Perempuan Ponjong “Sulap” Kulit Pisang jadi Kerupuk

Produk kerupuk berbahan dasar kulit pisang (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (1/4) – Sebanyak 40 perempuan Desa Ponjong, Ponjong, Gunungkidul, belajar bersama mengolah hasil pertanian berbahan pisang menjadi produk makanan olahan. Ada yang menarik pelatihan yang difasilitasi Saemaul Golabization Foundation (SGF) Korea Selatan bekerja sama dengan Yayasan Penabulu, mereka menyulap kulit pisang jenis uter menjadi kerupuk.

Pelatihan pengolahan hasil pertanian berbahan pisang mengundang perhatian perempuan Desa Ponjong yang hadir nampak maksimal mengikuti teori dan praktik langsung dipandu narasumber praktisi Eni Sudaryati di Balai Desa Ponjong selama tiga hari pada 29-31 Maret 2016. Pelatihan yang difasilitasi SGF dan Penabulu mengenalkan ilmu keterampilan baru pengolahan makanan dari bahan pisang.

Jika selama ini kulit pisang uter hanya dibuang, peserta diajarkan mengolah kulit pisang menjadi kerupuk dengan citra rasa cukup bersaing dengan produk makanan olahan yang lain. Langkah demi langkah pengolahan diberikan sembari melakukan praktik.

“Kerupuk kulit pisang ini peluang untuk bisa merebut pasar kuliner. Tentu saja ditentukan dari kualitas rasa, kualitas pengolahan dan kemasan,” kata Eni.

Makanan olahan produk pertanian terus mengalami inovasi menyesuaikan kebutuhan zaman. Maka dibutuhkan proses kreatif dalam pengolahan untuk pengembangan inovasi baru. Tak kalah penting, nilai gizi dan proses higienis diperhatikan dalam proses penciptaan produk makanan dan bentuk pengemasan untuk bisa mencuri perhatian pembeli.

Eni mengajak para peserta untuk cermat dalam tahap pengemasan dan pemasaran. Pelaku usaha pangan harus memilih bahan dan materi kemasan yang sesuai dengan segmentasi pasar. “Tentu kemasan untuk membidik segmen pembeli hotel, pusat oleh-oleh, beda cara kemas dengan segmen penjualan menyasar pasar tradisional,” imbuh Eni

Koordinator SGF di Gunungkidul Choi Hu Jun mengatakan kegiatan pelatihan pengolahan hasil produk pertanian perlu diberikan bagi kalangan pelaku usaha ekonomi produktif kelompok perempuan di Desa Ponjong. Selain mendorong dan memperkarya kemampuan perempuan dalam memproduksi makanan olahan, pelatihan cukup membantu usaha produktif menambah perekonomian keluarga.

“Kami berharap pelatihan ini tidak hanya selesai belajar tapi ada tindaklanjutnya untuk membangun ekonomi kreatif peningkatan kesejahteraan keluarga melalui olahan produk makanan ini,” kata Choi.

Peserta pelatihan SGF di Ponjong menyasar pegiat PKK, perwakilan difabel, dan pelaku usaha ekonomi kreatif. Ada beberapa latihan olahan pangan diberikan seperti kerupuk kulit pisang, sale pisang, nastar, ceriping pisang. Pelatihan semakin lengkap dengan pembuatan onde-onde pyur khas Ponjong yang disampaikan Wiyati, pebisnis makanan khas Gunungkidul.

Eko Sujatmo, Staf Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Penabulu menjelaskan kegiatan pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat sipil di Desa Ponjong, Desa Bleberan, dan Desa Sumbermulyo. Kerjasama program SGF bersama tiga desa dan Yayasan Penabulu di Indonesia direncanakan berjalan selama lima tahun 2015-2020 untuk penguatan masyarakat sipil desa dan mensinergikan program pemberdayaan masyarakat pemerintah DIY. (ES)