Berbagi Air, Cara Petani Desa Pengkok Hidup Bersama

 

Pertemuan P3A Tirto Mulyo dalam rangka persiapan Lomba P3A Tingkat Provinsi. (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (28/5) – Air sebagai sumber kehidupan bersama. Mayoritas masyarakat petani Desa Pengkok, Patuk, Gunungkidul yang menggantungkan hidup dari bertani cukup hati-hati mengelola ketersediaan air setempat.

Kali Punthuk. Begitu masyarakat Desa Pengkok menyebut kali dengan jalur berkelok-kelok membelah desa enam dusun. Kali inilah menjadi andalan menyuplai jalur irigasi pertanian seluas 115 hektar petani tergabung dalam Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Tirto Mulyo.

Ketua P3A Tirto Mulyo Desa Pengkok Djumono mengatakan jalur perairan ini cukup menantukan nasib 450 petani di delapan blok area tanam sawah. “Kami ingin mengelola air pertanian di sini lebih baik lagi. Tidak hanya dalam merawat jalur perairan tetapi sistem pengelolaannya,” katanya.

Djumono mengaku hujan yang sempat turun dalam beberapa hari di bulan Mei memang sangat menguntungkan petani untuk mencukupi kebutuhan air untuk lahannya. Sehingga diperkirakan tidak ada persoalan ketersediaan dan cadangan air. Berbeda halnya tahun-tahun sebelumnya, hujan menghilang di bulan Maret mengawali musim kemarau memunculkan kegundahan kelompok yang dibentuk tahun 2003 dalam pengelolaan dan pembagian air secara merata.

Desa harus memiliki tata kelola air yang baik agar air benar-benar bisa sampai di lahan yang paling ujung dari jalur perairan. Salah satu cara dilakukan P3A Desa Pengkok adalah pemberlakuan sistem giliran pada saat jelang masa tanam. Pintu saluran dialirkan secara maksimal untuk setiap blok dan bergiliran blok lainnya.

Penjabat Sementara (Pjs.) Kepala Desa Pengkok Slamet mengatakan potensi air untuk pertanian tidak lepas dari potensi sumber daya alam yang dimiliki Desa Pengkok dengan adanya kali atau sungai. Pada perkembangannya, kali berkelok-kelok membelah desa ini memerlukan perhatian masyarakat bersama untuk terus menjaga dan merawat dengan baik.

Melihat kondisi cuaca saat ini yang sulit diprediksi, banyak petani Pengkok yang meyakini masa tanam ketiga (MT3) masih akan aman untuk tanaman padi yang memang termasuk tanaman memerlukan surplus air. Walaupun memang kurang baik apabila dalam satu tahun ada tiga kali masa tanam hanya satu jenis tanaman padi tanpa ada selang jenis palawija.

P3A Desa Pengkok perlu terus meningkatkan peran dan kapasitasnya dalam turut serta mesukseskan produktivitas hasil panen petani. Tak heran, perkumpulan ini juga memiliki orientasi membantu mendorong demi lancarnya pemenuhan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Dari 450 anggota P3A, baru 60 persen yang menjadi anggota aktif dan menyokong kelompok ini bisa berjalan lebih maksimal.

Berkaitan dengan jalur distribusi air pertanian yang dikelola Tirto Mulyo ini terdapat dua arah jalur, yakni jalur ke utara sepanjang dua kilometer dan jalur ke selatan sepanjang 2,5 kilometer. Arah selatan, yakni blok I, II, III, IV dan blok V tahun 2014 lalu telah menyerap kebijakan rehabilitasi pemerintah. Sepanjang 1250 meter mendapatkan rehabilitasi atas ditemukannya kerusakan bagian lantai dan dinding. Sedangkan, rusaknya saluran jalur ke utara yakni blok VI, VII dan blok VIII sepanjang sekitar 800 meter telah diajukan pemerintah untuk mendapatkan program rehab berkelanjutan tahun 2015. Program rehabilitasi jalur air pertanian dinilai cukup penting. Terlebih, ada saluran pertigaan air yang salah satunya jalur buntu memerlukan penanganan bersama agar pemanfaatan air bisa lebih optimal.

P3A Desa Pengkok berharap implementasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa nanti juga bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat petani. UU memberikan implikasi naiknya anggaran desa hendaknya bisa memacu keberadaan organisasi masyarakat seperti P3A sendiri. Selama ini ada keinginan dari kelompok P3A memiliki sekretariat untuk pusat kegiatan ratusan anggotanya. Pengurus P3A telah melirik lokasi tak jauh dari bendungan di Dusun Panjatan bisa menjadi “base camp“.

Pihak Desa Pengkok mendukung langkah kelompok masyarakat yang berencana memanfaatkan sungai untuk menumbuhkan daya tarik pariwisata minat khusus. Wisata minat khusus “Juruk” tengah disiapkan tim pengelola sebagai embrio kelompok sadar wisata yang juga telah diprioritaskan untuk bisa menyerap dana desa untuk menambah beberapa peralatan khusus untuk melayani pengunjung.(*)

Desa Pengkok, Kawan Baru “Desa Lestari”

Balai Desa Pengkok (sumber: dokumentasi lembaga)

Gunungkidul (7/5) – Pengkok merupakan desa yang berada di sisi selatan Kecamatan Patuk. Desa Pengkok terdiri dari enam dusun dengan total jumlah penduduk 3.029 jiwa. Desa wisata Pengkok memiliki wisata unggulan Jurug Gede, Watu Ireng, dan Jembatan Gantung Sungai Oya.

Wilayah ini memiliki pemandangan alam yang khas pedesaan. Sebagai salah satu Rintisan Desa Wisata yang ada di Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul akan terus tumbuh dan berkembang lebih baik. Jurug Gede menjadi salah satu icon wisata rafting di Gunungkidul dan menjadi salah satu tempat latihan Tim SAR. Pengelolaan obyek wisata berbasis masyarakat diyakini dapat mendorong peningkatan kesejahteraan Desa Pengkok, walaupun selama ini pengelolaannya masih dilakukan kelompok sadar wisata.

Sebenarnya Desa Pengkok memiliki banyak potensi yang dapat diberdayakan. Tanaman bambu tumbuh subur di Dusun Srumbung, kemudian diawetkan di Dusun Pengkok. Hasil pengawetan bambu khas Pengkok sudah banyak peminatnya dari luar Gunungkidul. Pemasaran bambu awetan hingga Kebumen dan Bandung. Sayangnya kelompok pengelola usaha bambu awetan belum mampu memproduksi menjadi barang siap pakai (furniture) yang memiliki nilai jual tinggi.

Anak-anak Desa Pengkok sepulang sekolah (sumber: dokumentasi lembaga)

Pada persiapan pelaksanaan regulasi desa yang baru, Pemerintah Desa Pengkok merasa belum mendapatkan informasi yang komprehensif tentang penerapan aturan baru dan belum tersosialisasikan pada lembaga-lembaga dan masyarakat. Di sisi lain, desa perlu menyadari jika pemetaan aset menjadi hal yang sangat penting mengingat seluruh regulasi tentang desa mengharapkan adanya partisipasi masyarakat. Ada banyak kebutuhan mendesak untuk penyelenggaraan tata pemerintahan desa seperti sosialisasi regulasi desa yang melibatkan perangkat desa, pengurus lembaga-lembaga desa, dan masyarakat.

“Yang paling dibutuhkan sistem pembukuan, karena sekarang laporan dituntut lebih detail,” ujar Yani, Sekretaris Desa Pengkok.

Rupanya bukan hanya sistem pembukuan dan keuangan yang menjadi hal penting untuk ditindaklanjuti oleh Desa Pengkok. Potensi kebudayaan yang masih terjaga, pariwisata, hasil alam khas desa merupakan beberapa pijakan yang dapat dikembangkan untuk kemajuan desa. Karena pada saat perencanaan pembangunan (Musrenbangdes), masyarakat telah bersepakat untuk mengutamakan pembangunan nonfisik (penguatan kapasitas, pelatihan, dan lain-lain).

“Jika kapasitas masyarakat kuat, maka pembangunan fisik akan mampu diupayakan secara mandiri,” tutur Slamet, Pjs. Kepala Desa Pengkok. (*)