Meningkatkan Peran Perempuan pada Pertanian dan Pangan Lewat Kelompok Wanita Tani

Sektor pertanian masih menjadi penopang utama hidup masyarakat desa. Pada Februari ini, petani Gunungkidul memasuki masa panen palawija dan padi. Hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning menghiasi desa-desa. Di balik hamparan padi yang menguning, terlihat perempuan-perempuan sedang bekerja memanen padi.

Perempuan-perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Subur, Dusun Natah Wetan, Natah,  Gunungkidul  bergotong-royong memanen padi di lahan sawah bengkok milik Kepala Dusun. Ketua KWT Ngudi Subur Purwanti menuturkan perempuan-perempuan yang tergabung dalam kelompoknya saat musim tanam dan panen selalu bekerja bersama-sama, bergantian dari anggota satu ke anggota yang lain. Bekerja secara gotong royong bukan hanya meminimalisir budidaya pertanian tapi juga menjaga tradisi leluhur masyarakat desa.

“Menjadi anggota KWT sangat menguntungkan karena bekerja dengan gotong royong bisa lebih cepat selesai, bekerja saling bergantian, tidak dibayar,” kata Purwanti yang juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Natah.

Melalui KWT, Purwanti selalu giat menggerakkan anggotanya untuk bekerja. Menurutnya sebenarnya perempuan sangat berperan dalam  usaha budidaya pertanian. “Sejak menyiapkan benih, menanam, menyiangi hingga masa panen tiba, ibu-ibu selalu ambil peran, bahkan lebih banyak dari kaum laki-laki,” ungkapnya.

Kepala Dusun Natah Wetan Sarno mendukung sepenuhnya peran perempuan desa sesuai kemampuannya dalam bidang pertanian dan pangan. Karena sosok perempuan menjadi pengatur lalu lintas pangan dalam keluarga. “Kalau perempuan tidak dlibatkan, ancamannya adalah kerawanan pangan,” kata Sarno.

Purwanti dengan optimis menegaskan jika peran KWT berdampak jangka panjang terhadap pertanian. “Perempuan sebagai pemelihara dan pelestari keanekaragaman pangan. Perempuan sejak turun temurun mengambil peran yang sangat penting dalam urusan pertanian  dan pangan,“ ujarnya.

Fasilitator Desa Lestari Eko Sujatmo menyebut revolusi hijau perlahan mengubah semua peran kaum perempuan atas urusan pangan. Semua kegiatan pertanian selalu diimplementasikan dalam paket proyek seperti benih, pupuk dan sarana produksi pertanian lainya. Hal ini menggusur semua peran mulia kaum perempuan dalam urusan pangan. Bahkan, penyuluh pertanian juga didominasi oleh kaum laki-laki saja, kaum perempuan kurang dilibatkan.

Eko berharap petani perempuan tidak boleh merasa senang jika mendapatkan raskin atau bantuan benih. ”Dulu perempuan selalu menyimpan benih, tapi sekarang lebih mengharap bantuan pemerintah dan beli di toko pertanian,” kata Eko. (ES)

Kecamatan Nglipar Punya Relawan Muda Penggerak Desa

Denyut pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih dirasa berat sebelah. Zona utara Gunungkidul perlu mendapat perhatian lebih pemerintah setempat untuk meratakan pembangunan perekonomian. Dibutuhkan peran pemuda memberi berbagai pemikiran dan gagasan serta partisipasi agar semakin mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih maksimal.

Menyadari akan hal itu, sebanyak 25 pemuda Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, berkumpul dan mulai menata rencana nyata untuk berperan dan terlibat dalam gerak pembangunan pedesaan sebagai relawan. Pertemuan pemuda perwakilan dari enam desa, yakni Desa Pilangrejo, Natah, Kedungpoh, Katongan, Nglipar, dan Pengkol, menjadi titik awal menemukan relawan-relawan muda yang hendak menjalin kerja sama pemerintah desa masing-masing memajukan potensi yang dimiliki desanya.

Pertemuan perdana melalui kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bagi Kaum Muda Desa berlangsung di Balai Desa Nglipar selama lima hari pada 18-22 Januari 2018. Beberapa materi diberikan pemuda Nglipar sebagai bekal kemampuan diri, membentuk perspektif positif pembangunan, mengolah ketrampilan diri oleh fasilitator yang diterjunkan tiga lembaga nirlaba yakni Perkumpulan Desa Lestari, The Head Foundation, dan JUMP! Foundation. Desa Lestari dan JUMP! Foundation membagi banyak ilmu dan berbagi pengalaman dalam membentuk kepemimpinan kaum muda dengan mendatangkan pegiat pembangunan mentalitas kaum muda dari Amerika, India, dan Beijing dan berbagi ketrampilan teknik fasilitasi.

Aktivis kepemudaan Desa Nglipar Ida Ayu mewakili Desa Pilangrejo mengatakan metode pelatihan kepemimpinan cukup relevan menjawab kelesuan pemuda di Kecamatan Nglipar.

“Ironis, rendahnya kiprah pemuda saat ini terjadi ditengah desa-desa sedang gencar melaksanakan pembangunan dari implementasi UU Desa. Hendaknya ini era pemuda bahu membahu tampil dalam gerak pembangunan desa,” kata Ida yang juga anggota Karang Taruna Kecamatan Nglipar.

Ida optimis melalui kegiatan kepelatihan pemuda ini akan efektif mengubah cara pandang pemuda agar tidak sekadar menjadi penonton pembangunan desanya. Dirinya juga mengaku memang bukan persoalan mudah bisa mengubah cara pandang pemuda desa yang masih perspektif kerja adalah meninggalkan desa dan beradu nasib di kota-kota besar.

“Pelatihan ini mampu meyakinkan kami desa sebagai pusat perekonomian yang masih cukup terbuka bagi pemuda menemukan sumber pendapatan,” ujarnya.

Tidak adanya lapangan pekerjaan di desa, lanjut Ida, menjadi persoalan besar di Kecamatan Nglipar. Hanya saja, pelatihan ini mendorong pemuda untuk lebih kreatif untuk menemukan peluang-peluang usaha yang lebih produktif, tanpa meninggalkan peran serta tanggungjawab di desanya.

Senada diungkapkan Suyadi, salah satu peserta dari wirausaha muda desa, mengaku jatuh bangun merintis usaha mandiri pembuatan tusuk sate. Menurut Suyadi, sebenarnya banyak potensi desa yang dapat dikelola pemuda sebagai kegiatan yang “menghasilkan”, baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok.

“Pertemuan pelatihan ini menjadi ajang untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kreativitas pemuda itu sendiri. Saya cukup puas,” ungkap perajin tusuk sate dari bambu yang menemukan pasar internasional dan terpilih penerima supporting usaha kelompok.

Fasilitator pelatihan dari Desa Lestari Eko Sujatmo mengatakan pelatihan ini memberi ragam materi pemuda agar lebih siap untuk berkiprah sebagai relawan-relawan pembangunan desa. Dari kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Bagi Kaum Muda Desa ini, terurai beberapa permasalahan desa dan pemuda berikut solusinya yang hendak dikerjakan peserta setelah kembali ke desa.

Berikut potensi desa ditemukan sebagai peluang usaha pemuda Nglipar.

  1. Produk Gula Jawa Pilangrejo, hasil assesment kelompok pemuda Pilangrejo menemukan adanya perajin gula jawa di Desa Pilangrejo. Produksi gula jawa masih eksis dan cukup potensial dikembangkan sebagai salah satu icon Nglipar, baik sebagai daya dukung pengembangan pariwisata desa maupun gerakan konsumsi makanan dan minuman seduhan sehat seperti muniman seduhan tradional gula jawa jahe serta optimalisasi produk lokal Gunungkidul di seluruh pasar.
  2. Produk pertanian Hidroponik Nglipar, hasil assesment kelompok menemukan tingginya pasokan kebutuhan pangan sayuran setiap hari yang harus bergantung dari produk luar daerah untuk memenuhui kebutuhan pangan lokal Gunungkidul. Teknik pertanian hidropinik dipandang sebagai salah satu langkah yang bisa dirintis sebagai gerakan pemuda bertani untuk peran partisipasi mewujudkan kadaulatan pangan.
  3. Produk usaha tusuk sate Natah, kelompok ini menggali potensi besar tanaman bambu yang masih banyak di desa untuk dioleh sebagai produk tusuk sate. Adanya jalur pemasaran yang sudah menembus pasar internasional dengan permintaan pasar yang cukup tinggi memberikan peluang terbuka bagi pemuda untuk menggerakkan masyarakat sebagai sentra industri tusuk sate bambu Natah dengan tetap menjaga kelestarian alam.
  4. Konservasi tanaman cendana, kelompok assesment Pemuda Desa Pilangrejo menemukan potensi luasnya ketersediaan lahan pertanian dan hutan rakyat, salah satunya untuk konservasi tanaman lindung jenis cendana. Konservasi cendana dipandang cukup memberi harapan pemuda untuk pelestarian bersama dengan kelompok tani sebagai daya dukung pewarna produk perajin batik tulis lokal. Seiring dengan langkah konservasi cendana, produk batik tulis yang kian merebut pasar industri kreatif baik skala nasional maupun internasional.
  5. Pengelolaan sungai sebagai daya dukung kuliner, Kedungpoh, berada di kawasan kali, kelompok asessment pemuda mendapatkan belum optimalisasi Sungai Oya. Sungai masih sebatas digunakan sebagai jalur aliran air sehingga perlu terobosan baru untuk lebih dikelola secara produktif bagi pemuda. Ikan Wader, yang banyak ditemukan di Kali Oya dinilai sebagai potensi olahan kuliner yang dipandang mampu meraih pasar. Tentu menuntut kreativitas pemuda untuk siap mengolahnya lebih kaya sebagai produk makanan olahan seperti wader goreng, rempeyek, balado wader, dan jenis lainnya. (ETG)

Bangun BUMK, Kampung Sumber Agung Berau Manfaatkan Rumput Laut

Meski kampung tak memiliki aset laut, potensi kekayaan laut Indonesia menjadi harapan sekaligus masa depan yang baik untuk diolah sebagai sumber penghidupan. Kampung Sumber Agung, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melirik potensi rumput laut. Kini mereka tengah mengembangkan rumput laut sebagai produk unggulan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). 

Tim Desa Lestari mendapatkan kesempatan dari Yayasan Peduli Konservasi Alam (PEKA) Indonesia untuk mengunjungi kampung yang berada di tengah perkebunan sawit selama sepekan. Kedatangan Tim Desa Lestari tidak lain untuk memperkuat peran BUMK Mandiri Sejahtera yang belum genap dua bulan dibentuk Pemerintah Kampung. 

Pemanfaatan rumput laut diyakini dapat lebih maksimal untuk mendukung keragaman produk olahan hasil laut. Produk tersebut dapat memperkuat perekonomian kampung.

Sekretaris Kampung Sumber Agung Suparno Edi mengaku senang BUMK Sumber Agung berani menaruh perhatian pada produk hasil laut. Menurutnya, upaya BUMK melirik potensi laut yang terletak sekitar enam kilometer dari kantor desa bukan tanpa alasan. Selama ini wilayah Berau, khususnya Batu Putih, diakui melimpah hasil ikan laut. Akan tetapi, potensi hasil laut seperti rumput laut belum banyak digarap.

“Kami berharap teman-teman Tim Desa Lestari dan PEKA dapat memperkuat bidikan BUMK yang dijalankan anak-anak muda kampung kami,” ujar Suparno saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (16/11) lalu. 

Suparno mengaku peran BUMK di Sumber Agung masih perlu diperkuat organisasi agar perannya terasa dalam pembangunan perekonomian pedesaan atau kampung melalui wirausaha kampung. “Dengan demikian gerak pembangunan fisik dan ekonomi bisa seiring sejalan,” imbuhnya. 

Kampung Sumber Agung memiliki perhatian besar terhadap BUMK. Umumnya kampung dan desa lain, Sumber Agung juga mulai menyiapkan penyertaan modal awal untuk mendorong kiprah BUMK Mandiri Sejahtera untuk tahun anggaran 2018 nanti.

Pada kesempatan diskusi dengan Tim Desa Lestari, Direktur BUMK Mandiri Sejahtera Hedi Darmawan merasa beruntung dengan adanya kemitraan dengan pihak ketiga seperti LSM. Pasalnya, meskipun BUMK yang dipimpinnya sebulan lalu belum mendapatkan anggaran kampung, tetapi sudah melakukan “pemanasan”dengan adanya Konsorsium PEKA di kampungnya. BUMK sudah memulai usaha produksi olahan hasil laut seperti kerupuk, dodol dan terasi.

Menurut Hedi, produk kerupuk, dodol, dan terasi asli Sumber Agung dengan bahan utama rumput laut dan udang rebon bukan hanya khas. Produk makanan asli kampung yang memanfaatkan kekayaan hasil laut Indonesia diolah tangan-tangan kreatif kelompok perempuan Sumber Agung dan dipasarkan BUMK mulai disambut antusias warga masyarakat.

“Tiga produk kami coba ternyata laris manis dibeli masyarakat kampung sendiri dan beberapa juga kampung tetangga. Ini pertanda pelung usaha baik bagi kelompok perempuan juga BUMK sendiri,” kata Hedi.

Hedi mengaku saat ini memang bahan baku rumput laut dan udang rebon untuk produksi ketiga icon kampung Sumber Agung masih bergantung dari kampung lain yakni Batu Putih. Dirinya khawatir ketergantungan bahan dari luar kampung Sumber Agung kedepan mengundang persoalan tersendiri dalam laju kesinambungan usaha kerupuk dan dodol yang tengah “naik daun”. 

Produksi kerupuk, dodol, dan terasi akan terus berjalan seiring dengan program BUMK bersama Pemerintah Kampung dan Konsorsium PEKA yang mulai memikirkan perlunya gerakan budidaya rumput laut sebagai wujud keswadayaan dan kemandirian kampung.

“Sambil tetap menjalankan produksi yang sudah jalan, kedepan kami ingin rumput laut bisa kami hasilkan sendiri dari teman-teman kelompok nelayan,” lanjut Ratna Sari, pemudi setempat yang aktif terlibat dalam kiprah Konsorsium PEKA.

Budidaya penanaman rumput laut pertama memang pernah gagal karena serangan penyu. Namun PEKA dan kelompok nelayan pantang menyerah. Konsorsium terdiri dari Yayasan PEKA Indonesia, Yayasan Lamin Segawi, Yayasan Penyu Berau, Pemerintah Kabupaten Berau, yang didukung oleh Millennium Challenge Corporation Account-Indonesia (MCCAI) kini kembali memprakarsai budidaya rumput laut dengan kelompok nelayan setempat sebagai salah satu daya dukung kemandirian memproduksi rumput laut kampung.

Awak pengurus BUMK sendiri secara khusus menyaksikan langsung penanaman rumput laut sebanyak 3,1 ton dari Bontang. Dibutuhkan waktu selama tiga hari pemasangan bibit rumput laut yang 45 hari kedepan hendaknya sudah bisa panen perdana.

Sembari menunggu hasil panen budidaya rumput laut, BUMK Mandiri Sejahtera memperkuat lembaga. Tim Desa Lestari sebagai mitra membantu BUMK Mandiri Sejahtera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) melalui Focus Group Discussion (FGD) pengurus BUMK. Adanya SOP nantinya membuat pengelolaan BUMK berjalan dengan baik dan terarah.

Tak terkecuali, tetangga Sumber Agung yakni Kampung Giring-Giring, di Kecamatan Biduk-Biduk, juga mempersiapkan SOP BUMK guna mendukung laju industri kreatif kampung seperti produksi minyak kelapa, pengolahan serabut kelapa dan usaha layanan simpan pinjam untuk memperkuat permodalan pegiat usaha kecil menengah Giring Giring.

Tak hanya BUMK Mandiri Sejahtera di Kampung Sumber Agung, kampung tetangga juga turut memperkuat lembaga kewirausahaan desa. Kampung Giring-giring di Kecamatan Biduk-biduk mempersiapkan SOP BUMK guna mendukung laju industri kreatif. Beberapa usaha dari industri kreatif antara lain minyak kelapa dan pengolahan serabut kelapa. Selain itu, ada juga usaha layanan simpan pinjam untuk memeprkuat modal pegiat usaha kecil menengah di Giring-giring.

Konsorsium PEKA tengah mengupayakan sumber listrik untuk mendukung pelaku usaha dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampung Sumber Agung dan Giring-giring.

Executive Committee Yayasan PEKA Indonesia Farhan memastikan Desember 2017 mendatang ada penambahan pasokan listrik tenaga surya di dua desa yang saat ini sedang dikebut untuk daya dukung sektor usaha kecil. PEKA dalam beberapa tahun menaruh perhatian besar kedua kampung di Berau ini agar geliat perekonomian semakin terlihat tumbuh sejalan dengan semangat pemerintah menempatkan desa dan kampung garda depan  pembangunan sebagaimana amanat UU Desa.

Selain pembangunan fisik, pembangunan nonfisik juga PEKA lakukan seperti pelatihan kewirausahaan baik kelompok pelaku usaha kecil, pegiat induatri kreatif, kelompok nelayan, pedagang, wirausaha muda. Sebanyak 100 ribu bibit kelapa hibrida rencananya akan ditanam di kawasan sebagai upaya peremajaan kelapa lokal. (ETG)

Kembangkan Potensi Desa Asia Baru dengan Purun

Sebagian besar masyarakat masih asing dengan purun, tumbuhan liar yang sekilas mirip dengan rumput. Purun tumbuh di rawa gambut, salah satunya di Pulau Kalimantan. Keberadaan purun pun kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan dasar anyaman yang dibentuk menjadi berbagai kerajinan. Sehingga anyaman purun pun menjadi ciri khas daerah tersebut.

Sebelumnya, purun dimanfaatkan sebagai pakan kerbau rawa. Usai melihat potensi purun sebagai bahan dasar kerajinan, tumbuhan itu pun dikembangkan. Purun siap panen setelah 18 bulan penanaman, kemudian purun dijemur dan ditumbuk. Setelah itu purun diolah lebih lanjut menjadi berbagai kerajinan.

Salah satu desa yang mengembangkan purun adalah Desa Asia Baru. Desa tersebut terletak di Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Desa Asia Baru dikenal memiliki kualitas purun terbaik dan mampu menghasilkan purun dalam jumlah besar.

Masyarakat Desa Asia Baru menjadikan purun sebagai salah satu sumber tambahan penghasilan rumah tangga. Mereka menganyam purun menjadi tikar yang kemudian dijual ke wilayah lain, baik di dalam maupun luar Pulau Kalimantan. Sayangnya, harga jual tikar tidak sebanding dengan proses pembuatannya.

“Masyarakat di desa kami (Asia Baru) mengolah purun menjadi anyaman tikar, tetapi masih tikar mentah. Tapi ya itu, harga per tikar Rp3.500 sampai Rp4.000,” ujar Fasilitator Desa BRG untuk Desa Asia Baru Egas Das Meves.

Seorang perajin purun mampu menganyam hingga sepuluh lembar tikar berukuran 2×3 meter dalam sehari. Artinya, penghasilan maksimal yang dapat diperoleh hanya Rp40.000 saja. Nilai jual tersebut tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk memproduksi tikar purun. Egas mengakui proses pembuatan tikar mentah lebih cepat, sehingga juga lebih cepat mendatangkan uang daripada membuat produk lain.

Lokasi Desa Asia Baru di tepi Sungai Barito membuat akses transportasi terbatas. Hanya jalur sungai yang tersedia. Selain jalur sungai, akses ke desa tersebut terkadang menjadi kendala. Hal tersebut turut menghambat inovasi produk. Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Asia Baru menempatkan purun sebagai potensi utama desa untuk dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Kami memilih tanaman purun sebagai usaha yang ingin dikembangkan oleh BUMDes nanti setelah selesai pelatihan ini. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjaual purun berbentuk tikar mentah saja tetapi juga menjadi tas, dompet, topi yang cantik. Agar nilai jualnya lebih tinggi,” ujar Jura’i saat mempresentasikan rencana usaha BUM Desa dalam Pelatihan Pengembangan BUM Desa bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan.

Jura’i berharap berdirinya BUMDes di Asia Baru dapat memberikan perubahan yang positif untuk kesejahteraan masyarakat. Khususnya perubahan pada kapasitas sumber daya manusia, memberikan pemahaman lebih tentang inovasi pengolahan tanaman purun yang nantinya dapat meningkatkan nilai jual tanaman purun dan penghasilan tambahan keluarga.

Desa Asia Baru adalah salah satu dari 36 desa peserta Pelatihan Pengembangan BUMDes yang berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Kegiatan pelatihan yang difasilitasi Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerjasama dengan Yayasan Penabulu dan Desa Lestari, bertema Mengungkit Potensi Desa untuk Membangun Ekonomi Desa di Kawasan Gambut. Pelatihan yang digelar 2-7 Oktober 2017 lalu bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya BUMDes bagi keberlangsungan perekonomian desa dengan melihat potensi desa yang bernilai sosial dan ekonomi. Setiap desa memiliki keunikan, potensi dan peluang masing-masing. Demikian pula desa-desa yang berada di kawasan gambut yang pernah menjadi amukan kebakaran hutan tahun 2015, mereka berhak bangkit, mandiri, dan menjalankan roda perekonomian dengan tetap menjaga kelestarian kawasan gambut. (IN)

Produk Kerajinan Rotan Kalumpang Masih Curi Perhatian

Jika selama ini bahan rotan untuk kerajinan mulai hilang dari masyarakat di Pulau Jawa, tidak demikian yang terjadi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Rotan masih tersedia cukup banyak. Desa Kalumpang, salah satu daerah di Mantangai, merupakan daerah penghasil rotan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kerajinan dan industri.

Melihat potensi sumber daya alam tersebut, Pemerintah Desa Kalumpang melirik rotan sebagai daya dukung dalam pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) seperti amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Kepala Desa Kalumpang Maza menuturkan desanya sebagai salah satu penghasil rotan. 

“Di kebun pekarangan rumah warga selalu ada rotan. Ini yang kami tangkap sebagai potensi untuk mendukung usaha BUMDes nanti. Dari rotan ini kami bercita-cita desa kami muncul ragam kerajinan rotan dan hidup banyak wirausahawan,” kata Maza melengkapi paparan desanya pada kegiatan yang dilaksanakan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada 2-7 Oktober 2017 di Banjarbaru.

Maza berharap dengan berdirinya BUMDes di Kalumpang tidak meninggalkan potensi rotan yang ada. Justru nantinya rotan bisa membuat desa semakin eksis dengan melahirkan produk-produk kreatif berbahan rotan khas Kalumpang. Mengingat rotan adalah bahan multiguna, baik untuk bahan pendukung produksi meja, kursi dan jenis meleber, dan ragam produk yang lain.

Pengurus BUMDes Kalumpang yang lain mengatakan masyarakat desa sudah cukup terlatih mengolah hasil produksi kebun. Hanya saja, potensi masyarakat dan sumber alam tersebut belum terkoordinasi dengan baik. Maka BUMDes Kalumpang yang terbilang masih baru akan fokus pada pemanfaatan rotan.

“Berkat menjalin berbagai jaringan sekarang sudah mulai kamu temukan jalur pemasaran seperti pariwisata Bali dan beberapa hotel di Kalimantan yang sudah mulai ada komunikasi,” kata Asbudi.

Selama ini rotan yang diolah warga Kalumpang melalui proses pemotongan sesuai kebutuhan untuk melayani pesanan produk kerajinan. Kerajinan rotan menghasilkan tikar, tas, topi, rak buku, almari, pigura, juga meja dan kursi. Namun produk-produk tersebut belum dapat menembus pasar yang skala permintaannya rutin. BUMDes berkomitmen mengajak masyarakat Kalumpang tidak sekadar menjual bahan mentah ke luar, tetapi menjual produk kerajinan yang sudah jadi sehingga produksi yang dilakukan di desa lebih menjamin  sistem pemberdayaan juga lapangan kerja kreatif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun berbagai pihak, peralatan ibadah bagi umat muslim seperti sajadah berbahan rotan dengan corak anyaman yang cukup menarik saat ini, bahkan sudah mulai merambah negara tetangga Malaysia.

“Harganya pun selembar menembus Rp250.000. Ini kalau dikerjakan desa tentu perputaran uang tidak keluar. Tinggal memperkaya referensi teman-teman desa dalam produksi dengan memperbanyak ruang pelatihan di desa,” ujar fasilitator desa dari BRG Iswadi.

Fasilitator lain dari BRG untuk Desa Kalumpang Nurhidayah menambahkan jika produk kerajinan rotan yang paling terkenal dan sedang dipromosikan adalah anyaman batang garing. Anyaman rotan ini khas desa Kalumpang Kapuas cukup menarik. Malah beberapa daerah seperti Bali sudah mulai mengkomunikasikan kerjasama dengan pihak desa.

“Produk kerajinan rotan desa ini mulai mencuri perhatian hotel. Tinggal bersama-sama kita ciptakan gerakan melalui produksi rotan ini,” kata Nur saat mendampingi rencana tindak lanjut pelatihan.

Pada pelatihan ini, Desa Kalumpang juga menemukan beberapa potensi lain, salah satunya pendirian sarang walet. Selain itu, untuk mendukung kedaulatan pangan nasional serta melihat minimnya ketersediaan pupuk dan obat-obatan, pertanian di Kalumpang membuka peluang desa untuk hadir menjawab persoalan tersebut. Terlebih desa Kalumpang juga memiliki bibit padi sentang yang cukup potensial untuk dikembangkan di semua pada lahan pertanian gambut. Sektor pertanian sayuran juga dinilai dapat menjadi masa depan usaha produktif masyarakat desa.

BRG dan Yayasan Penabulu memberikan fasilitas pelatihan untuk 36 desa di Region Kalimantan, dengan peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, pengelola BUMDes, BPD, dan tokoh masyarakat. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat desa-desa di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat agar mulai menyentuh kelestarian kawasan gambut.  Kawasan gambut menjadi perhatian pemerintah dari kebakaran hutan lahan dan tata pemanfaatan yang selama ini justru merusak keberlangsungan gambut. Para fasilitator pelatihan menekankan kepada peserta mengenai pentingnya perlakuan khusus lahan gambut untuk menunjang program pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakatnya. (ETG)

Desa Katimpun Ingin Wujudkan Desa Berpijar dan Miliki Moda Transportasi Terjangkau

Berada di kawasan gambut dengan wilayah sungai tak menghalangi masyarakat Desa Katimpun, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah untuk berpikir kreatif. Moda transportasi masyarakat yang selama ini memanfaatkan sumber alam sungai ditangkap secara cerdas sebagai peluang bagi pemerintah desa sebagai salah satu usaha sektor transportasi umum yang tepat guna. Peluang tersebut telah ditangkap pegiat Desa Katimpun untuk memperkuat perencanaan usaha Badan Usaha Milik Desa atau (BUMDes).

Pembahasan rencana usaha jasa angkutan umum tersebut dibarengi dengan kebutuhan transportasi masyarakat setempat yang harus terjawab dengan analisa usaha didalamnya. Selain itu strategi usaha untuk menghindari terjadinya kerugian usaha juga telah disiapkan. Perencanaan usaha ini mengemuka dalam Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi desa-desa di Kawasan Konservasi Gambut Region Kalimantan.

“Sampai saat itu belum ada transportasi reguler sehingga masyarakat statusnya sewa atau carter sehingga memang jadi mahal. Peluang ini salah satu yang kami tangkap perlu adanya transportasi reguler jalur air,” kata Perangkat Desa Katimpun Adna dalam diskusi kelompok desa di sela pelatihan.

Beberapa pegiat Desa Katimpun lainnya membenarkan sistem sewa speed boat terbilang cukup mahal untuk mobilitas masyarakat Desa Katimpun. Kondisi ini memperlambat akses warga ke kecamatan dan pasar-pasar induk. Contohnya untuk bisa berpergian ke kecamatan saja setiap warga harus menyiapkan biaya Rp150 ribu untuk sekali jalan yang ditempuh kurang dari satu jam. Desa Katimpun berencana menyiapkan boat yang beroperasi secara reguler dengan harga yang relatif lebih murah yakni Rp50 ribu per orang.

“Kalau transportasi reguler nanti bisa kami wujudkan warga akan dimudahkan dan dimurahkan. Bisa cukup membantu dan berhemat Rp100 ribu untuk sekali jalan,” ujar peserta pengurus BUMDes Katimpun.

Fasilitator Desa Katimpun dari Badan Restorasi Gambut (BRG) Mansyur Hidayatullah, menambahkan, akses desa ke kecamatan dan pasar induk selama ini menjadi jantung perekonomian rakyat yang paling menentukan, baik untuk jalur permasaran dan keluar masuk perdagangan produk-produk, akses pendidikan, dan intensitas kegiatan koordinasi desa dengan kecamatan. Mansyur mengatakan upaya mewujudkan gagasan transportasi jalur air di Desa Katimpun ini sudah menjadi pemikiran awal desa. Melalui pelatihan usaha ini perhitungan dan analisis usaha lebih ditajamkan dengan kebutuhan penyertaan modal desa Rp50 juta untuk satu alat transportasi berkapasitas angkut 30 orang.

“Melalui pelatihan ini kami juga mengkaji biaya operasional untuk melihat kemungkinan laba dan rugi. Minimal tarif dasar Rp 50 ribu per orang untuk nanti mulai beroperasi. Ini cukup membantu askses masyarakat dan desa,” jelasnya.

Ada banyak peluang usaha yang akan mulai dikerjakan Desa Katimpun sebagai bentuk layanan masyarakat selain usaha transportasi air, salah satunya optimalisasi pengelolaan listrik tenaga surya yang sudah berjalan. Dalam kesempatan tersebut, Mansyur merinci analisis program desa berpijar melalui pengelolaan jaringan listrik tenaga surya yang telah dimanfaatkan 140 rumah warga Katimpun, namun belum terkelola dengan maksimal.

Menurutnya sumber listrik tenaga surya ini masih memungkinkan untuk dioptimalkan tidak hanya untuk setiap rumah, akan tetapi menjangkau setiap kepala keluarga. Selama ini, lanjut Mansyur, warga Desa Katimpun beriuran Rp30 ribu per rumah untuk operasional dan perawatan tenaga listrik. Kebutuhan listrik belum bisa berjalan optimal dan masih terbatas jam operasional. Tidak setiap jam ada jaringan listrik yang bisa dimikmati sehingga BUMDes nanti perlu mengupayakan optimalisasi jaringan dan operasional tenaga surya.

Ia melanjutkan, BUMDes dapat hadir menjawab kebutuhan listrik baik dari sisi penambahan kapasitas daya kWH, penambahan peralatan, hingga tata pengelolaan pelanggan.

“Kebutuhan listrik ini cukup urgent untuk menunjang ekonomi keluarga di desa melalui kegiatan home industry kelompok UKMK yang ada. Banyak produksi rumah tangga dihasilkan seperti pengolahan makanan produk perikanan wilayah gambut juga produk kreatif lain masyarakat desa wilayah gambut,” katanya.

Mansyur berasumsi hasil iuran pelanggan Rp30 ribu per rumah akan terkumpul Rp4,2 juta. Analisa perincian keuangan yakni 50 persen dari Rp4,2 juta atau Rp 2,1 juta sebagai pendapatan BUMDes. Adapun 50 persen lain diperuntukkan membiayai petugas operator, perawatan atau pemeliharaan, dan membayar petugas penagih setiap bulannya.

“Perhitungan kami masih bisa jalan sesuai target optimalisasi jaringan dan menaikkan dayanya,” tambahnya seraya menyampaikan perlunya persetujuan pemerintah desa dan dukungan masyarakat Katimpun.

Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi desa-desa di Kawasan Restorasi Gambut yang berlangsung di Banjarbaru diselenggarakan pada 2-7 Oktober 2017 oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerja sama dengan Yayasan Penabulu dan Desa Lestari. Selama pelatihan, peserta dan fasilitator mulai menggali potensi desa hingga tata kelola keuangan BUMDes oleh narasumber dari Penabulu untuk keberlangsungan gambut.

Pelatihan selama sepekan itu menekankan pentingnya kesadaran untuk ikut melestarikan lahan gambut sebagai modal berjalannya pembangunan desa dan terwujudnya kesejahteraan melalui implementasi dari UU Desa. Sebelumnya, pelatihan serupa juga dilaksanakan BRG untuk Region Sumatera yang meliputi desa-desa kawasan gambut di Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan di Palembang dan Region Papua untuk desa-desa Merauke. (ETG)

BUMDes Olak-Olak Kalimantan Barat Andalkan Padi

Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut diselenggarakan Badan Restorasi Gambut (BRG). Yayasan Penabulu ditunjuk sebagai fasilitator utama pelatihan. Pelatihan tersebut berlangsung di Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2-7 Oktober 2017. Desa-desa di kawasan gambut dari tiga provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat perlu mendapat perhatian serius khususnya pada pemanfaatan lahan yang dikhawatirkan dapat merusak gambut. Untuk itulah, pelatihan juga menekankan pentingnya ada perlakuan khusus kawasan gambut untuk menunjang kehidupan lebih baik.

Memiliki luas wilayah 5.600 hektar dengan mayoritas penduduknya petani padi menjadi berkah serta kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Olak-Olak, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penemuan jenis bibit kondisi lokal menggunakan teknologi pertanian cukup mendukung produktivitas padi Olak-Olak yang kini dapat melangsungkan dua kali masa tanam dalam satu tahun. Tak heran produk padi Olak-Olak menjadi salah satu andalan mencukupi kebutuhan pangan dalam satu wilayah kecamatan.

“Kami hendak mengelola produk pertanian padi ini sebaik mungkin melalui BUMDes. Ini bentuk nyata melindungi produk hasil petani,” kata pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Olak-Olak Makhmudin saat memaparkan potensi sektor pertanian dalam diskusi Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan. 

Makhmudin memandang perlu ada prioritas kebijakan desa untuk ikut menjaga keberlangsungan produk pertanian padi di desa tertua yang masih terisolir secara geografis. Desa Olak-Olak dikelilingi sungai sebagai akses transportasi utama menjadi berkah bagi aktivitas pertanian padi yang tak sekadar mengandalkan air dari tadah hujan. Yang perlu diperkuat adalah penyuluhan yang memperkenalkan teknologi baru kepada petani, penyediaan dukungan sarana produksi tani, jaminan ketersediaan pupuk dan peptisida hama, sampai dengan tata kelola pemasaran produk beras yang mengedepankan hasil panen petani Olak-Olak terlindungi dari permainan harga pasar.

Sekretaris Desa Olak-Olak Nurul Qodriyah menangkap potensi pertanian desanya. Menurut Nurul, Pemerintah Desa Olak-Olak sengaja aktif melibatkan Gapoktan dan pengurus BUMDes dalam kegiatan pelatihan sebagai bentuk membuka partisipasi masyarakat turut terlibat merancang dan menggali jenis usaha perekonomian desa.

Nurul menambahkan Desa Olak-Olak optimis produk pertanian padi yang mengalami peningkatan cukup potensial dibidik sebagai bentuk usaha. Hasil produk pertanian padi memang menjadi jantung pertahanan pangan andalan kecamatan setempat dan tidak semua desa di Kecamatan Kubu penghasil padi seperti hasilnya Olak-Olak.

“Ada 1.031 kepala keluarga di Olak-Olak yang memang mayoritas mata pencaharian petani,” ujarnya.

Melalui pelatihan tersebut, Ketua BUMDes Olak-Olak Hendrik menyambut dukungan pemerintah desa yang menjadikan BUMDes sebagai prioritas kebijakan desa yang akan lebih diseriusi lagi, tetapi juga kesiapan menyertakan modal awal usaha untuk BUMDes. Tidak mudah bagi Hendrik turut menggagas berdirinya BUMDes Olak-Olak karena harus melakukan pendekatan personal dengan berbagai tokoh masyarakat di desanya hingga akhirnya terbentuk kepengurusan.

Selama mempelajari potensi sektor pertanian padi Olak-Olak, Hendrik menilai jenis usaha perdagangan beras yang dapat diambil sebagai usaha ke depan BUMDes yang dipimpinnya. Ia mengaku telah melakukan analisa usaha seperti permodalan, tata pemasaran, kelanjutan produk padi, hingga pola paket jual yang bisa terjangkau semua elemen masyarakat desa dan desa tetangga Olak-Olak.

“Untuk analisis modal usaha ini kira-kira diperlukan penyertaan modal desa Rp151 juta untuk pembelian beras dari petani, produksi gabah menjadi beras, operasional BUMDes, pengemasan, hingga transportasi perdagangan produk beras,” ujar Hendrik.

Hendrik mengaku memang tidak sekadar petanian padi unggulan di desanya. Hasil pertanian dari kopra, gula merah, kedelai juga menjadi pendukung sektor pertanian padi Olak-Olak. Rencananya potensi nonpadi tersebut juga menjadi target pengembangan BUMDes yang hasilnya bisa menambah pendapatan bagi desa.

Pelatihan sepekan berlangsung tidak hanya memfasilitasi desa dalam menggali potensi dan merancang jenis usaha yang akan diambil. Pelatihan juga mengenalkan tata kelola keuangan agar pengurus BUMDes dan perangkat desa semakin terampil dalam urusan tata administrasi sejalan aspek transparan dan dapat pertanggungjawabkan pengelolaan uang rakyat. Materi dasar tata administrasi keuangan dari arus kas, neraca, dan laporan rugi laba disampaikan Paul Mario Ginting sembari mengajak praktik peserta kelas mengerjakan soal sampai benar. (ETG)

Menggerakkan Pembangunan Ekonomi Masyarakat Desa dengan Ekowisata Dabong

Diskusi kelompok Desa Dabong dalam perencanaan usaha BUMDes. Ekowisata menjadi pilihan untuk dikembangkan lebih lanjut. (sumber: dokumentasi lembaga)

Banjarbaru (4/10) – Akses transportasi jalur sungai bukan menjadi hambatan memajukan perekonomian masyarakat di Desa Dabong, Kubu, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kendala tersebut justru ditempatkan para pegiat pembangunan desa di Dabong untuk memikat para pengunjung yang hendak menikmati Indonesia dari sisi lain, yang selama ini cukup dikenal sebagai salah satu negara dengan hiruk pikuk dan kemacetan seperti kerap dijumpai di kota-kota besar dalam pertumbuhan daerah provinsi. Desa Dabong hendak menyajikan sesuatu yang berbeda, yakni membangun perekonomian melalui ekowisata alam Dabong.

“Kami memiliki nilai alam Indonesia yang masih asri. Ada pantai, suasana keheningan alam desa dan didukung sektor potensi perikanan yang masih cukup kaya,” kata aktivis pertanian dan pembangunan masyarakat Zainal Anwar di Desa Dabong saat kegiatan Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-desa di Kawasan Restorasi Gambut Region Kalimantan selama satu minggu di Banjarbaru.

Zainal membeberkan potensi sumber daya alam yang ada di desa tempat tinggalnya cukup menjanjikan. Potensi tersebut dapat dipersiapkan sebagai salah satu destinasi wisata alam Indonesia yang selama ini belum banyak terpikirkan oleh masyarakat. Potensi seperti alam desa yang cenderung masih asri, desa yang memiliki pantai, pelabuhan, hutan mangrove, hasil tangkapan kepiting, kelestarian masyarakat adat percampuran kebudayaan dayak dan melayu, semuanya menjadi modal besar pokok yang bisa dipersiapkan desa yang layak dikunjungi wisatawan luar daerah.

“Tinggal mempersiapkan penataan kawasan yang lebih tergarap lagi seperti konservasi kawasan hutan mangrove. Selain itu kesiapan masyarakat setempat di desa untuk membuka tempat tinggalnya sebagai home stay bagi pengunjung yang hendak menikmati kehidupan desa di Dabong. Ini yang utama,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) turut menyumbangkan pemikiran merintis usaha wisata desa.

Pada diskusi perencanaan usaha wisata desa tersebut, setidaknya membutuhkan modal awal sekitar Rp150 juta untuk menjangkau berbagai kebutuhan persiapan awal usaha. Modal tersebut digunakan untuk perbaikan infrastruktur pendukung, pembangunan infrastruktur pendukung wisata, koordinasi dan persiapan tim operasional layanan jasa wisata, kegiatan-kegiatan kerjasama untuk promosi wisata hingga upaya konservasi hutan mangrove yang menjadi salah satu daya tarik Dabong.

Pada pelatihan ini, Desa Dabong mewakilkan peserta dari unsur pemerintah desa, Pengurus BUMDes, tokoh masyarakat, dan tenaga pendamping atau fasilitator Desa Dabong dari Badan Restorasi Gambut (BRG). Peserta dari Desa Dabong menilai ada harapan yang muncul dari Desa Dabong dengan mengelola dan melestarikan wisata kawasan gambut yang selama ini terkesan terabaikan.

Secara ekonomis pengelolaan ekowisata dapat menambah pendapatan asli desa serta pendapatan masyarakat, juga nilai perkembangan sosial. Selain itu, wisata cukup menjanjikan dapat menciptakan multi efek yang lebih luas bagi pengembangan usaha mikro yang ada di masyarakat.

Kepala Desa (Kades) Dabong Purwanto membenarkan jika desanya memiliki sumber daya alam yang cukup potensial untuk dibangun melalui sektor pariwisata desa. Hanya saja memang perlu kesiapan tim yang solid untuk mendukung impian tersebut. Menurutnya yang paling penting adalah kesiapan masyarakat Dabong sendiri untuk mematangkan berbagai perencanaannya. Pasalnya, lanjut Purwanto, masalah kebersihan dan kenyamanan desa bagi setiap pengunjung nantinya harus menjadi hal yang paling dikedepankan.

“Pariwisata merupakan bisnis jasa layanan sehingga harus dipersiapkan secara matang dari masyarakat desa sendiri. Prinsip kami di pemerintah desa sepakat sumber daya alam di Dabong ini untuk dikemas sebagai daya tarik wisatawan,” ujar Kades Dabong yang merupakan transmigran asal Purbalingga.

Menurut Purwanto, ada empat potensi lain yang dimiliki Desa Dabong selain sumber daya alam yang dilirik kalangan anak muda untuk dikemas sebagai usaha wisata desa, yaitu Tambat Labuh, Pasar Desa, serta budidaya produk perikanan dan pertanian.

Kegiatan pelatihan yang difasilitasi Pemerintah Badan Restorasi Gambut (BRG) telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Penabulu. Pelatihan untuk Region Kalimantan berlangsung selama sepekan di Banjarbaru Kalimantan Selatan, 2-7 Oktober 2017. Tidak hanya bertujuan menggali dan merintis perencanaan usaha desa guna memperkuat peran BUMDes, pelatihan juga memperkuat sistem tata kelola keuangan BUMDes. Setidaknya ada 36 desa yang menjadi peserta pelatihan untuk memperkuat desa-desa di kawasan gambut. Desa-desa tersebut adalah desa berkawasan gambut dari tiga provinsi yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. (ETG)

Kuala Sugihan, Penghasil Terasi yang Tak Tersebut

Sebagian orang menganggap sambal kurang lezat bila tidak ada terasi. Sedikit terasi yang dicampurkan dalam ulekan cabai akan menambah nikmat sepiring nasi hangat dan lauk seperti tempe dan tahu.

Kuala Sugihan merupakan salah satu tempat penghasil terasi. Namun tak banyak yang tahu jika terasi yang beredar di Palembang dan Bangka berasal dari tempat itu.

Desa Kuala Sugihan berada di ujung Sumatera Selatan bagian timur laut, berbatasan langsung dengan Pulau Bangka. Merupakan salah satu desa di Kabupaten Banyuasin, Kuala Sugihan berlimpah hasil laut. Tak heran bila nelayan adalah mata pencaharian utama penduduk yang sebagian besar adalah pendatang dari Bugis. Selain dijual, Hasil tangkapan dari laut diolah menjadi kerupuk dan terasi.

Sayangnya, kerupuk dan terasi yang dibuat oleh keluarga-keluarga nelayan itu tak pernah dikenal sebagai produk Kuala Sugihan. Kerupuk dan terasi dibeli oleh tengkulak kemudian diberi label oleh pembelinya.

Desa Kuala Sugihan menjadi satu dari 36 desa peserta Pelatihan Pengembangan BUMDes bagi Desa-Desa Kawasan Restorasi Gambut Region Sumatera yang diselenggarakan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). BRG bekerjasama dengan Yayasan Penabulu dan Desa Lestari  memfasilitasi proses pelatihan yang diselenggarakan pada 25-30 September 2017 di Hotel Emilia Palembang.

“Sepertinya hanya terasi, tetapi itulah potensi Kuala Sugihan, yang mungkin bisa jadi usaha yang dikelola BUMDes,” ujar , Dinamisator BRG Wilayah Sumatera Selatan Dede Shineba.

Sekretaris Desa Kuala Sugihan Sofyan menyatakan selain membuat produk, masyarakat desanya juga memerlukan cara mengembangkan produk supaya memiliki nilai jual tinggi.

“Selama ini kami selalu dilatih membuat produk, padahal yang kami butuhkan cara untuk mengembangkan produk bernilai jual tinggi dan cara membuka pasar. (Kuala) Sugihan tetap akan mengusahakan terasi. Nah, di sini kami jadi lebih jelas kira-kira apa yang bisa dilakukan kalau kelak punya BUM Desa,” ujarnya.

Sofyan dan salah satu tokoh masyarakat Kuala Sugihan Usman mengaku terasi dari Kuala Sugihan sudah cukup dikenal oleh pembeli-pembeli besar karena harganya yang murah dan dibeli secara curah.

“Terasi ukuran 250 gram yang dibeli dari warga kami Rp 20-25 ribu, mereka beri kemasan dan dikasih merk, dijual di pasar jadi Rp 40 ribu. Kami pikir BUM Desa harus bisa membantu menyediakan kemasan yang baik, supaya harga jual (terasi) lebih tinggi dan pendapatan masyarakat meningkat,” ucap Sofyan.

Setiap desa memiliki keunikan dan potensi yang dapat dikembangkan menjadi usaha desa meski mereka saling bertetangga. Kuala Sugihan yang berdekatan dengan Desa Gilirang pun menemukan potensi yang berbeda untuk didalami dalam perencanaan usaha. Jika Kuala Sugihan menetapkan BUMDes-nya akan memfasilitasi warga yang menjadi produsen terasi, Gilirang yang kaya dengan kelapa memilih pengolahan kopra sebagai unit usaha BUMDes. Demikian halnya dengan desa-desa lain yang secara serius melihat lebih dalam potensi desa yang unik dan bernilai jual.

Selama pelatihan, perangkat desa, tokoh masyarakat, anggota BPD, maupun pengelola BUMDes dari Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan berbaur untuk berbagi cerita, pengalaman, dan saling belajar cara mengelola BUM Desa. Menggunakan metode appreciative inquiry, para fasilitator mengajak para peserta untuk melihat hal-hal positif yang ada di desanya sebagai potensi untuk dikembangkan dan dikelola melalui BUMDes untuk kemudian menjadi penggerak ekonomi desa. (NP)

Perempuan-perempuan Mekar di Kebun Sayuran

Gubuk kecil di tengah Dusun Gading V Gunungkidul tampak lebih ramai dari biasanya. Belasan perempuan berpakaian santai tampak akrab berkumpul. Ada perempuan yang datang membawa ketel air menyiapkan minuman teh panas dan camilan. Ada yang sibuk menyiangi rumput. Ada yang memperbaiki pagar pekarangan. Ada yang wira-wiri menarik selang saluran air. Ada yang mengecek deretan pot tanaman. Itulah pemandangan sore beberapa hari yang lalu, saat Tim Desa Lestari Yayasan Penabulu bertandang ke Dusun Gading V Playen Gunungkidul. Tim bertemu dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Dusun Gading V.

“Ini kegiatan pertanian kecil-kecilan yang kami kerjakan bersama-sama. Sekedar untuk kegiatan ibu-ibu sore hari,” sambut Ketua KWT Mekar Natalia Suminem kepada Tim Desa Lestari.

Natalia memperkenalkan anggota KWT lainnya sebelum mengantar tim ke lokasi tanam untuk melihat beberapa jenis sayuran seperti berbagai cabai, bunga kol, sawi, kacang panjang, gambas, kangkung, buncis, terong, hingga beragam kubis. Tak hanya itu, dirinya juga menjelaskan teknik penanaman masing-masing tanaman, kandungan gizi, hingga manfaatnya.

“Semua yang ditanam di sini bisa dikonsumsi sebagai pangan sayuran keluarga,” kata Natalia.

Saat musim kemarau tiba seperti sekarang, tanaman sayuran mendapat perhatian lebih. Asupan air harus memadai, dan pemantauan berkala untuk memastikan tanaman bebas dari serangan hama. Maka, para anggota KWT Mekar bergiliran melakukan pemeliharaan rutin.

Pemeliharaan meliputi penyiangan rumput liar, penyiraman tanaman, pengecekan gangguan tanaman, penambahan pupuk organik, hingga pemeliharaan keamanan lokasi sekitar. Dengan begitu, perempuan-perempuan dusun ini terlihat lebih tenang, lebih siap dan lebih berdaya yang sewaktu-waktu harga pangan meroket.

Lokasi hijau yang menjadi lahan demplot pertanian sayuran ini semula termasuk lahan tidur. Pekarangan pribadi yang tidak produktif yang ternyata dapat diolah menjadi lahan hijau dan mendatangkan manfaat keuntungan bersama.

KWT Mekar ini bermula dari dua bersaudara pegiat pertanian setempat, Heru Prasetyo dan Marsudi, merintis Gerakan Perempuan Dusun Menanam Sayuran sekitar dua tahun silam. Keduanya jatuh bangun memulai gerakan menciptakan kawasan hijau ini, kemudian satu demi satu ibu-ibu dusun mulai terpikat. Terlebih, kegiatan bertanam sayuran mulai dirasakan manfaatnya mendukung ekonomi keluarga saat harga pangan di pasar sedang tidak bersahabat. Ketertarikan ibu-ibu akhirnya terwujud melalui fasilitasi dilakukan Heru, yang juga tenaga penyuluh pertanian Pemkab Gunungkidul, dan Kepala Dusun Ngadirejo, Yusuf, untuk membentuk KWT di Dusun Gading V.

Meski saat itu terbilang kelompok baru, KWT Mekar yang beranggotakan 45 perempuan mulai menunjukkan prestasi panennya. Warga dan penjual sayur keliling merasakan manfaat hasil panen. Bahkan pada 2016 lalu, KWT ini menyabet dua kejuaraan yakni juara ketiga masak sayur lombok ijo diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan juara ketiga tingkat DIY untuk cipta menu bahan pangan lokal. Dari tiga kali panen, kualitas produk sayuran mengalami peningkatan. Bahkan sampai hari ini keberadaan dan aktivitas KWT Mekar kerap menjadi tempat belajar pendidikan pertanian bagi komunitas perempuan dan PKK di Gunungkidul.

Pendamping KWT Mekar Marsudi mengatakan kesadaran masyarakat mulai muncul dengan adanya gerakan ini. Mulai dari kelompok ibu-ibu hingga pemuda turut berkontribusi untuk KWT Mekar.

Lebih lanjut, Marsudi menambahkan peluang pasar sayuran di Gunungkidul memang cukup luas. asih banyak produk pertanian sayuran harus dibergantung pasokan dari luar DIY karena ketersediaan produk lokal belum bisa menjangkau. “Yang menggembirakan masyarakat dusun kami sekarang sudah mulai tergerak  memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk tanam sayuran seperti cabai terong dan kacang,” ujar Marsudi.

Marsudi optimis usaha pertanian sayuran masih menjadi peluang terbuka luas untuk dirintis di daerah lain Gunungkidul sejalan dengan meningkatnya kecerdasan masyarakat akan konsumsi pangan yang aman dan sehat seperti sayuran. (ETG)