Kabupaten Kudus terkenal sebagai wilayah industri rokok, sehingga sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor tersebut. Mereka yang bekerja juga berperan sebagai orang tua. Dampaknya tak jarang orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk membantu buah hati belajar di rumah. Pendidikan anak jadi hanya berfokus di lingkungan sekolah karena pembelajaran di rumah kurang maksimal.
Kurangnya pendidikan di rumah karena orangtua sibuk bekerja terjadi di Desa Bacin Kabupaten kudus. “Kami prihatin dengan kondisi pendidikan anak-anak di desa kami. Banyak orang tua tidak memiliki waktu untuk sekedar membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah karena sibuk bekerja di pabrik,” kata Direktur BUMDes Agung Prasetyo. Kondisi tersebut yang menjadi latar belakang BUMDes Bumi Nawasena Bacin membuat usaha bimbingan belajar.
Bermodalkan uang kurang dari Rp10 juta, BUMDes memulai usaha bimbingan belajar. Rumah tua milik warga yang tidak terpakai dimanfaatkan menjadi kelas dan ruangan pengajar. Renovasi dan penambahan fasilitas alat tulis dan buku bacaan dilakukan untuk meningkatkan kenyaman siswa dalam proses belajar mengajar.
Bimbingan belajar dibagi menjadi kelas umum dan kelas khusus. Kelas umum diisi oleh lebih dari 5 siswa dengan fokus materi pada pengetahuan umum dan mata pelajaran di sekolah. Sedangkan kelas khusus adalah diisi 1 sampai 3 siswa yang berfokus pada materi yang diinginkan oleh siswa.
BUMDes menetapkan biaya yang sangat terjangkau dimana setiap siswa kelas umum hanya membayar Rp 5.000 setiap pertemuan, sementara kelas khusus membayar Rp 80.000-120.000 setiap bulan. Untuk saat ini bimbingan belajar baru difokuskan untuk anak-anak sekolah dasar yang dilaksanakan setiap hari Senin hingga Jum’at pukul 16.00-17.30 WIB.
BUMDes mulai merintis usaha bimbingan belajar pada Juli 2024. Pengurus BUMDes mulai menyosialisasikan usaha bimbingan belajar kepada warga desa melalui pertemuan RT dan PKK. Usaha bimbingan belajar dibuka pada hari Rabu di minggu pertama bulan Juli. Sebanyak 20 siswa hadir mengikuti bimbingan belajar yang diadakan oleh BUMDes. Para siswa dibantu untuk memperdalam pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu materi pengetahuan umum dan pelajaran agama juga diajarkan. Adanya pelajaran agama mendapat respon positif dari para orang tua siswa.

Secara langsung usaha bimbingan belajar yang dilaksanakan BUMDes membantu para orang tua dalam memastikan pendidikan anak tidak hanya sebatas di sekolah. Para orang tua siswa merasa sangat terbantu dengan adanya bimbingan belajar ini karena harga dan jarak sangat terjangkau. “Saya sangat terbantu dengan adanya bimbingan belajar ini karena anak saya kalo belajar sendiri dirumah kurang fokus dan saya tidak punya banyak waktu untuk terus mengajari, selain itu harganya juga terjangkau dan jaraknya juga dekat,” tutur Andri, salah satu orang tua siswa.
Selain berdampak pada pendidikan anak, usaha bimbingan belajar yang dijalankan oleh BUMDes juga membuka lapangan pekerjaan baru. Saat ini 5 pemuda dan pemudi menjadi pekerja lepas sebagai tenaga pengajar di bimbingan belajar. Muda-mudi yang yang bekerja sebagai pengajar adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan S1 atau telah sarjana. Tak hanya itu, pengajar juga harus memiliki latar belakang pendidikan guru atau memiliki pengalaman sebagai pengajar di bimbingan belajar. Pengurus BUMDes memandang, mereka yang memiliki latar belakang pendidikan guru atau pernah mengajar di bimbingan belajar sudah memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menghadapi siswa dengan berbagai karakter dan kebutuhan.
BUMDes memiliki harapan terhadap usaha bimbingan belajar ini. “Kedepan kami akan semakin meningkatkan kualitas pengajar dengan membuat modul yang berisi materi-materi sekolah dasar dan juga materi tentang ice breaking. Kami juga berencana untuk memperluas tempat untuk dapat semakin banyak menampung siswa dan menyerap lebih banyak pemuda untuk bekerja,” kata koordinator usaha bimbingan belajar Siti Maftuchatul Izzah. (NS)












