11 Desa di Sulawesi Tenggara Berpacu Menuju Transparansi Pengelolaan Keuangan Desa

Sulawesi Tenggara (18/4) – Sejak tahun anggaran 2015, UU Desa telah berlaku secara efektif, disertai regulasi pendukungnya seperti Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), Peraturan Menteri Desa dan PDTT (Permendes), serta peraturan lain di tingkat provinsi dan kabupaten. Desa mulai menjalankan roda kehidupannya secara mandiri dan partisipatif. Bahkan dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa secara tegas menyatakan jika pengelolaan keuangan desa harus dilaporkan secara transparan, akuntabel, partisipatif, dan efektif.

Yayasan Penabulu turut memberikan perhatian dan kepedulian pada pemberdayaan desa, salah satunya dengan memfasilitasi kebutuhan tata kelola keuangan desa. Bekerjasama dengan PT Reksta yang melahirkan aplikasi SIAP Desa.

Tim Keuangan Desa Yayasan Penabulu memfasilitasi pelatihan pengelolaan keuangan desa bagi delapan desa mitra IDRAP dan tiga desa yang berpotensi menjadi mitra IDRAP di Sulawesi Tenggara. Kesebelas desa tersebut adalah Andinete, Bahaba, Baluara, E’e Rinere, Labuan Bajo, Lambagi, Lasiwa, Matalagi, Pongkowulu, Waworano dan Wawonga Jaya.

IDRAP sebagai lembaga pendamping dan pemberdaya desa di Sulawesi Tenggara berharap para perangkat desa mitranya sadar akan pentingnya pelaporan keuangan yang baik, mengacu pada regulasi yang sudah baku.

“Desa sekarang harus punya laporan keuangan desa yang baik dan transparan sesuai Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Jadi laporan keuangan diumumkan di area publik yang ada di desa, misalnya di papan pengumuman desa atau masjid,” tegas Direktur IDRAP Bahaludin.

Pelatihan Pengelolaan Keuangan Desa yang berlangsung selama tiga hari pada 2-4 Februari 2016 lalu difasilitasi oleh Ahmad Sofyan dan Maya Fathia. Selama pelatihan fasilitator menjelaskan mengenai prinsip dasar pengelolaan keuangan desa dalam perspektif UU Desa, perencanaan keuangan desa, dan pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa.

Uki, panggilan akrab Ahmad Sofyan, juga memaparkan mengenai peraturan pajak yang berlaku terhadap desa. Kini, desa perlu lebih detil dalam memperlakukan, menghitung, dan menyetor pajak-pajak yang menjadi kewajiban desa, yaitu pajak penghasilan (PPH) dan pajak pertambahan nilai (PPN).

Pada salah satu sesi akhir, Uki menjelaskan tentang potensi-potensi penyalahgunaan dana yang dikelola desa. “Dalam pengelolaan dana, ada beberapa potensi yang akhirnya dianggap sebagai penyalahgunaan. Misalnya kesalahan karena ketidaktahuan pada mekanisme, pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai rencana, atau ketidaksesuaian spesifikasi yang tidak disertai rekomendasi solusi dan penanganan yang tepat. Hal-hal tersebut sebaiknya jangan sampai terjadi agar tidak menjadi catatan penyalahgunaan anggaran,” ujar Uki.

Selama pelatihan peserta langsung mempraktikkan cara menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) hingga menjadi APBDes, penatausahaan keuangan desa dan tata cara pelaporan per semester dan per tahun menggunakan aplikasi SIAP Desa. Maya memandu peserta sejak mulai meng-install, memperkenalkan menu-menu yang ada dalam aplikasi dan mencocokkan dengan keluaran laporan di masing-masing bagian.

Aplikasi SIAP Desa merupakan salah satu alat untuk tata kelola keuangan desa yang formatnya sudah sesuai dengan Permendagri Pengelolaan Keuangan Desa. Sebagai sebuah aplikasi, SIAP Desa dapat menjadi alternatif bagi desa untuk menyusun laporan keuangan secara offline, karena tidak membutuhkan jaringan internet untuk operasionalisasinya. Usai pelatihan, para peserta membawa aplikasi SIAP Desa untuk digunakan di desa masing-masing sebagai pendukung pengelolaan keuangan desa. (AS/MF)

Kembangkan PGPR, Slamet Raup Panen 10 Ton per Hektar

Gunungkidul (18/4) – Masyarakat masih dapat melihat hamparan padi di lahan sawah saat mengelilingi Desa Ponjong, Gunungkidul. Juga, para petani yang mengolah lahannya dengan bangga. Salah satunya Slamet, petani Dusun Sumber Kidul, yang masih mampu mengolah sawahnya hingga menghasilkan padi 10 ton per hektar, dimana rata-rata produktivitas petani lain hanya 5-6 ton per hektar.

Di usianya yang menjelang senja, Slamet bukan hanya petani yang pasrah pada keadaan. Slamet adalah salah satu tokoh petani di Desa Ponjong yang rajin mengembangkan inovasi dan teknologi budidaya.

Tidak ada yang dirahasiakan oleh Slamet. Sebagai penyuluh swadaya, dirinya dengan sabar membeberkan rahasia agar petani dapat meningkatkan produktivitasnya. “Seorang petani jangan jadi petani yang monoton. Harus dihitung untung ruginya. Hasil panen yang kita dapat dalam tiga kali masa panen harus dihitung dan dibandingkan dengan biaya yang kita keluarkan. Itu semua harus dihitung. Ya, kalau hanya dapat 5-6 ton per hektar namanya rugilah,” katanya.

Slamet menambahkan jika mau meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian padinya, sebagai petani harus memperhatikan pertumbuhan tanaman padi sejak masa tanam hingga panen. Salah satunya dengan mengembangkan inovasi agar tanaman padinya tumbuh dengan mempunyai postur yang kuat. “Batang dan akar yang harus kuat bukan hanya daun yang hijau saja, agar malainya jangan sampai kopong,” tegas Slamet.

Slamet tak tinggal diam ketika diperkenalkan cara membuat Plant Growth Promoting Rhizobacterial (PGPR) atau bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang. Sebagai Ketua Kelompok Tani ‘Tani Rukun’ Dusun Sumber Kidul, Slamet menguji coba PGPR untuk lahannya sendiri.

“Agar tanaman padi kita kuat dan malainya panjang harus diberikan pemacu pertumbuhan tanaman yang dinamakan PGPR dan untuk membuat PGPR bahan-bahanya bisa ditemukan disekitar kita seperti akar bambu dan akar putri malu,” tuturnya.

Bakteri pemacu pertumbuhan akar dan batang sangat penting bagi tanaman pertanian karena PGPR merupakan agen hayati yang mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman, serta meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.

Penyuluh Pertanian Desa Ponjong Heru Prasetya Juga menjelaskan mekanisme PGPR dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan ketahanan tanaman. PGPR sebagai bakteri baik mampu memproduksi zat pertumbuhan tanaman (ZPT), mampu melarutkan fosfat sehingga bisa meningkatkan efisiensi pemupukan, memproduksi antibiotik, memproduksi siderofor yang meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan meningkatkan produksi senyawa pertahanan tanaman.

Heru menambahkan ada penelitian yang menyebutkan jika kandungan pupuk organik tanah di Desa Ponjong kurang dari dua persen. Untuk meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya maka petani perlu meningkatkan penggunaan pupuk organiknya. Pupuk organik merupakan penyubur tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

“Kebutuhan pupuk organik per hektarnya minimal 2 ton. Jika bisa lebih banyak akan semakin baik dan inputan pupuk kimia bisa dikurangi, sehingga terjadi peningkatan hasil panen,” pungkas Heru. (ES)

Melimpahnya Limbah Pertanian jadi Berkah untuk Petani dan Ternak Ponjong

Gunungkidul (18/4) – Sebanyak 40 petani di Ponjong mengikuti pelatihan pengolahan limbah pertanian pada 11-12 April 2016 di kediaman Ketua Gapoktan Desa Ponjong. Pelatihan ini merupakan rangkaian dari kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat di bidang pertanian dalam skema kerjasama antara Desa Ponjong dengan Saemaul Globalization Foundation (SGF) dan Yayasan Penabulu.

Koordinator Relawan SGF Wilayah Gunungkidul Choi Ho Jun mengatakan pelatihan ini bertujuan menjawab kebutuhan petani dan peternak di Desa Ponjong agar mampu memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. “Saya melihat banyak sekali potensi limbah pertanian di Desa Ponjong ini seperti jerami padi, batang jagung, tongkol jagung, kulit kacang dan masih banyak lagi yang belum dioptimalkan menjadi pakan ternak, padahal kalau dimanfaatkan para peternak,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Eko Sujatmo, Staf Pemberdayaan Desa Yayasan Penabulu, yang juga mengamati banyak sekali potensi limbah pertanian di Ponjong. Namun pada saat musim kemarau masih banyak mendatangkan pakan ternak dari luar desa bahkan dari Klaten, Jawa Tengah.

“Limbah pertanian di Desa Ponjong ini sangat melimpah, apalagi sebagian besar petani bisa panen padi sawah tiga kali. Kalau limbah pertanian ini diolah dengan fermentasi bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak bagi petani di Desa Ponjong,” kata Eko.

Pelatihan pengolahan limbah pertanian ini menyasar para petani yang tersebar di 11 pedukuhan Desa Ponjong yang mempunyai ternak sapi maupun kambing. Selain berlatih membuat pakan ternak fermentasi, dalam pelatihan tersebut juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik padat dari kotoran sapi. Selama dua hari pelatihan, peserta memadukan teori dan praktik, sehingga pemahaman peserta bersifat komprehensif dan kegiatan jauh dari kata membosankan.

Untung Premadi, pakar peternakan dari Balai Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Ponjong menjelaskan jerami dan limbah pertanian lainnya dapat difermentasi menggunakan ragi jerami dan diawetkan menjadi pakan sapi dan kambing. Ada beberapa cara petani mengawetkan jeraminya untuk cadangan pakan di musim kemarau antara lain jerami dikeringkan dan ditumpuk di lahan pertaniannya, atau disimpan di kandang. Apabila tidak sempat mengeringkan jeraminya, maka jerami dapat langsung difermentasi dalam kondisi basah.

Adi Muryanto, salah satu petani dari Dusun Serut, mengaku sangat senang karena mendapat ilmu bagaimana cara mengawetkan limbah pertanian menjadi pakan ternak. Dusun Serut merupakan wilayah yang kering, sehingga ketersediaan makanan ternak sangat terbatas di saat musim kemarau.

“Limbah pertanian di wilayah kami saat musim hujan sangat melimpah, ini menjadi berkah tersendiri bagi kami petani yang semuanya mempunyai ternak. Makanya kami senang jika mendapat pelatihan seperti ini, jadi bisa memanfaatkan limbah-limbah yang biasanya tidak terpakai,” kata Adi.

Pada kesempatan yang sama, Rudi, peternak kambing dari Dusun Sumber Kidul berharap agar setelah pelatihan ini ada pendampingan yang intensif agar para peternak bisa beternak dengan baik dan benar. Peternak yang mempunyai 20 ekor kambing ini sedang memulai usahanya dan mengatakan kalau selama ini peternak tidak tahu bagaimana memberikan pakan yang bermutu bagi kambingnya bisa mengalami kerugian.

“Saya sebagai peternak sudah sering mendapatkan pelatihan seperti ini namun belum pernah ada pendampingan. Sebenarnya kami ingin hasil praktiknya diberikan kepada kambing dan sapi kami untuk percobaan. Kalau bagus pasti semua petani akan mengikuti,” tandasnya. (ES)