tahu,” kata mantan Mujiyono. (ES)

Dorong Kemandirian Petani Ponjong Demi Terwujudnya Pertanian Ramah Lingkungan

 

mol55
Proses akhir pembuatan mikro organisme lokal berbentuk cairan fermentasi (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (21/4) – Sejak 40 tahun lalu, tanah pertanian di Desa Ponjong telah “dieksploitasi” untuk kepentingan usaha tani yang terus menerus. Dalam usaha taninya keseimbangan antara pemberian bahan-bahan organik tanah tidak seimbang dengan pemberian pupuk kimia, serta penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Akibatnya mikroorganisme dan keanekaragaman hayati semakin tertekan populasinya. Berbagai serangan hama seperti wereng, blast dan kresek semakin memperparah kondisi lingkungan pertanian desa.

Berdasarkan amatan Saemaul Globalization Foundation (SGF), petani sudah sangat memerlukan keterampilan pembuatan mikro organisme lokal dan pestisida alami melalui pelatihan pemanfaatan limbah pertanian. Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun menyebutkan adanya pelatihan khusus tersebut untuk melindungi dan melestarikan keragaman hayati, memasyarakatkan kembali budidaya pertanian organik, dan membatasi pencemaran lingkungan akibat residu pestisida dan pupuk kimia.

“Kami sangat senang karena para petani antusias mengikuti pelatihan ini, kami berharap bisa dipraktikan di kelompok masing-masing,” kata Choi.

Sebanyak 40 petani Desa Ponjong terlihat antusias berpartisipasi dalam pelatihan yang dipandu Heru Prasetya, Petugas Penyuluh Lapangan Desa Ponjong. Pelatihan dipusatkan di kediaman Suhardi, Ketua Gapoktan Desa Ponjong.

Heru menyampaikan cara pembuatan mikro organisme lokal, pestisida alami, bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang, sekaligus mengajak peserta praktik membuat secara langsung. Heru menjelaskan untuk meningkatkan kesuburan tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah diperlukan pupuk organik, pupuk anorganik, dan pupuk hijau. Selain kebutuhan pada ketiga jenis pupuk tersebut, tanah pertanian juga memerlukan mikro organisme lokal (MOL) berupa cairan yang merupakan hasil fermentasi yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai bahan pembiakan bakteri. Pembuatan MOL berbahan baku buah-buahan dan hewan seperti keong dan lele.

“MOL dapat digunakan sebagai bioaktivator dalam proses dekomposer, pupuk hayati ataupun pestisida hayati. Bahan-bahan untuk membuatnya banyak tumbuh disekitar kita, jadi mudah dan murah,” jelas Heru kepada peserta.

Sri Purwani, Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu, mengajak para peserta untuk mulai menjaga kelestarian alam secara mandiri dengan beralih ke pertanian yang ramah lingkungan. Pertanian ramah lingkungan selain aman, juga mudah dan murah. Kembali ke alam memiliki tujuan jangka panjang agar ekosistem terjaga, dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian, dalam hal ini khususnya petani di Desa Ponjong. (ES)

Melimpahnya Limbah Pertanian jadi Berkah untuk Petani dan Ternak Ponjong

 

Peserta pelatihan mempraktikkan proses fermentasi jerami menjadi pakan ternak
Peserta pelatihan mempraktikkan proses fermentasi jerami menjadi pakan ternak. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (18/4) – Sebanyak 40 petani di Ponjong mengikuti pelatihan pengolahan limbah pertanian pada 11-12 April 2016 di kediaman Ketua Gapoktan Desa Ponjong. Pelatihan ini merupakan rangkaian dari kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat di bidang pertanian dalam skema kerjasama antara Desa Ponjong dengan Saemaul Globalization Foundation (SGF) dan Yayasan Penabulu.

Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun mengatakan pelatihan ini bertujuan menjawab kebutuhan petani dan peternak di Desa Ponjong agar mampu memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. “Saya melihat banyak sekali potensi limbah pertanian di Desa Ponjong ini seperti jerami padi, batang jagung, tongkol jagung, kulit kacang dan masih banyak lagi yang belum dioptimalkan menjadi pakan ternak, padahal kalau dimanfaatkan para peternak,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Eko Sujatmo, Staf Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu, yang juga mengamati banyak sekali potensi limbah pertanian di Ponjong. Namun pada saat musim kemarau masih banyak mendatangkan pakan ternak dari luar desa bahkan dari Klaten, Jawa Tengah.

“Limbah pertanian di Desa Ponjong ini sangat melimpah, apalagi sebagian besar petani bisa panen padi sawah tiga kali. Kalau limbah pertanian ini diolah dengan fermentasi bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak bagi petani di Desa Ponjong,” kata Eko.

Pelatihan pengolahan limbah pertanian ini menyasar para petani yang tersebar di 11 pedukuhan Desa Ponjong yang mempunyai ternak sapi maupun kambing. Selain berlatih membuat pakan ternak fermentasi, dalam pelatihan tersebut juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik padat dari kotoran sapi. Selama dua hari pelatihan, peserta memadukan teori dan praktik, sehingga pemahaman peserta bersifat komprehensif dan kegiatan jauh dari kata membosankan.

Untung Premadi, pakar peternakan dari Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Ponjong menjelaskan jerami dan limbah pertanian lainnya dapat difermentasi menggunakan ragi jerami dan diawetkan menjadi pakan sapi dan kambing. Ada beberapa cara petani mengawetkan jeraminya untuk cadangan pakan di musim kemarau antara lain jerami dikeringkan dan ditumpuk di lahan pertaniannya, atau disimpan di kandang. Apabila tidak sempat mengeringkan jeraminya, maka jerami dapat langsung difermentasi dalam kondisi basah.

Adi Muryanto, salah satu petani dari Dusun Serut, mengaku sangat senang karena mendapat ilmu bagaimana cara mengawetkan limbah pertanian menjadi pakan ternak. Dusun Serut merupakan wilayah yang kering, sehingga ketersediaan makanan ternak sangat terbatas di saat musim kemarau.

“Limbah pertanian di wilayah kami saat musim hujan sangat melimpah, ini menjadi berkah tersendiri bagi kami petani yang semuanya mempunyai ternak. Makanya kami senang jika mendapat pelatihan seperti ini, jadi bisa memanfaatkan limbah-limbah yang biasanya tidak terpakai,” kata Adi.

Pada kesempatan yang sama, Rudi, peternak kambing dari Dusun Sumber Kidul berharap agar setelah pelatihan ini ada pendampingan yang intensif agar para peternak bisa beternak dengan baik dan benar. Peternak yang mempunyai 20 ekor kambing ini sedang memulai usahanya dan mengatakan kalau selama ini peternak tidak tahu bagaimana memberikan pakan yang bermutu bagi kambingnya bisa mengalami kerugian.

“Saya sebagai peternak sudah sering mendapatkan pelatihan seperti ini namun belum pernah ada pendampingan. Sebenarnya kami ingin hasil praktiknya diberikan kepada kambing dan sapi kami untuk percobaan. Kalau bagus pasti semua petani akan mengikuti,” tandasnya. (ES)

Perempuan Ponjong “Sulap” Kulit Pisang jadi Kerupuk

Produk kerupuk berbahan dasar kulit pisang (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (1/4) – Sebanyak 40 perempuan Desa Ponjong, Ponjong, Gunungkidul, belajar bersama mengolah hasil pertanian berbahan pisang menjadi produk makanan olahan. Ada yang menarik pelatihan yang difasilitasi Saemaul Golabization Foundation (SGF) Korea Selatan bekerja sama dengan Yayasan Penabulu, mereka menyulap kulit pisang jenis uter menjadi kerupuk.

Pelatihan pengolahan hasil pertanian berbahan pisang mengundang perhatian perempuan Desa Ponjong yang hadir nampak maksimal mengikuti teori dan praktik langsung dipandu narasumber praktisi Eni Sudaryati di Balai Desa Ponjong selama tiga hari pada 29-31 Maret 2016. Pelatihan yang difasilitasi SGF dan Penabulu mengenalkan ilmu keterampilan baru pengolahan makanan dari bahan pisang.

Jika selama ini kulit pisang uter hanya dibuang, peserta diajarkan mengolah kulit pisang menjadi kerupuk dengan citra rasa cukup bersaing dengan produk makanan olahan yang lain. Langkah demi langkah pengolahan diberikan sembari melakukan praktik.

“Kerupuk kulit pisang ini peluang untuk bisa merebut pasar kuliner. Tentu saja ditentukan dari kualitas rasa, kualitas pengolahan dan kemasan,” kata Eni.

Makanan olahan produk pertanian terus mengalami inovasi menyesuaikan kebutuhan zaman. Maka dibutuhkan proses kreatif dalam pengolahan untuk pengembangan inovasi baru. Tak kalah penting, nilai gizi dan proses higienis diperhatikan dalam proses penciptaan produk makanan dan bentuk pengemasan untuk bisa mencuri perhatian pembeli.

Eni mengajak para peserta untuk cermat dalam tahap pengemasan dan pemasaran. Pelaku usaha pangan harus memilih bahan dan materi kemasan yang sesuai dengan segmentasi pasar. “Tentu kemasan untuk membidik segmen pembeli hotel, pusat oleh-oleh, beda cara kemas dengan segmen penjualan menyasar pasar tradisional,” imbuh Eni

Koordinator SGF di Gunungkidul Choi Hu Jun mengatakan kegiatan pelatihan pengolahan hasil produk pertanian perlu diberikan bagi kalangan pelaku usaha ekonomi produktif kelompok perempuan di Desa Ponjong. Selain mendorong dan memperkarya kemampuan perempuan dalam memproduksi makanan olahan, pelatihan cukup membantu usaha produktif menambah perekonomian keluarga.

“Kami berharap pelatihan ini tidak hanya selesai belajar tapi ada tindaklanjutnya untuk membangun ekonomi kreatif peningkatan kesejahteraan keluarga melalui olahan produk makanan ini,” kata Choi.

Peserta pelatihan SGF di Ponjong menyasar pegiat PKK, perwakilan difabel, dan pelaku usaha ekonomi kreatif. Ada beberapa latihan olahan pangan diberikan seperti kerupuk kulit pisang, sale pisang, nastar, ceriping pisang. Pelatihan semakin lengkap dengan pembuatan onde-onde pyur khas Ponjong yang disampaikan Wiyati, pebisnis makanan khas Gunungkidul.

Eko Sujatmo, Staf Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Penabulu menjelaskan kegiatan pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat sipil di Desa Ponjong, Desa Bleberan, dan Desa Sumbermulyo. Kerjasama program SGF bersama tiga desa dan Yayasan Penabulu di Indonesia direncanakan berjalan selama lima tahun 2015-2020 untuk penguatan masyarakat sipil desa dan mensinergikan program pemberdayaan masyarakat pemerintah DIY. (ES)

Sektor Pertanian Optimis Jadi Ujung Tombak Pembangunan

sumber: dokumentasi lembaga

Gunungkidul (25/3) – Pemerintah Korea Selatan melalui Saemaul Globalization Foundation (SGF) mendukung peningkatan peran kelompok tani Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul. Kelompok Tani (Poktan) dari 11 dusun, kelompok Wanita Tani (KWT), dan Taruna Tani mengikuti pelatihan penguatan kapasitas petani dan pengenalan pertanian organik yang diselenggarakan SGF bersama Yayasan Penabulu pada 21-23 Maret 2016.

Relawan SGF Korea Selatan area Gunungkidul Choi Hu Jun mengatakan pertanian di Desa Bleberan menjadi potensi besar untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Mayoritas masyarakat Bleberan menggantungkan pada sektor pertanian dan peternakan. Choi menilai dibutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung gerak roda pemerintahan desa yang lebih baik dan berpihak.

“Pertanian menjadi tiang dan ujung tombak pembangunan desa disini. Untuk itu peningkatan peran kapasitas petani menjadi penting,” ujar Choi.

Choi juga membagikan pengalaman pendampingan yang pernah dilakukan di Korea Selatan dan Denmark. “Potensi Desa Bleberan tidak kalah dengan negara-negara lain. Tinggal mengubah cara pandang petani untuk bekerja lebih giat dan disiplin lagi. Banyak potensi Bleberan yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan bersama. KWT dan Taruna Tani yang sudah ada harus ikut berperan menentukan, tidak hanya formalitas saja,” katanya.

Kehadiran relawan dari SGF di Gunungkidul untuk empat tahun kedepan menggandeng Yayasan Penabulu. Tidak hanya di Desa Bleberan, di Desa Ponjong Kecamatan Ponjong dan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, yang juga fokus di bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan. Beberapa praktisi dan Pemkab Gunungkidul dihadirkan sebagai narasumber pelatihan poktan, KWT dan Taruna Tani seperti Raharjo Yuwono, Adinoto, Iriawan Djariasmoro, Anastasia Ari, Eko Sujatmo, dan Endro Guntoro. Beberapa materi disampaikan seperti sosialisasi arah dan kebijakan pembangunan pertanian Gunungkidul 2016, pemantapan kelembagaan pertanian dan pelatihan pangan organik.

Narasumber dari Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Gunungkidul Iriawan Djatiasmoro mengatakan banyak peluang yang harus ditangkap kelompok wanita tani dan pemuda tani atau taruna tani di Desa Bleberan yang sisi lain menyimpan potensi besar pariwisata air terjun Sri Getuk yang sudah populer ke mancanegara. Menurut Iriawan produk pangan olahan hasil pertanian organik Bleberan harus didorong sebagai penyangga pariwisata Sri Gethuk sebelum produk oleh-oleh pangan dari daerah luar masuk.

Iriawan optimis jika pemerintah desa Bleberan dipimpin kades baru Supraptono, yang juga kader petani berprestasi, hendaknya menangkap peluang pariwisata pertanian seperti gagasan kebun buah khas Bleberan dan pengembangan kemajuan pertanian setempat. Pemkab Gunungkidul juga bersedia memfasilitasi poktan, KWT dan Taruna Tani mendapat registrasi atau legalitas badan hukum yang diamanatkan regulasi baru. (ETG)

Desa Antusias Sambut Program Penguatan Kapasitas SDM

 

Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul, Choi Hu Jun, mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Bleberan dan Ponjong.
Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul Choi Hu Jun (tengah). (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (23/2) – Salah satu bidikan program Korea Selatan melalui Saemaul Globalization Foundation (SGF) Indonesia Office dan Yayasan Penabulu di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul tidak lain adalah demokratisasi desa dan penguatan masyarakat sipil. Program tahun pertama telah dilaksanakan dengan berbagai fasilitas penyelenggaraan kepelatihan guna meningkatkan kapasitas masyarakat sipil dan semakin optimalisasi peran lembaga desa, seperti Karang Taruna, PKK, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di desa-desa mitra program SGF dan Penabulu.

SGF sebagai lembaga dari Korea Selatan melihat ketiga lembaga desa tersebut menjadi organisasi masyarakat sipil paling strategis untuk mendorong masyarakat sipil desa lebih aktif dalam partisipasi penyelenggaraan pemerintahan. “Penguatan masyarakat sipil pada tahun pertama program pembangunan kapasitas dan sumber daya manusia. Program menyasar bentuk fasilitasi kepelatihan,” kata Manajer Program Desa Lestari Yayasan Penabulu Sri Purwani usai mengisi pelatihan untuk pegiat PKK dan kelompok perempuan Desa Ponjong pada Selasa (23/2).

Aktivis pemberdayaan desa yang akrab disapa Ani ini menyatakan tiga desa sasaran program SGF di Indonesia yakni Desa Ponjong Kecamatan Ponjong, Desa Bleberan Kecamatan Playen Gunungkidul, dan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, cukup antusias menyambut kegiatan pelatihan yang rata-rata telah memasuki kegiatan ketiga di tahan empat bulan pertama.

Ada perubahan perilaku masyarakat desa yang cukup menarik pada setiap kegiatan kepelatihan yang dilaksakan tim Penabulu dan SGF, baik bersama maupun di masing-masing desa. Pelaksanaan kegiatan pelatihan terlihat lebih fokus dan peserta tidak ada yang meninggalkan kegiatan sebelum berakhir. “Budaya disiplin ini yang memang diharapkan lembaga Korea dapat diterapkan masyarakat desa di Indonesia. Selain disiplin, jujur dan kerja keras sejalan semangat Saemaul Undong yang diberikan,” ujarnya.

Ani menambahkan program tahun pertama SGF dan Penabulu memang secara khusus membangun karakter masyarakat desa. Masyarakat sipil desa disiapkan sebagai pribadi yang selalu siap berpartisipasi aktif dalam perencanaan kebijakan desa, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Menurutnya, masyarakat sipil desa juga didorong melek akan peran dan fungsi wadah organisasi yang diikuti sebagai kelembagaan yang turut menentukan perubahan desa kedepan lebih baik. Penabulu secara khusus mendorong lembaga desa tidak sekadar hidup menjadi pelengkap atau formalitas pemerintah desa, tetapi secara aktif menjadi mitra pembangunan pemerintah desa.

Antusias masyarakat mitra program SGF terlihat juga dari kemampuan pemerintah desa menyikapi padatnya kegiatan. Desa yang tengah menyelenggarakan agenda pemerintahan dari pelaksanaan UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, juga sedang melaksanakan program kemitraan yang hampir setiap bulan dilakukan SGF dan Penabulu atas kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat baik di DIY dan tingkat kabupaten. Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, menyikapi padatnya kegiatan dengan membetuk kelompok kerja atau tim kerja melibatkan tokoh masyarakat. Tim atau kelompok kerja terdiri dari perwakilan dari lembaga desa, tokoh masyarakat dan perangkat desa sebagai implementator program SGF dan Penabulu.

“Kami juga memiliki harapan kepala desa bisa terbentuk kelompok kerja ini agar pemerintah desa tidak terbeban menjalankan dua sumber kegiatan pembangunan ini,” kata Taufik Ari Wibowo selaku kepala urusan perencanaan Desa Bleberan ditemui terpisah.

Senada dengan Taufik, aktivis desa dan pegiat Taruna Tani Ubet Manunggal Edi Supatmo menilai keberadaan tim atau kepanitiaan secara khusus perlu segera dibentuk oleh Kades Supraptono untuk meringankan beban dan tugas desa. “Salah satu tujuan tim ini juga sebagai optimalisasi program SGF di desa kami. Kami berharap kades merespon masukan ini,” ujar Edi.

Perubahan yang sama juga terlihat di Desa Ponjong yang tengah menyelenggarakan kegiatan untuk tiga hari kedepan bersama Penabulu dan SGF. “Kami mendorong masyarakat sipil bisa melek perencanaan desa, akses program dan anggaran, serta terbangun kesadaran untuk terlibat mewarnai dinamika pemerintah desa,” pungkas EkoSujatmo, Staf Pemberdayaan Desa Lestari di Ponjong.

Relawan Senior SGF Indonesia Office untuk wilayah Gunungkidul Choi Hu Jun mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Bleberan dan Ponjong. Menurutnya, masyarakat desa harus terus berbenah melalui implementasi dari materi-materi kepelatihan yang sudah diberikan. Hal itu, imbuh Choi, agar secara cepat masyarakat sipil turut berperan aktif dalam menentukan kesejahteraan bersama. (ETG)

Membangun Indonesia dari Desa

 

Peserta Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif. (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (10/12) – Sebanyak 65 orang mengikuti Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif pada 4-6 Desember 2015. Kegiatan tersebut diadakan oleh Saemaul Globalization Foundation (SGF) dan Yayasan Penabulu.

Peserta pelatihan berasal dari unsur perangkat desa, pegiat kelompok tani, pengurus dan kader PKK, dan pendamping lapangan dari tiga desa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketiga desa tersebut antara lain Desa Sumbermulyo, Bantul; Desa Ponjong dan Bleberan, Gunungkidul.

Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Partisipatif bertujuan mendorong masyarakat aktif dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan. Menjelang akhir tahun anggaran, desa akan memulai alur perencanaan pembangunan yang dimulai dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), khususnya bagi desa-desa yang baru saja mengadakan pemilihan kepala desa.

Perwakilan masing-masing desa bersama Penabulu dan SGF menyusun perencanaan program dan kerja sama untuk periode tahun pertama, yang akan ditindaklanjuti dalam kegiatan-kegiatan di tingkat desa.

Staf Ahli Kementerian Desa dan PDTT Agus Asmana bersama tim dari Yayasan Penabulu Budi Susilo dan Sri Purwani memfasilitasi pelatihan dengan berbagai materi dan metode. Tim Penabulu menyampaikan materi mengenai alur penyusunan RPJMDes dan Peraturan Desa (Perdes), sedangkan Agus Asmana berfokus pada materi pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pelatihan berlangsung secara dinamis dengan diskusi dan tanya jawab antar peserta maupun peserta dengan fasilitator. Walau sesi pelatihan berlangsung panjang, tidak tampak kelelahan di wajah mereka selama tiga hari kegiatan.

“Pertemuan ini menjadi sangat penting, karena masyarakat bisa langsung berdiskusi secara terbuka, menyampaikan usul kepada pemegang kebijakan desa dan lembaga pendamping. Terlebih kegiatannya tidak berlangsung di desa, sehingga masyarakat merasa suaranya lebih diperhatikan oleh banyak pihak. Saya berharap ke depan masih ada kegiatan-kegiatan yang dikhususkan untuk kelompok-kelompok muda agar mau membangun desanya,” ujar Edi Padmo, petani muda dari Desa Bleberan.

Kader PKK Desa Sumbermulyo Titik Maryati memaparkan usulan perdes tentang peran desa mengatasi kenakalan remaja. (sumber: dokumentasi lembaga)

Masyarakat desa sangat berperan menciptakan kondisi kehidupan desa. Kini mulai banyak kegiatan dan pertemuan yang melibatkan masyarakat. Harapannya sudah sangat jelas yaitu pro-aktifnya masyarakat desa pada pembangunan, baik fisik maupun non fisik. Walau nyatanya masih ada banyak masyarakat yang merasa suaranya tidak berguna. Seperti yang diungkapkan Supiyem, anggota BPD Ponjong.

“Pertemuan sudah banyak. Setiap pertemuan masyarakat diminta ngomong usulnya gimana, nyatanya cuma diam saja tapi nggerundel di belakang,” ungkapnya.

Suara masyarakat walaupun sedikit dan sederhana namun kini menjadi penting memberi sumbangsih dalam pembangunan. Kesadaran dan keberanian bicara di tengah forum memang masih harus dibiasakan. Maka dalam pelatihan tersebut ketika sesi paparan hasil diskusi, peserta harus bergantian dan mengutamakan peserta yang memiliki kecenderungan pasif dalam pertemuan-pertemuan di desa. Karena Indonesia membutuhkan masyarakat yang aktif dan partisipatif membangun desa. (NP)

Tiga Desa di DIY Resmi Jalin Kerjasama dengan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation

Bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat Desa Bleberan, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (5/10) – Tiga desa di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, yaitu Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Desa Bleberan Kecamatan Playen dan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul menyatakan kesiapan menjalin kerjasama dengan dua lembaga swadaya masyarakat Yayasan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation (SGF).

Kesiapan tersebut diresmikan melalui penandatangan lembar kerja sama yang menandai dimulainya program bertahap selama lima tahun hingga tahun 2020 mendatang. Penandatangan kerja sama dilakukan SGF, Yayasan Penabulu dan desa di masing-masing balai desa dan disaksikan tokoh masyarakat, perwakilan lembaga desa, Pejabat Muspika selaku perwakilan Pemerintah Kabupaten setempat pada Selasa (29/9) untuk Desa Bleberan dan Ponjong, dan Rabu (30/9) untuk Desa Sumbermulyo.

Manajer Program dari Yayasan Penabulu Sri Purwani mengatakan terpilihnya tiga desa di DIY tersebut melalui banyak pertimbangan matang. Selain melihat kiprah desa dalam pembangunan, daya juang swadaya masyarakat dan pemerintah desa dalam mengangkat potensi lokal yang dimiliki.

“Program ini konsepnya tidak hanya menerima bantuan saja. Tetapi juga kesediaan seluruh elemen masyarakat terlibat, termasuk kelompok rentan, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban pembangunan. Potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) desa menjadi modal utama dalam program ini,” ungkap Sri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo menambahkan program kerja sama lima tahun ke depan merupakan bagian dari program memperkuat kebijakan pemerintah Jokowi yang dikenal sebagai Nawacita yaitu memusatkan pembangunan daerah dari kawasan pinggiran dan desa.

Menurut Budi ada yang sama dari konsep membangun desa dan desa membangun dalam Nawacita sebagai perumusan dari konsep Trisakti oleh Soekarno dengan prinsip Saemaul Undong yang dikembangkan SGF. Beberapa diantaranya kegotongroyongan, pemberdayaan dan partisipatif serta nilai-nilai potensi lokal.

“Saemaul malah sudah melakukannya sejak 1970-an silam. Inilah yang akhirnya kita bisa bertemu dan jalin kerja sama untuk membangun desa,” kata Budi dalam sambutan di hadapan tokoh masyarakat tiga desa.

Budi menegaskan Yayasan Penabulu selama ini memang sudah melaksanakan pendampingan desa di beberapa wilayah di Indonesia melalui orientasi program bernama Desa Lestari. Desa Lestari dipersiapkan untuk melestarikan banyak hal yang dimiliki desa, seperti melestarikan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal, potensi alam dan manusia desa untuk mewujudkan kesejahteraan yang dicita-citakan bersama. Hadirnya SGF diharapkan dapat memberi dorongan kuat bagi desa dampingan kedepan nanti menjadi salah satu model percontohan desa lestari bagi desa lain di DIY.

Kerja sama tiga pihak telah menyepakati tema besar yang akan menjadi orientasi program tahun 2015-2020 mendatang, yaitu peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat sipil desa dan pengembangan nilai-nilai demokrasi. Program tiga tahun pertama akan fokus diarahkan untuk memantapkan kapasitas tata kelola pemerintah desa yang harus berjalan seimbang dengan kuatnya peran aktif masyarakat sipil desa melalui kelompok dan lembaga sejalan dengan implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Sementara itu, di tiga desa mitra Program Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong menjelaskan kehadiran SGF di Indonesia bukan hal yang baru. Menurut Hong, SGF juga sedang melaksanakan program di sepuluh negara lainnya. Program yang bekerja sama dengan Yayasan Penabulu tidak akan memaksakan bentuk kegiatan untuk desa dan masyarakat mitra dampingan. Tetapi, Hong mempertegas SGF dan Yayasan Penabulu menyerahkan sepenuhnya bentuk program kegiatan pada desa dan masyarakat dalam kapasitas desa mitra dampingan. Hong menyatakan, pihak SGF akan memfasilitasi kebutuhan desa dan masyarakat dalam pelaksanaan program yang perencanaannya melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada di desa, khususnya yang berkaitan dengan bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan.

 

Dari kiri ke kanan: Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana, Director Indonesia Office of SFG Seunghoon Hong, dan Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo (sumber: dokumentasi lembaga)
Dari kiri ke kanan: Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo, Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong, dan Pj. Lurah Desa Sumbermulyo H. Albani (sumber: dokumentasi lembaga)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga desa yang terpilih menjadi mitra program yaitu Desa Ponjong, Desa Bleberan dan Desa Sumbermulyo, nampak bersemangat dengan terjalinnya kerjasama bersama Yayasan Penabulu dan SGF ini. Terlebih, ketiga desa tersebut jauh-jauh telah menyiapkan diri kesediaan sinergis belajar bersama SGF dan Penabulu dalam implementasi program ditengah pelaksanaan UU Desa dan kini menyambut hajatan politik pemilihan kapala desa (pilkades).

Sekretaris Desa Sumbermulyo selaku Penjabat (Pj.) Lurah H. Albani menyatakan pemerintah desa siap lebih aktif melibatkan seluruh elemen kelompok desa, baik formal atau non formal, dalam tata kelola kebijakan dan program pembangunan desa lestari dengan mendorong peran organisasi lembaga desa seperti Karangtaruna, PKK, kelompok perajin, kelompok rentan perempuan, difabel, forum anak, lansia, serta peningkatan kapasitas LPMD dan BPD.

Di tempat terpisah, Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana juga nampak tertantang untuk sinergis melaksanakan program bersama SGF dan Penabulu. Wagiyo, mewakili kelompok tani Manunggal Desa Ponjong, mengaku terjalinnya kerjasama menghidupkan kembali harapan sebagai petani buah. Wagiyo menceritakan, kelompok tani Manunggal sudah dua tahun ini merintis pertanian buah program dari pemerintah daerah Gunungkidul. Namun, diakui Wagiyo, program tersebut ada kegagalan tanam untuk beberapa jenis bibit buah seperti durian yang diperkirakan butuh adanya tata kepelatihan yang baik bagi anggota kelompok. Mereka berharap petani buah ini mendapat prioritas program yang terjalin dengan Yayasan Penabulu dan LSM asal Korea tersebut.

Tidak ketinggalan di Desa Bleberan, Pj. Kades Bleberan Sri Kustini juga menaruh harapan desanya lebih pesat dalam mewujudkan kesejahteraan. Desa Bleberan memiliki wisata air terjun Sri Getuk yang sudah cukup terkenal dan menjadi gantungan ekonomi warga. Hanya saja, sektor lain seperti pertanian dan peningkatan kapasitas warga dan aparatur desa masih perlu terus ditingkatkan untuk tata kelola pelayanan yang lebih baik lagi. (ETG)