Skip to content

Kolaborasi Dengan Sektor Wisata

Djarum Foundation (Beritagar / Lokadata)
28 October 2021
ESR Division of PT Astra Internasional Tbk
28 October 2021
Djarum Foundation (Beritagar)
28 September 2021

Kolaborasi Dengan Pemerintah K/L

Badan Restorasi Gambut (BRG)
28 October 2021
Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep Madura
28 October 2021

Kolaborasi Dengan OMS

Perkumpulan Jaringan Nelayan (JaLA)
28 October 2021
Perkumpulan Paluma Nusantara
28 October 2021
JUMP! Foundation
28 October 2021

Perkumpulan Jaringan Nelayan (JaLA)

Perkumpulan Jaringan Nelayan (JaLA) adalah organisasi masyarakat sipil yang berdiri pada 30 Juli 2010. Berdirinya JaLA dilatarbelakangi oleh keberadaan sumberdaya laut yang melimpah di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sebagian besar penduduk di kampung tersebut mengandalkan potensi perikanan untuk keberlangsungan hidup. Sehingga mayoritas mata pencahariannya adalah menjadi nelayan. Masyarakat Kampung Tanjung Batu berlomba-lomba menangkap ikan sebanyak mungkin untuk dijual agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pola pikir tersebut memunculkan kegelisahan bahwa suatu saat nanti potensi sumber daya perikanan di Kampung Tanjung Batu menipis bahkan habis.

Kehadiran JaLA menjadi wadah bagi para nelayan di Kampung Tanjung Batu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi, seperti aturan pada praktik destructive fishing yang belum jelas dan aturan mengenai pengelolaan kawasan tangkap.

JaLA memiliki visi mewujudkan pelestarian ekosistem laut dan mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir pantai dan nelayan Tanjung Batu. Salah satu upaya yang dilakukan JaLA untuk mewujudkan visi tersebut adalah mengadakan suatu program “Pelestarian Hutan Mangrove Kampung Tanjung Batu melalui Skema Kemitraan”. Program ini hadir karena Desa (Kampung) Tanjung Batu merupakan salah satu kampung dengan kawasan mangrove seluas ± 1.841,44 hektar. Kawasan mangrove di sana berfungsi sebagai pelindung alami pantai dari gempuran ombak dan gelombang, juga sebagai sumber perekonomian masyarakat dari hasil perikanan dan pariwasata alam bahari.

Ada potensi ancaman dari pemegang ijin sawit dan HPH akan memperluas usaha. Hal itu dikhawatirkan akan mempengaruhi kawasan hutan mangrove (APL Clean Clear) seluas ± 201,77 hektar. Untuk menjaga kawasan mangrove tatap terjaga keberadaannya dan diakui oleh pemegang izin (HPH dan HGU), maka Perkumpulan Jaringan Nelayan (JALA) dan Perkumpulan Desa Lestari mengadakan program Pelestarian Hutan Mangrove Kampung Tanjung Batu melalui Skema Kemitraan.

Program Pelestarian Hutan Mangrove Kampung Tanjung Batu melalui Skema Kemitraan bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati hutan, spesies, dan ekosistem yang langka dan terancam punah, jasa ekosistem daerah aliran sungai, konektivitas antar zona ekologi hutan, dan koridor hutan yang memiliki manfaat terhadap keanekaragaman hayati dan perubahan iklim, pada tingkatan global, nasional, dan lokal. Selain itu, tujuan lainnya untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan.

Selama tiga tahun (2018 – 2021), beberapa kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan di Kampung Tanjung Batu. Hasilnya kualitas pengelolaan mangrove di kampung Tanjung Batu untuk melindungi ±1.841,44 hektar mangrove di Tanjung Batu melalui skema kemitraan antara masyarakat dengan pelaku usaha pemegang ijin konsesi meningkat, kelembagaan yang memiliki kapasitas yang memadai dan efektif dalam pengelolaan kawasan hutan mangrove Kampung Tanjung Batu menguat, dan Pendapatan Asli Kampung Tanjung Batu meningkat.