Tiga Desa di DIY Resmi Jalin Kerjasama dengan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation

Bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat Desa Bleberan, Gunungkidul (sumber: dokumentasi lembaga)

Yogyakarta (5/10) – Tiga desa di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, yaitu Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Desa Bleberan Kecamatan Playen dan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul menyatakan kesiapan menjalin kerjasama dengan dua lembaga swadaya masyarakat Yayasan Penabulu dan Saemaul Globalization Foundation (SGF).

Kesiapan tersebut diresmikan melalui penandatangan lembar kerja sama yang menandai dimulainya program bertahap selama lima tahun hingga tahun 2020 mendatang. Penandatangan kerja sama dilakukan SGF, Yayasan Penabulu dan desa di masing-masing balai desa dan disaksikan tokoh masyarakat, perwakilan lembaga desa, Pejabat Muspika selaku perwakilan Pemerintah Kabupaten setempat pada Selasa (29/9) untuk Desa Bleberan dan Ponjong, dan Rabu (30/9) untuk Desa Sumbermulyo.

Manajer Program dari Yayasan Penabulu Sri Purwani mengatakan terpilihnya tiga desa di DIY tersebut melalui banyak pertimbangan matang. Selain melihat kiprah desa dalam pembangunan, daya juang swadaya masyarakat dan pemerintah desa dalam mengangkat potensi lokal yang dimiliki.

“Program ini konsepnya tidak hanya menerima bantuan saja. Tetapi juga kesediaan seluruh elemen masyarakat terlibat, termasuk kelompok rentan, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban pembangunan. Potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) desa menjadi modal utama dalam program ini,” ungkap Sri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo menambahkan program kerja sama lima tahun ke depan merupakan bagian dari program memperkuat kebijakan pemerintah Jokowi yang dikenal sebagai Nawacita yaitu memusatkan pembangunan daerah dari kawasan pinggiran dan desa.

Menurut Budi ada yang sama dari konsep membangun desa dan desa membangun dalam Nawacita sebagai perumusan dari konsep Trisakti oleh Soekarno dengan prinsip Saemaul Undong yang dikembangkan SGF. Beberapa diantaranya kegotongroyongan, pemberdayaan dan partisipatif serta nilai-nilai potensi lokal.

“Saemaul malah sudah melakukannya sejak 1970-an silam. Inilah yang akhirnya kita bisa bertemu dan jalin kerja sama untuk membangun desa,” kata Budi dalam sambutan di hadapan tokoh masyarakat tiga desa.

Budi menegaskan Yayasan Penabulu selama ini memang sudah melaksanakan pendampingan desa di beberapa wilayah di Indonesia melalui orientasi program bernama Desa Lestari. Desa Lestari dipersiapkan untuk melestarikan banyak hal yang dimiliki desa, seperti melestarikan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal, potensi alam dan manusia desa untuk mewujudkan kesejahteraan yang dicita-citakan bersama. Hadirnya SGF diharapkan dapat memberi dorongan kuat bagi desa dampingan kedepan nanti menjadi salah satu model percontohan desa lestari bagi desa lain di DIY.

Kerja sama tiga pihak telah menyepakati tema besar yang akan menjadi orientasi program tahun 2015-2020 mendatang, yaitu peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat sipil desa dan pengembangan nilai-nilai demokrasi. Program tiga tahun pertama akan fokus diarahkan untuk memantapkan kapasitas tata kelola pemerintah desa yang harus berjalan seimbang dengan kuatnya peran aktif masyarakat sipil desa melalui kelompok dan lembaga sejalan dengan implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Sementara itu, di tiga desa mitra Program Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong menjelaskan kehadiran SGF di Indonesia bukan hal yang baru. Menurut Hong, SGF juga sedang melaksanakan program di sepuluh negara lainnya. Program yang bekerja sama dengan Yayasan Penabulu tidak akan memaksakan bentuk kegiatan untuk desa dan masyarakat mitra dampingan. Tetapi, Hong mempertegas SGF dan Yayasan Penabulu menyerahkan sepenuhnya bentuk program kegiatan pada desa dan masyarakat dalam kapasitas desa mitra dampingan. Hong menyatakan, pihak SGF akan memfasilitasi kebutuhan desa dan masyarakat dalam pelaksanaan program yang perencanaannya melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada di desa, khususnya yang berkaitan dengan bidang pertanian dan pemberdayaan perempuan.

 

Dari kiri ke kanan: Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana, Director Indonesia Office of SFG Seunghoon Hong, dan Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo (sumber: dokumentasi lembaga)
Dari kiri ke kanan: Direktur Program Yayasan Penabulu Budi Susilo, Director Indonesia Office of SGF Seunghoon Hong, dan Pj. Lurah Desa Sumbermulyo H. Albani (sumber: dokumentasi lembaga)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga desa yang terpilih menjadi mitra program yaitu Desa Ponjong, Desa Bleberan dan Desa Sumbermulyo, nampak bersemangat dengan terjalinnya kerjasama bersama Yayasan Penabulu dan SGF ini. Terlebih, ketiga desa tersebut jauh-jauh telah menyiapkan diri kesediaan sinergis belajar bersama SGF dan Penabulu dalam implementasi program ditengah pelaksanaan UU Desa dan kini menyambut hajatan politik pemilihan kapala desa (pilkades).

Sekretaris Desa Sumbermulyo selaku Penjabat (Pj.) Lurah H. Albani menyatakan pemerintah desa siap lebih aktif melibatkan seluruh elemen kelompok desa, baik formal atau non formal, dalam tata kelola kebijakan dan program pembangunan desa lestari dengan mendorong peran organisasi lembaga desa seperti Karangtaruna, PKK, kelompok perajin, kelompok rentan perempuan, difabel, forum anak, lansia, serta peningkatan kapasitas LPMD dan BPD.

Di tempat terpisah, Pj. Kades Ponjong Eka Nur Bambang Wacana juga nampak tertantang untuk sinergis melaksanakan program bersama SGF dan Penabulu. Wagiyo, mewakili kelompok tani Manunggal Desa Ponjong, mengaku terjalinnya kerjasama menghidupkan kembali harapan sebagai petani buah. Wagiyo menceritakan, kelompok tani Manunggal sudah dua tahun ini merintis pertanian buah program dari pemerintah daerah Gunungkidul. Namun, diakui Wagiyo, program tersebut ada kegagalan tanam untuk beberapa jenis bibit buah seperti durian yang diperkirakan butuh adanya tata kepelatihan yang baik bagi anggota kelompok. Mereka berharap petani buah ini mendapat prioritas program yang terjalin dengan Yayasan Penabulu dan LSM asal Korea tersebut.

Tidak ketinggalan di Desa Bleberan, Pj. Kades Bleberan Sri Kustini juga menaruh harapan desanya lebih pesat dalam mewujudkan kesejahteraan. Desa Bleberan memiliki wisata air terjun Sri Getuk yang sudah cukup terkenal dan menjadi gantungan ekonomi warga. Hanya saja, sektor lain seperti pertanian dan peningkatan kapasitas warga dan aparatur desa masih perlu terus ditingkatkan untuk tata kelola pelayanan yang lebih baik lagi. (ETG)